
"Ka ... kau .... " tenggorokan Maya terasa tercekat, dengan ubun-ubun kepala yang terasa disiram oleh air panas.
Lelaki itu berdiri tegak dengan mata tajam menghunus tatapan Maya. Namun bukan Maya namanya, jika wanita itu gentar. Wanita yang sudah ditempa dengan pahit getir neraka kehidupan, tak akan terintimidasi hanya dengan tatapan lelaki itu.
"Sejauh apapun kau menghindar, kau tetap harus menerima sedikit konsekuensi dari keinginanmu itu," ujar Nevan, dengan angkuh dan arogannya.
Keterkejutan Maya kian bertambah, ketika ia menatap sesosok wanita yang berjalan menghampiri Nevan. Dialah Jovita, menatap Maya dengan tatapan penuh ejekan. Andai saja saat ini tak ada Gavin, mungkin Maya dengan senang hati mengusir Jovita saat ini juga.
Tetapi tidak. Maya tak ingin putranya melihatnya bertingkah tak sopan terhadap tamu.
"Maaf, aku tak terima tamu malam-malam," ungkap Maya kemudian.
'Sial. Mengapa mereka menyusulku? Betapa bodohnya aku tak mengantisipasi hal ini.
"Aku datang tidak untuk menjumpai dirimu, Maya, melainkan menjumpai Ibumu," ujar Jovita pelan. Lelaki itu dengan santainya masuk, mendorong bahu Maya agar mundur. Bahkan kini, Maya tak bisa menebak apa yang akan Jovita katakan.
Dari arah ruang tengah, Fatma muncul dengan senyum merekah. Mau tak mau, ia mengernyitkan kening kala mendapati atasan putrinya itu datang, bahkan disaat mata baru tiba. Apakah Nyonya Jovita mau menjemput Maya lagi? Begitu pikirnya.
"Nyonya, silahkan duduk," ajak Fatma kemudian. Mata wanita itu nampak sembab.
"Baiklah. Tetapi maafkan aku Bu Fatma. Aku datang kemari karena sebuah tujuan," Jovita mengisyaratkan pada Nevan untuk ikut duduk bersamanya, "Ini tak akan lama. Maaf jika aku telah menganggu ketenangan keluarga kecil kalian. Tetapi ketahuilah, ada sesuatu yang ingin aku sampaikan pada anda, dan juga putra Maya."
Jantung Maya berdentum tak karuan, ketika mendengar sebuah kalimat Jovita. Dugaan demi dugaan kini berkelebat dalam benak Maya seketika. Ada banyak kemungkinan, yang Maya takutkan, dan membuat Maya ingin mengusir mantan mucikarinya itu.
Tetapi apa daya? Maya tak bisa melakukannya, entah karena apa.
__ADS_1
"Apa itu, Nyonya?" tanya Fatma penasaran, "apakah Maya melakukan kesalahan?"
Senyum kejam terbit di bibir Jovita yang terpoles lipstik merah. Wanita itu berkata, "Ambil dan lihat ini, jika andai nanti kau tak percaya kata-kataku. Putrinya, adalah seorang pelacur selama ini!" Seru wanita itu tanpa perasaan.
Maya memucat di tempatnya, dengan banyak ketakutan yang selama ini selalu ia tekan dan ia kubur. Ternyata, Jovita seberani itu dalam mengambil langkah. Andai tidak ada Gavin, mungkin Maya telah menyeret mantan majikannya itu keluar dari rumahnya.
"Ap, apa yang anda katakan, Nyonya? Anda sedang bercanda?" tanya Fatma kemudian. Maniknya menatap tajam putrinya.
Tak ada bedanya dengan Maya, Fatma juga ikutan memucat wajahnya. Bak porselen mahal, air matanya sanggup tumpah kapan saja, andai sekali saja ia mengedipkan matanya.
Jovita tak menyahut, melainkan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas bernama hijau tua miliknya. Bisa dipastikan, harga tas itu mencapai puluhan, atau mungkin ratusan juta.
"Gavin, masuklah ke kamar, Nak. Nanti Ibu akan menyusul Gavin," perintah Maya setengah berbisik pada putranya, yang duduk tak jauh darinya.
"Ambil ini, aku tak akan banyak bicara, dan simpulkan saja apa yang aku katakan, kau anggap bercanda atau tidak," ungkap Jovita, sebelum akhirnya wanita itu berlalu pergi dari sana.
Maya tak berkutik, karena memang apa yang Jovita katakan, adalah sebuah kebenaran. Untuk apa Maya menghindar? Toh ada akhirnya dirinya ketahuan juga? Cepat atau lambat, ibunya pun pasti akan tahu yang sebenarnya. Hanya saja, ada Gavin.
Ada sorot nelangsa lagi terluka yang coba Maya lemparkan pada kepergian Jovita dan Nevan. Lain halnya dengan Fatma, yang seolah ia sesak napas terbebani kabar yang berhasil mengguncang jiwanya.
Sejak dulu, Fatma adalah wanita yang menjunjung tinggi harkat, martabat dan kehormatan sebagai wanita. Mengetahui bahwa putrinya adalah wanita penghibur, membuat Fatma ingin sekali melarung raganya ke laut.
Fatma sudah tak tahan lagi.
Dengan tangan gemetar, Fatma meraih dan melihat satu persatu lembaran foto Maya. Lembaran yang mempertontonkan betapa terbukanya pakaian Maya, dengan banyak lelaki mengelilinginya. Tak hanya itu, suasana juga seperti sangat ramai, seperti yang Fatma tahu, bahwa itu adalah tempat disko.
__ADS_1
"Jadi, selama ini kau memberi makan ibu dan anakmu, dari hasil menjual diri, Maya? Katakan pada Ibu, kurangkah Ibu mendidikmu selama ini?" Setetes demi setetes sumber air pada mata Fatma, mengalir hingga deras menganak sungai.
"Bu ...." tenggorokan Maya tercekat, seolah dirinya tak sanggup mengungkap kata. Rangkaian demi rangkaian maaf, seolah hanya terhenti pada dada Maya saja. Lidah wanita itu terasa kaku, dan tak sanggup berujar.
"Ya Tuhan, Maya .... Mendiang Bapakmu pasti meraung di surga sana setiap malam. Kau tahu konsekuensi dari pekerjaanmu, Ibu dan Gavin makan makanan kotor. Astaga, kenapa kau lakukan ini, Maya? Tidak adakah jalan lain untuk mengais sesuap nasi?" Fatma masih mencecar banyak tanya dan juga tudingan buruk pada Maya.
Selama ini, Maya memang menyembunyikan pekerjaannya, dari Fatma. Yang Fatma tahu, Maya bekerja di sebuah kantor dengan gaji yang cukup besar. Lihat setelah Fatma mendapati faktanya, bahkan Fatma membenci Maya setengah mati.
"Ibu tahu selama ini Ibu dan Gavin banyak menyusahkan dirimu, menuntutmu agar mencukupi semua kebutuhan kami. Andai Ibu tahu dari awal, mungkin tak akan seperti ini jadinya. Ibu benci dengan kebohongan dirimu itu, Maya. Ibu benci!" Hardik Fatma dengan suara keras. Beruntung rumah Maya kini tak memiliki banyak tetangga.
"Maafkan Maya, Bu. Maaf," ungkap Maya dengan tangis tertahan. Hingga Gavin datang, Maya tak sanggup melanjutkan kalimatnya.
"Ibu pergi saja, Maya. Ibu akan mencari pekerjaan untuk menghidupi Gavin. Kau tidak tahu, bahwa Ibu tak akan pernah sudi menerima uang dari hasil bekerja sebagai wanita penghibur!" Hardik Fatma lagi.
Tak ada yang Maya lakukan. Anaknya itu hanya diam, dan tak berdaya akibat amukan Ibunya. Sungguh, rasanya benar-benar menyakitkan.
Sakit lagi perih Maya tahan seorang diri, mengurungnya pada sebuah sudut goa dalam hatinya. Andai boleh Maya meminta, ia akan tetap bekerja saja, asal Ibu tidak tahu tentang pekerjaannya.
Betapa jahatnya Jovita. Harusnya wanita itu tidak mengatakan dan menyimpan rapat rahasia ini dari fatma sampai kapanpun.
"Marahlah pada Maya, Bu. Maya tak akan menuntut balik Ibu. Andai ... andai saja saat itu Maya memiliki pilihan lain, Maya tak akan sudi menjalani pekerjaan kotor itu. Satu-satunya alasan adalah, Gavin. Andai bukan karena nyawa Gavin yang jadi taruhan, aku lebih suka mengemis dan mengais makanan sisa di tempat sampah. Ibu bisa mengatakan itu, karena Ibu tak merasakan, bagaimana berada pada posisi Maya. Hidup sendiri, jauh dari Ibu, dan kelaparan serta anak sakit, kurang berat apa cobaan yang Maya hadapi? Aditya sekarang kembali mengganggu hidupku. Tuntut saja dia, biang dari tragedi hidup putri ibu yang hina lagi kotor penuh lumpur dosa," ujar Maya dalam tangis gemetar.
Beginilah, bahayanya sebuah kejujuran. Efeknya, sanggup meluluh lantakkan sebuah kepercayaan, dan juga sanggup meruntuhkan asa.
**
__ADS_1