Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Atas izin dan pertimbangan


__ADS_3

"Mas, mau menu apa untuk makan malam nanti?" Suara Citra terdengar, ketika sore ini Ditya baru pulang dari dinas di rumah sakit. Wanita itu menghampiri Ditya, dan menatap suaminya yang terlihat lain sore ini, dibanding sore lainnya.


Wajah Ditya tampak letih, dengan lingkar mata yang sedikit gelap dari biasanya. Bisa dipastikan, suami Citra Lestari itu tengah kelelahan akibat sibuk beraktivitas, serta jadwal tidur yang tak teratur.


"Masak apapun, asal aku ingin sayur kuah bening, dan jangan masak goreng-gorengan," jawab Ditya kemudian. Lelaki itu lantas duduk, seraya menghidupkan televisi di ruang tengah yang terbilang luas nan megah itu.


Meski televisi menyala dengan suara pelan, hal itu cukup membuat fokus seorang dokter muda lagi berbakat itu, tertuju pada dua wajah yang menjadi dambaannya. Maya dan Gavin, sedang apa putranya dan ibu dari putranya itu? Dua hari lalu Ditya menemui mereka, dan berakhir hari ini, Ditya dilanda rindu yang begitu dahsyat.


Dua hari lalu, Ditya menemui Maya, namun berakhir dengan penolakan, lagi dan lagi penolakan. Padahal Ditya bersungguh ingin memperbaiki semua kesalahan dan dosanya. Niatnya terbilang Baik, meski Ditya tak menampik, kesalahannya terlampau fatal.


Ada banyak hal yang membuat Citra sendiri terluka, termasuk dengan perubahan suaminya yang tak lagi sehangat dulu. Meski dari awal Ditya mengatakan bahwa ia tak menyukai apalagi mencintai Citra, namun awal pernikahan selama dua tahun terakhir, Ditya tak pernah berlaku kasar padanya.


Untuk urusan seksual dan nafkah batin, Ditya memenuhi, apalagi nafkah finansial yang selama ini bergelimang. Hanya saja semenjak pertemuan dengan Maya di rumah sakit beberapa bula lalu, Ditya berubah drastis. Suaminya itu lebih berjarak, dingin, dan seringkali Citra merasa kecewa tersebab diabaikan.


"Mas, dua hari lalu, kau kemana? Menemui Maya?" tanya Citra seraya duduk tepat di sebelah Ditya.


Ditya menoleh ke samping, dengan malas. Andai saja Citra tahu, dirinya sungguh sangat letih, mungkin Citra tak akan mengangkat Maya sebagai bahan pembicaraan.


"Ya, tentu saja. Jangan memulai perdebatan lagi, Citra. Aku baru pulang dan lelah," jawab Ditya. Pria itu mendesah lirih, dengan napas yang begitu tenang.


"Lantas, kapan aku harus bicara, Mas? Kau tahu sendiri jika kau terlalu sibuk belakangan, dan juga malam hari, kau lebih memilih keluar jika tidak tidur duluan. Kau terlalu sibuk dengan urusanmu, sedang aku tak bisa menahan terlalu lama untuk tak bicara. Aku tak sedang ingin berdebat denganmu. Lagipula hanya menjawab, apa susahnya?" tanya Citra pelan.

__ADS_1


"Aku jawab, iya. Aku memang menemui Maya dua hari lalu, dengan niat ingin melamarnya. Biar bagaimana pun, ada Gavin yang perlu aku pikirkan masa depannya. Aku ayah biologisnya, yang tak seharusnya menelantarkan darah dagingku sendiri," jawab Ditya lagi.


"Jadi, putramu namanya Gavin?" Citra bertanya, dengan melempar senyum getir. Ditya tahu itu. Hanya saja, Citra tetap terlihat sedih.


"Ya. Gavin Elano Darma. Harusnya nama belakangnya tersemat nama Darmadji, hanya saja dia terlahir tanpa ayah, tanpa aku," jawab Ditya.


Meski terasa menyakitkan dan tergolong tega, namun Ditya tak ingin berbohong, menutupi semua termasuk tentang Gavin.


"Lalu bagaimana? Maya menerima?" tanya Citra lagi.


"Dia menolak, mengusirku dari hidupnya, dan menghindariku," Ditya menjawab, seraya bersandar pelan pada sandaran sofa. Mata pria itu terpejam, akibat berat yang melanda kepala belakangnya.


"Seberapa besar cintamu padanya?" tanya Citra lagi, menginterogasi suaminya, agar bicara jujur padanya.


"Jika begitu, perjuangkan cintamu, perjuangkan masa depan putramu. Aku akan mendukung. Aku sudah memikirkan semuanya selama dua malam terakhir, Mas. Aku bersedia kau cerai, andai nanti Maya menerima pinanganmu. Poin utamanya, kau boleh menceraikan aku, hanya jika Maya benar-benar bersedia menikah denganmu. Ceraikan aku, dan nikahi Maya setelah ini," ujar Citra, sudah dengan pertimbangan besar.


Setelah bisa berpikir jernih, untuk apa citra mempertahankan segumpal cinta yang begitu besar untuk Ditya, sementara hati pria itu, tak untuk dirinya? Melepaskan mungkin jalan tebaik, demi kebahagiaan banyak orang, termasuk anak kecil yang terlahir atas tetes Ditya.


Sebaris tanya serupa penasaran yang tinggi itu, berkilat kala Ditya membuka mata, mencari kebenaran dari netra istrinya yang menatapnya sendu.


Ditya tahu, harusnya mata Citra berkaca-kaca, atau menangis sejadinya. Hanya saja, Citra terlalu kuat menahan diri, tak ingin menangis di hadapan Ditya.

__ADS_1


"Kau serius? Tak sedang berbohong?" Tanya Ditya kemudian, seraya menegakkan punggung membuang letih yang bertengger pada tubuh gagahnya.


"Ya, aku tak akan membohongimu, karena kau juga telah jujur padaku. Aku tak ingin kau tertekan menjalani rumah tangga denganku. Jikapun bila nanti kau telah menemukan cintamu, itu jauh lebih baik. Terima kasih sudah bersedia jujur dan tak ingin menyakiti aku di kemudian hari. Aku salut padamu, kau lelaki sejati. Meski kejujuranmu di awal terasa sakit, tetapi di akhir nanti, akan ada senyum tulus dariku," jawab Citra panjang lebar.


"Terima kasih, Citra. Terima kasih sudah bersedia berkorban untukku, dan mengerti perasaanku," ujar Ditya, dengan senyum kecil yang terbit pada bibirnya yang berjambang tipis di atasnya.


"Ngomong-ngomong, seperti siapa rupa putramu? Siapa namanya tadi?" tanya Citra, mengurai tegang yang tadi sempat tercipta.


"Gavin, Gavin Elano Darma. Dia tampan, sepertiku. Lihat ini," kata Ditya, seraya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, dan memperlihatkan layarnya pada Citra seraya berkata, "apa bedanya wajah Gavin dengan wajahku?"


Citra menatap gawai suaminya, dengan alis berkerut, menatap tajam setiap detail wajah Gavin yang dipotret dengan jarak jauh tanpa sepengetahuan anaknya.


Gambar yang diperbesar oleh Ditya itu, tetap jelas sekali jika wajah Gavin memanglah demikian mirip dengan Ditya.


"Tak ada bedanya. Bahkan tak perlu orang pandai lagi dewasa untuk menilai, dia anakmu atau bukan. Selamat, Mas, kau rupanya telah menjadi ayah sejak lama," ujar Citra.


Tatapan Citra begitu tulus, kala berucap jika memang Gavin mirip dengan ditya.


"Terima kasih," jawab Ditya.


Hari ini, cukup membuat Ditya lega, sebab tak lagi ada perdebatan antara dirinya dengan Citra. Syukurlah, kali ini Ditya mendapat lampu hijau dari Citra, untuk dirinya mengejar Maya, dan memperjuangkan cintanya.

__ADS_1


Sebuah kepercayaan diri yang sempat goyah, kini kembali tegak.


**


__ADS_2