
Sherla dan Fatma duduk di ruang tamu, disusul Maya yang kini rupanya juga ikut duduk di sana sebab Fatma yang meminta. Tak hanya itu, Ibu Gavin itu menatap curiga pada Adik bungsu Aditya itu, atas kedatangannya di waktu senja yang baru saja pulang.
"Ada apa, Non Sherla? Apa yang membawamu datang kemari?" tanya Maya kemudian.
"Mbak Maya, Ibu, Ibuku kondisinya sedang drop dan ingin sekali bertemu dengan mbak Maya dan Gavin. Bu Fatma juga. Berkenan lah Ibu, mbak Maya dan Gavin datang ke rumah kami? Tolong, kali ini saja," pinta Sherla sembari menitikkan air mata.
Dalam diam, Maya menatap lekat seraut wajah gadis cantik di depannya ini. Sherla adalah satu-satunya orang yang tak memiliki sosial yang belok dari norma masyarakat. Gadis itu selama ini terkenal pendiam dan tak suka banyak bicara layaknya Sherly.
Hanya Sherla, yang tak pernah menghakimi orang lain selayaknya orang suci.
"Kami akan datang, selayaknya menjenguk orang sakit biasa. Hanya saja, aku tidak bisa bila harus membiarkan kalian terlalu dekat dengan keluarga kami. Menjenguk pun, hanya sekadar sebagai tetangga, tidak lebih," putus Maya kemudian, setelah ia memandang Ibu yang mengangguk padanya.
Mungkin inilah saatnya, Maya harus berdamai dengan masa lalunya. Maya tetap membenci keluarga Aditya, namun bukan berarti ia tak punya hati.
**
Mata tak tahu harus berkata apa, ketika dirinya memasuki pintu utama kediaman Darmadji. Banyak yang berubah dengan rumah ini. Beberapa ukiran rumit, nampak menghiasi dengan warna putih yang mendominasi warna temboknya.
Suara Isak tangis dua wanita, perlahan merasuki rungu Maya. Seolah ada duka dan kematian di rumah ini, tetapi tak ada satu tetangga pun yang datang untuk melayat.
"Ke kamar, Mbak Maya. Ibu ada di kamar," ucap Sherla dengan suara sengau, khas orang selesai menangis, "di sana juga ada mbak Citra dan Sherly."
"Sherly?" Maya mencicit lirih. Ingatan Maya, kembali pada masa sepuluh tahun silam. Rasanya saat itu, seorang Sherly tak akan pernah menumpahkan air mata, tak akan pernah berduka, tak akan pernah berada pada titik rendah sebuah kepedihan.
Lihat, kini waktu telah merubah segalanya. Kehidupan Maya yang mulai tertata dengan baik, telah menemukan titik cerah dengan sebuah perubahan yang lebih baik.
__ADS_1
Di tempatnya, Sherly mematung, dengan pipi dan mata yang basah akibat derai tangis tanpa henti.
"Maya," sapa Citra, yang kebetulan juga ada disana. Wanita itu bangkit, tak lagi peduli pada Sherly, "ayo duduklah disini, Ibu ingin bertemu denganmu."
"Sherla, tolong ajak Sherly keluar dulu dari sini," pinta Citra lirih, sebab Nayah ingin sekali bicara empat mata dengan Maya.
Sherla mengangguk dan membawa Sherly pergi. Keduanya lantas keluar, di susul Citra tanpa kata.
Hening menyelimuti keduanya. Antara Nayah dan Maya, mereka saling memeluk kebisuan panjang. Tak ada yang berniat memulai pembicaraan, Maya yang menunggu Nayah untuk bicara, sedang Nayah yang masih merangkai kata untuk ia sampaikan pada Maya.
"Maafkan aku, Maya. Maaf," ungkap Nayah dengan hati tulus.
Entah mengapa, jiwa iblis Maya seolah datang tanpa Maya duga. Sebuah keinginan muncul, hendak tertawa dan mencabik mulut kotor Nayah yang pernah mengatainya wanita murahan dan miskin.
Tetapi tidak, Maya masihlah memiliki hati yang benar-benar seluas samudra. Jiwa iblisnya kalah, ketika mata Maya melihat Nayah yang kini benar-benar tak berdaya diatas ranjang.
"Aku telah menuai karmanya. Oh bukan, bukan hanya aku, tetapi keluarga kami telah menuai apa yang pernah kami lakukan padamu di masa lalu. Kejahatan Ditya, kini telah dipanen oleh adiknya. Maafmu yang tulus, bisa mengurangi rasa bersalah kami terhadapmu," jawab Nayah.
Maya mengerutkan kening, merasa tak mengerti dengan apa yang ibunya Aditya katakan, "Maksudnya?"
"Sherly mengandung, kekasihnya pergi tanpa jejak. Keluarganya tak sedia mencari lelaki itu untuk bertanggung jawab. Sekarang, keluarga kami benar-benar telah tercoreng dan Sherly merasai kesakitan yang dulu pula kau rasakan. Sherly, Sherly dimaki habis-habisan oleh keluarga kekasihnya tanpa pengakuan," ujar Nayah seraya menangis.
Penyesalan di akhir kisah, memang lebih pedih dari apa yang Maya rasakan.
"Ha ha ha ha ha ha," tawa Maya menggema di dalam kamar. Meski bibir Maya berkata untuk memaafkan, tetapi hatinya puas dengan dahsyatnya, "bagaimana sakitnya? Tolong jelaskan padaku bagaimana detail rasanya. Sekalipun aku memaafkan, nyatanya Tuhan tetap adil memberikan ruh pada setiap dongeng yang di mainkan oleh alam. Aku memang sudah memaafkan, tapi semoga dengan ini, kalian bisa mengerti arti dari sebuah kata berharga. Wanita, terlalu berharga untuk dijadikan bahan permainan oleh lelaki."
__ADS_1
Nayah terisak, bukan sebab marah pada Maya yang tertawa padanya. Tetapi ia meratap, lebih kepada meresapi sakit yang Maya tanyakan.
"Maafkan kami. Itulah sebabnya kami meminta maaf. Mari kita perbaiki hubungan agar lebih baik. Keluarga Adi Darmadji berjanji, akan senantiasa meratukan menantu perempuan, dan menghormati menantu laki-laki," ungkap Nayah pilu.
Adi Darmadji masuk, dengan raut wajah tertekan. Lelaki itu benar-benar menghabiskan banyak waktunya, untuk mencari si bajingan kekasih Sherly.
"Bagaimana, mas?" tanya Nayah.
Dan keterkejutan nampak, ketika netra Adi menangkap sosok Maya di dalam kamarnya.
"Tak di temukan. Mungkin memang kita benar-benar tengah menerima hukuman alam," jawab Adi Darmadji. Lelaki itu lantas duduk di kursi dekat jendela, menatap Maya seraya berkata, "Maafkan kami, Maya. Aku selaku kepala keluarga di rumah ini, dengan rasa hormat hendak meminangmu secepatnya, untuk Aditya, putra tertua kami," sambungnya tanpa basa-basi.
"Untuk Aditya? Maaf aku tak bisa," jawab Maya cepat, "sudah berulang kali aku katakan aku tak bisa dan tak mampu melakukannya. Tolong mengerti."
"Dan kau akan membiarkan hidup dan hubungan kita semua terjalin dengan rasa sakit, hingga kau dan Aditya mati nanti? Ini bukan tentang dirimu, kesakitan mu, maupun penderitaanmu. Tetapi ini tentang Gavin, cucu kami. Berkali-kali aku mengutarakan ini, aku harap setelah ini, aku pun dan Fatma sungguh mengubur kisah lama, selepas kau menikah dengan Aditya."
Maya tercengang. Apa yang Adi katakan memang benar.
"Tetapi hatiku tak siap. Sakit karena Ditya, sampai kini masih membekas," Maya mengutarakan isi hatinya.
"Itulah sebabnya kami menginginkan kau menjadi menantu kami. Ditya akan menyembuhkan lukamu meski bekasnya tak akan hilang hingga kiamat. Apa salahnya?" tanya Adi balik mempermasalahkan keputusan Maya.
"Tak ada yang salah," Maya menatap nanar Adi dan Nayah bergantian, "aku tak lebih dari wanita mantan pelacur, yang tak memiliki martabat sama sekali."
"Persetan dengan bagaimana kelamnya kisahmu di masa lalu, Maya. Keluargaku telah tercoreng, bukan lagi bergelar keluarga terhormat dengan berjuta bobrok dimana-mana. Sherly pun telah mengandung tanpa suami, aku tak masalah bila bermenantukan dirimu, sebab Ditya sangat mencintaimu," ungkap Adi, membuat Maya tak berkutik sama sekali.
__ADS_1
"Ini bukan tentang wanita bercadar, ataupun pelacur. Tetapi ini tentang cinta," Nayah menggenggam tangan Maya, penuh dengan pengharapan yang besar.
**