
"Kita harus segera kembali ke kampung halaman kita, sekarang, Maya. Cepat berkemas dan kita harus segera tiba secepatnya di sana," ujar Fatma, ketika Maya masih terhanyut dalam tangisnya.
Kedatangan Fatma, berhasil membuat Maya mengalihkan tatapannya. Wanita itu berhenti menangis, dan mengusap kasar air matanya. Apa yang dikatakan oleh Fatma, berhasil membuat fokus Maya tersita sepenuhnya.
Bagaimana tak terkejut? Fatma bahkan. mendiamkan Maya semenjak ia tahu bahwa Maya adalah wanita penghibur. Namun, sebuah penasaran Maya muncul sebab Fatma bicara padanya secara tiba-tiba begini.
"Ibu, apa yang Ibu .... " Maya tak mampu melanjutkan tanya yang bergelayut di hatinya. Maya menarik kesimpulan, bahwa mungkin Ibunya telah mendengar apa yang Ditya katakan terhadap dirinya.
"Kita perlu pindah lagi untuk saat ini, Maya. Sebaiknya kita kembali ke kampung halaman kita," Fatma menegaskan sekali lagi, "Ayo, kemasi pakaianmu dan Gavin."
"Tidak mungkin, Bu. Pertama, kita tak mungkin di terima lagi di kampung, sebab kita dulu pergi juga karena diusir oleh masyarakat. Kedua, Gavin juga baru pindah sekolah beberapa hari. Ketiga, Maya tidak mau kembali pada kenangan yang berhasil menghancurkan Maya. Tak apa, Maya akan hadapi siapapun yang merendahkan kita," ungkap Maya, menolak dengan suara lembut.
"Tak akan ada yang berhasil mengusir kita setelah ini, Maya. Percayalah, kita bisa berpijak di tanah kita sendiri dengan kedua kaki kita, meski banyak yang menghakimi. Ibu akan pastikan, kau akan benar-benar mendapatkan keadilan, dan Keluarga Darmadji, akan mendapat penghakiman," ungkap Fatma dengan perasaan marah yang sudah di ubun-ubun, "Jangan khawatir, semua akan baik-baik saja, ibu yang akan menjamin keselamatan dan masa depan kita. Lagi pula, kita tak akan lama pindah kesana. Hanya tinggal menunggu waktu, sampai kita benar-benar telah menghukum mulut Aditya yang mengataimu pelacur," tambah Fatma.
Maya hanya bisa diam, membungkam mulutnya sebab rasa tak berdaya yang membuatnya rapuh. Mengingat tentang kejadian beberapa sesaat lalu, rasanya perih kembali membelenggu hati Maya.
Rasanya sakit, sangat sakit dan Maya tidak kuat menahan perihnya. Andai bunuh diri tidak menimbulkan dosa, mungkin Maya lebih tertarik membunuh dirinya sendiri, meninggalkan nasib buruk dan pindah ke alam lain dengan dimensi yang berbeda.
Sayangnya, ada Gavin yang saat ini Maya pikirkan. Ia tak mungkin meninggalkan anaknya. Aditya akan tertawa senang mendapatkan Gavin setelahnya, jika Maya mengakhiri hidupnya begitu saja.
__ADS_1
"Lupakan saja, Bu. Kita tak akan pernah bisa melawan keluarga Darmadji yang kaya raya lagi licik itu. Kita hanyalah keluarga dari kasta rendah ... " Maya tak lanjut berkata, sebab sang ibu menyela lebih dulu.
"Yang akan menghancurkan dan menjatuhkan secara terang-terangan keluarga mereka, Maya. Camkan itu! Jangan khawatir, aku akan menemui seseorang yang bisa menghancurkan mulut-mulut kotor lagi sialan itu, jangan tunda lagi, cepat kemasi barang-barang dan kita akan kembali ke kampung halaman, besok pagi," perintah Fatma kemudian.
Maya tak berkutik, tak mampu lagi membantah sebab takut salah. Entah mengapa, Fatma berubah lebih aneh begini. Awal mula Fatma pernah berjanji pada dirinya sendiri, bahwa ia tak akan kembali pada kampung halaman yang banyak memberi duka dan sengsara.
"Apakah, ibu baru bertemu dengan Aditya di jalan menuju pantai?" tanya Maya kemudian. Wanita itu curiga dengan perubahan Ibunya.
"Ya, dan Ibu akan buktikan ucapan Ibu, bahwa mereka akan menyesali semua perbuatan mereka setelah ini! Selama ini Ibu sudah terlalu lelah diinjak oleh mereka, Maya. Ibu sangat letih diperlakukan begini, dihina dan menerima banyak rasa sakit," jawab Fatma.
Mata Fatma berkaca-kaca. Bayangan hinaan dan hujatan keluarga Darmadji, begitu melekat dalam otaknya.
**
Di sebuah ruangan kamar penginapan perbatasan antara kita besar dan kampung halaman Maya, seorang gadis tengah bermanja-manja dengan seorang pemuda dari ibukota. Oh bukan, lebih tepatnya wanita, sebab gelar gadis sudah tak layak lagi di sematkan pada wanita itu.
Dia adalah Sherly Darmadji, adik Aditya Darmadji yang baru pulang dari bekerja, dan tak segera pulang ke rumah, melainkan pergi ke sebuah penginapan bersama kekasihnya, Mario.
Wanita itu demikian pandai mengelabui sang Ibu, Inayah, dan mengatakan bahwa dirinya sedang ada urusan bisnis hingga mengharuskannya menginap di luar kota. Bodohnya, sang ibu percaya, sebab Sherly selalu memberinya uang bulanan selepas Sherly menerima gaji.
__ADS_1
Lain hal dengan Sherla yang lebih banyak diam dan takut melakukan sesuatu yang melanggar norma agama dan masyarakat, Sherly justru berani dan sanggup berbelok arah pada jalan yang sesat.
Wanita yang dulu mengatai Maya seorang pelacur, wanita rendahan lagi tukang fitnah, nyatanya kini tengah mengobral tubuh, memberikan secara cuma-cuma kehormatannya sebagai wanita, pada lelaki yang tak mau dikenalkan pada keluarga Darmadji.
Peluh keduanya tercecer, membasahi nyaris seluruh sprei ranjang dan selimut yang menjadi saksi bisu. Bukan yang pertama, bahkan wanita itu sudah berkali-kali melakukan hal Hina seperti ini.
"Kapan kau akan datang pada orang tuaku? Aku ingin kau datang melamarku sesegera mungkin. Aku lelah jika harus menunggumu dua tahun ini," kata Sherly merajuk, ketika permainan panas mereka, baru saja usai.
"Sabarlah sebentar lagi. Aku sedang menabung banyak yang agar bisa melamar dirimu, membawamu ke ibukota dan bisa punya rumah sendiri. Sabarlah, sebentar lagi," jawab Mario, mengecup pelipis Sherly yang kini tengah bersandar pada dada pria itu.
"Kau selalu berjanji begitu. Menikah sajalah dulu, urusan rumah, kita bangun bersama. Ayah dan Ibuku pasti akan memberikan sedikit sokongan nanti. Yang penting, kita menikah dan aku tidak membohongi orang tuaku lagi seperti ini. semakin sering berbohong, membuatku tak nyaman dan semakin waspada, takut ketahuan," sahut Sherly.
Lama-lama Mario bosan juga, "setiap pertemuan jika kau selalu menekanku, aku bosan juga lama-lama," ungkap lelaki muda itu.
Sebuah kekhawatiran muncul dalam hati Sherly, takut-takut jika nanti Mario benar-benar meninggalkan dirinya sebab dirinya sendiri.
"Baiklah, aku tidak akan menekan dirimu. Aku harap, kau tidak akan membodohi aku dan berdusta. Sebab jika itu sampai terjadi, aku tak bisa menjamin keluargaku akan diam saja," Sherly memunggungi Mario tiba-tiba, dengan perasaan berkecamuk.
Sebuah petaka bermula, saat seseorang mulai bermain api di ladangnya sendiri. Bukanlah ini sebuah petaka atas karma dari keluarga Darmadji sendiri, yang telah memandang rendah pada Maya?
__ADS_1
**