Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Tragedi Berdarah.


__ADS_3

Tragedi berdarah demikian pilu menyayat hati, harus menimpa ibu Mayasari kala itu. Bagaimana tidak? Bahkan wanita itu sangat tak berdaya, ketika melihat sekelilingnya.


Warga berdatangan, sebagian membawa senter, sebagian juga membawa obor berbondong-bondong datang melihat apa yang terjadi. Tak ayal, Sherly pun ikut serta menghampiri Maya, yang sudah bersimpuh di lantai, meratapi kesialannya sebagai kaum miskin yang terhina.


"Sebait demi sebaik kata dariku, dengarkan dan buka telingamu lebar-lebar, Maya!" seru Nayah yang berhasil membuat semua orang bungkam. Tak ada yang berani menyahut, apalagi mengusik macan yang sudah terbangun itu.


"Putraku adalah Aditya Darmadji, putra kebanggaan yang kelak akan menjadi pewaris kekayaan sekaligus harapan kami. Tak mungkinlah kau mampu menggodanya dan membawanya untuk menjauh dari kami sebagai keluarganya. Yang ada, kau pasti memfitnah putraku dengan tujuan, agar kau bisa menikmati secuil harta keluarga kami. Sepicik itukah kau menggoda putraku? Jangan harap. Aku tak akan Sudi lagi ridho, bermenantukan wanita sampah hamil di luar nikah, tanpa jelas siapa yang menghamilimu. Sekarang katakan, siapa yang sudah menghamilimu, hingga kau menuduh putraku yang berharga?" Suara penuh murka Inayah, kembali terdengar.


Apalah daya seorang Mayasari Arsyad yang hanya anak kecil belaka? Anak kemarin sore itu hanya bisa bungkam tanpa daya keberanian.


Usia sembilan belas tahun, nyatanya tak mampu membuatnya berani melawan kedzaliman kala itu. Tangis penuh sesal Maya, tak sudah-sudah hingga membuat Maya tak sanggup memberi jawaban.


Wanita itu cenderung bungkam, merasakan lidahnya kelu dan tenggorokan tercekat. Saliva yang semula lancar keluar masuk di tenggorokan Maya, kini seolah membatu, dan sulit untuk ditelan. Rasanya pahit dan Maya tak sanggup bertahan lebih lama.


Hingga cukup lama Maya tak kunjung menjawab, tentunya hal itu cukuplah membuat geram Inayah, murkanya kian menjadi. Dari arah kejauhan, Ibu Maya, Fatma datang.


Wanita itu diseret paksa oleh orang-orang suruhan Nayah dan Sherly. Sengaja, malam ini Nayah tak ingin dipermalukan oleh Maya dengan kabar mengenai putranya. Biar bagaimana pun juga, nama Aditya harus tetap berkilau diantara banyaknya pemuda di kampungnya.


'Maka satu-satunya cara adalah, aku harus balik mempermalukan Maya demi bersihkan nama Aditya.'


Angkuhnya Nayah tanpa hati.


Harusnya Nayah memikirkan bagaimana perasaan Maya sebagai sesama wanita.


Harusnya Nayah memiliki hati nurani sebagai seorang ibu.


Harusnya Nayah berpikir tentang risiko hukum tabur tuai, karena ia memiliki anak perempuan.


Sayangnya, kesombongan, arogansi dan keangkuhan Nayah, membuatnya mengesampingkan hati nuraninya. Perlakuan tak manusiawi itu, harusnya tidak dilakukan oleh wanita terhormat sepertinya.

__ADS_1


"Maya, apa, apa yang tejadi, nak?" tanya Fatma dengan suara gemetar karena tangis.


"Anakmu mengaku mengandung anak Aditya. Aku tak Sudi dan manalah mungkin Ditya bernafsu dengan anakmu yang kotor dan dekil itu? Bawa pulang anakmu, dan berhenti mencari Aditya, karena Aditya, sudah aku kirim ke ibukota untuk meraih gelar dokter disana!" Seru Inayah pada Fatma dengan angkuhnya.


Ibu mana yang kuat hati?


Fatma mematung dengan wajah pucat, berharap bahwa ini bukanlah candaan. Tetapi sayangnya, banyak orang yang mengerubungi dirinya, cukup menjadi bukti, bahwa ini adalah sebuah kebenaran sejati, bukan sebuah candaan tanpa bukti.


Dasar pelacur.


Dasar anak tak tahu diri.


Dasar anak pak Arsyad yang dekil itu, terlalu tinggi lah dia bermimpi.


Dasar murah. Murah kali ya, mungkin lebih murah dari ikan asin yang biasa kita makan.


Demikianlah hujatan itu, terus terngiang ditelinga Fatma dan Maya.


Maya adalah gadis yang tumbuh dibawah asuhan Fatma. Didikan yang keras akan sopan santun dan tata Krama, tidak serta merta membuat Maya tumbuh menjadi wanita pembohong apalagi penipu ulung.


"Iya, Bu. Dua bulan lalu, Mas Ditya ...." belum sempat Maya melanjutkan kalimatnya, Sherly sudah lebih dulu menyela.


"Cuih, mas? Jijik aku mendengar nama panggilanmu untuk kakakku. Sudahlah Bu, lebih baik buang saja dan usir wanita ini dari kampung ini cepat-cepat. Jika tidak, kampung Kita akan terkena kesialan tujuh turunan!" Seru Sherly dengan congkaknya. Rambut berwarna pirang yang Sherly miliki, membuat banyak pemuda kampung, sering kali menjadikan Sherly sebagai objek fantasi liar mereka.


"Tunggu apa lagi? Usir Fatma dan putrinya ini dari kampung ini. Bawa semua pakaian dan barang-barang mereka agar ikut serta. Jangan biarkan ada yang tertinggal satupun agar kampung kita tidak kena sial!" perintah Inayah pada semua lelaki kampung sana, yang mayoritas bekerja pada dirinya.


Dari lantai dua, Adi Darmadji menatap kedua wanita yang hancur perasaannya itu, dengan tatapan nanar. Ada keinginan untuk membela, sayangnya Adi tak mampu. Lelaki itu terlalu takut pada istrinya yang arogan itu.


"Tuan Adi?" gumam Fatma, ketika netranya mendapati Adi berdiri dengan raut wajah datar, di lantai atas.

__ADS_1


Ayo, bawa Maya keliling kampung sebelum mengusirnya.


Dasar tak tahu malu. Terlahir hanya untuk mendatangkan aib di kampung kita.


Tidak ada pantasnya menjadi anak Bu Fatma yang baik.


Murah itu bukan karena keturunan, Bu Fatma orang baik, dan Maya yang gatal pada lelaki.


Dasar bodoh! Tega-teganya dia menuduh Tuan muda Ditya menghamilinya.


Suara-suara itu datang layaknya dengungan lebah di atas telinga Maya. Semua warga sudah nyaris menarik Maya dan Fatma, ketika Fatma melepaskan diri hanya dengan satu hentakan tangan.


Entah dari mana kekuatan itu datang, Fatma murka karena putrinya telah diperlakukan tak adil disini.


"Aku akan pergi, aku akan pergi membawa anakku. Tak perlu kalian mengusir kami berdua dari sini. Nyatanya, kebaikanku tak bisa kalian kenang dan lihat, hanya karena tragedi hari ini. Aku bersumpah, apa yang menimpa anakku, akan menimpa salah satu dari kalian, camkan itu!" Fatma lupa diri.


Naya yang semakin geram, menarik dan mendorong Fatma hingga Fatma tergelincir. Fatma jatuh berguling hingga salah satu kakinya terkena bambu runcing, yang hendak digunakan untuk orang-orangan sawah.


Darah kental berwarna merah kehitaman itu, terus mengucur deras, seiring dengan jerit Maya yang lantang di halaman kediaman Darmadji.


"Ibu, ibu. Maafkan Maya, Bu. Maya yang sudah menyebabkan ibu begini," Maya menangis tersedu, dan segera menghampiri ibunya meski ia harus berontak lebih dulu.


"Aku bersumpah, Inayah. Aku bersumpah, kau akan menyesali hari ini. Bukan tanganku, tetapi tangan tuhan yang akan membalasnya nanti. Lihat saja, kau akan meminta kematianmu, jika kau tahu siapa Maya yang sebenarnya!" Seru Fatma dengan suara lirih.


Maya segera merangkul dan membawa ibunya pergi, membawa banyak barisan luka yang baru saja tercipta oleh ibu Ditya. Lelaki yang menjadi ayah dari bayinya itu, Maya berjanji akan membunuhnya, jika takdir berbaik hati mempertemukan dirinya dan Aditya lagi.


Sajak kenangan itu, membuat Maya kembali tersadar dan menarik diri dari nostalgia lukanya, bahwa itu terjadi sembilan tahun silam.


"Sejahat itu keluargaku?" Cicitan lirih Aditya, tak juga mampu menghentikan aliran sungai air mata Maya, sepanjang cerita sebenarnya dari Maya.

__ADS_1


**


__ADS_2