Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Merasa Tak terima


__ADS_3

Apa yang harus Maya katakan, bila Ditya datang secara tiba-tiba begini? Ada Reno juga yang dibuat bertanya-tanya tentang siapa sosok tinggi menjulang dengan tubuh super tegap itu, yang tengah menghampiri Maya.


Tetapi sekali lihat, Reno bisa menyimpulkan bahwa lelaki itu adalah ayah Gavin. Dari pembawaan dan juga gesture wajah dan badan, lelaki itu sangat mirip dengan Gavin. Reno memilih diam, dan memasang ancang-ancang bila nanti Ditya melakukan hal yang membuat Maya tersakiti.


"Mau kemana, Maya?" tanya Ditya lagi, dan Maya enggan menyahut, andai Ditya tak kembali bertanya.


"Maaf, anggap saja kita tak saling mengenal. Aku hanya tidak mau memiliki urusan apapun lagi denganmu. Kuharap kau mengerti," ungkap Maya kemudian.


"Maya .... " Ditya tak mau kalah, lelaki itu lantas mencengkeram lengan Maya, dengan erat.


Meski begitu, Maya tak berniat menepis sama sekali. Hanya tatapan tajam yang ia layangkan pada Ditya. Reno yang berniat hendak menolong saja, dihalangi oleh Maya.


"Jangan menyentuh wanita secara sembarangan, Dokter Aditya. Apa sebelumnya kau sudah memperkirakan sebelumnya, andai istrimu tahu, kau sudah menyakiti seonggok hati yang tak bersalah," ujar Maya tenang, meski tatapan matanya demikian tajam menatap Ditya.


"Apa yang kau katakan, Maya?" tanya Ditya, tak juga melepas cengkraman tangannya.


"Kurasa Dokter Aditya tidak sedang mengalami tuli, ataupun buta. Lepaskan tanganku, aku tak akan membiarkan siapapun bisa menyentuhku lagi seenaknya!" tegas Maya kemudian.


"Bagaimana bila aku tetap ingin menyentuhmu?" tanya Ditya, masih dengan tatap tajam penuh murka.


"Hei, bung, kurasa kau salah memilih lawan. Jika kau jantan, hadapi aku, jangan seorang wanita begini. Menjijikkan!" Seru Reno tiba-tiba, menatap Ditya penuh tantangan.


Refleks Ditya melepas cengkeraman tangannya. Maya pun mundur, menghampiri Gavin yang tetap tenang, seolah tak terjadi apapun di sekitarnya. Anak itu masih menatap santai dua lelaki dewasa di depannya, yang tengah berseteru.


"Aku tak ada urusan apapun denganmu. Jangan ikut campur urusan orang jika kau merasa terhormat!"tegas Ditya kemudian.

__ADS_1


"Aku tak merasa terhormat, aku juga bukan lelaki suci tanpa noda. Hanya saja, aku tak akan biarkan wanita manapun menerima perlakuan begini. Bukan hanya pada Maya, tetapi jika ada wanita yang diintimidasi oleh pria sepertimu, aku tetap tak akan biarkan itu terjadi," jawab Reno, menantang penuh pada Ditya.


"Oh, jadi begini caramu bertobat, memperbaiki diri, dan keluar dari jerat dunia malam, Maya?" tanya Ditya menatap tajam Maya, "dengan cara menjerat lelaki lain dengan dalih cinta, sebelum kau menghabiskan uangnya?" sambung Ditya tanpa perasaan.


Sejatinya lelaki itu tengah merasakan cemburu luar biasa, pada lelaki yang tengah membela Maya habis-habisan. Lelaki itu bahkan kehilangan kontrol dirinya, akibat terlalu terbakar api cemburu yang menghanguskan.


Cinta Aditya tumbuh begitu mengerikan. Semakin hari sulit terkontrol dan Ditya tak menyadari hal ini. Pertemuan demi pertemuan, perubahan Maya yang semakin terlihat dewasa dan memiliki pembawaan anggun, bahkan pesona Citra kalah jauh dari Maya di mata Ditya. Ini bahaya.


"Apa maksudmu, Dokter Aditya? Jangan membuat ulah dan jangan pernah menciptakan perkara yang tak penting." sahut Maya yang merasa Ditya akan mengacaukan suasana hatinya.


"Kau pensiun dari dunia malam, tetapi di luar kau menjual dirimu pada lelaki lain dengan dalih terjerat cinta. Dasar pelacur!" Seru Ditya tanpa perasaan.


Baru kali ini Maya merasa tertampar, dengan kenyataan yang sesungguhnya.


Baru kali ini Maya merasa tersadar, betapa Ditya merendahkan dirinya yang telah melahirkan anak lelaki itu.


Maya bungkam, menatap Ditya dengan tatap nelangsa penuh lara. Ada sejawat kecewa yang menari di pelupuk netra wanita muda itu. Jika marah masih bisa di redam dengan memaafkan, lalu bagaimana dengan kecewa yang tak berkesudahan?


"Ya, aku memang pelacur. Tetapi aku melacur demi membesarkan anak yang aku lahirkan, Aditya Darmadji! Andai, andai kau tidak meninggalkan aku dalam kondisi hamil anakmu, mana lah sudi aku menjual diri. Terima kasih sudah mengingatkan aku akan siapa diriku, aku sadar, aku tak pantas mendapatkan cinta dari lelaki manapun, karena dirimu," ucap Maya dengan tenang, meski tangisnya telah berderai.


Wanita itu lantas pergi, meninggalkan Ditya yang menyesali perkataannya, juga Reno yang syok akan kenyataan fakta yang baru saja didengarnya. Wanita itu pergi dengan langkah gesit setengah menarik putranya untuk pulang. Layaknya binatang yang terluka, Maya menyeret langkahnya dengan tangis.


Tak perduli banyak pasang mata tetangga Maya yang menatapnya, Maya tetap melangkah cepat demi bisa segera tiba di rumah.


Begitu pula dengan Gavin yang tak kalah merana, dengan banyak hinaan yang diterima oleh Ibunya. Bahkan ayahnya sendiri pun, tetap menghakimi Maya. Anak itu bukan tak tahu apa arti kata pelacur yang disematkan pada Ibunya. Gavin tahu, sebab pernah mendengar percakapan Maya dan Fatma beberapa saat lalu.

__ADS_1


Fatma yang mendapati Maya buru-buru ke masuk ke kamar dengan mata dan pipi yang basah, bertanya-tanya tanpa berani menyapa Maya. Wanita itu hanya mencegah Gavin, bertanya tanpa kata pada bocah lelaki itu.


"Apa yang terjadi, Gavin?" tanya Fatma pada Gavin.


"Ayah Gavin datang, Nenek. Ayah sudah marah pada Ibu, dan Ibu dikatai pelacur," jawab Gavin sambil terus berlalu menyusul Maya ke dalam kamar yang Maya tempati.


Fatma tentu syok dengan apa yang baru saja ia dengar. Jadi, Ditya sudah melakukan hal yang diluar batasannya?


"Gavin, tunggu!" seru Fatma, membuat Gavin menghentikan langkahnya.


"Sekarang katakan pada Nenek, dimana Ayah Gavin?" tanya Fatma kemudian.


"Di jalan menuju pantai, Nek. Om Reno membela Ibu dan mereka mungkin sekarang masih bertengkar," jawab Gavin.


Fatma mengangguk dan berlalu keluar dari rumah tanpa kata. Wanita itu meninggalkan Gavin yang terluka perasaanya.


Di dalam kamar, Maya menangis sejadi-jadinya, dengan menelungkupkan wajahnya diatas bantal. Wanita itu terisak, dengan napas tertahan hingga wajahnya nyaris membiru.


Jangan tanya bagaimana sakitnya. Bahkan Maya sanggup bertaruh, jika sakitnya jauh lebih mengerikan bila dibandingkan dengan sakitnya melahirkan Gavin. Mungkin sebentar lagi, Maya akan berubah menjadi gila, akibat psikisnya terlalu tertekan.


Tak ada lagi harapan, tak ada lagi kebahagiaan tak ada lagi cinta di masa depan. Semua itu terasa kian tabu dan seolah menjauh dari hidup Maya. Andai ada satu orang yang bisa Maya percaya, dia hanya Ibu, dan Gavin.


Awal kedatangan Aditya, dia meminta Maya kembali, dan datang dengan niat meminang Maya. Lantas, apa jadinya nanti, jika Maya menjadi istrinya?


Maya hanya akan jadi bahan hinaan Ditya, dan objek olok-olok keluarga Ditya yang tirani itu.

__ADS_1


Ditya, lelaki itu benar-benar tak terima hingga berujung lupa diri.


**


__ADS_2