Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Ibu sangat mencintainya.


__ADS_3

Malam telah larut, bahkan nyaris memasuki waktu dini hari, ketika pemilik mata tajam itu tiba di kediamannya. Sengaja Aditya memilih untuk tak segera pulang, selepas pertengkarannya dengan Maya.


Aditya merana, terbakar api cemburu buta hingga melupakan logika dan tak ada akal yang tersisa. Cemburu buta sebab Maya membersamai lelaki lain dalam perjalan menuju pantai, membuat Aditya kehilangan arah dan lepas kendali.


Apa yang sudah ia katakan? Ia dengan tega menghujat Maya, memanggilnya dengan sebutan pelacur. Ditya baru menyadari ketika Maya telah pergi, bahwa ia bersalah atas perbuatannya.


Sayangnya, ketika Ditya segera menyusul Maya ke rumah Maya, Fatma mengusirnya. Mungkin ini karma, yang dulu pernah dialami Maya sewaktu meminta pertanggungjawaban dirinya kala Maya mengandung. Bukankah saat itu Maya tengah mengandung?


"Mas, sudah pulang? Kenapa kau tampak lusuh sekali?" tanya Citra yang menyambutnya.


Dan ketika Citra melirik isi mobil suaminya, semua barang-barang yang Ditya bawa dari rumah, masih utuh di tempatnya semula.


"Ada apa ini? Kenapa semuanya utuh?" tanya Citra.


"Diamlah, Citra. Aku sedang tak ingin di ganggu!" seru Ditya dengan udara dingin.


Citra membeku di tempatnya. Dirinya merasa bahwa ada yang tak beres dari perjalanan suaminya hari ini.


**


Waktu telah nyaris memasuki pagi, ketika Maya masih saja tak mampu terlelap. Kesendirian Maya, membuatnya tak mampu untuk mengalihkan pikirannya.


Tutur kejam yang Aditya layangkan padanya, adalah sebuah kenyataan. Harusnya Maya tak merasa sesakit ini. Tetapi entah, panggilan pelacur yang Ditya sematkan untuknya, berhasil membuat Maya seolah kembali pada masa lalu yang penuh kegelapan.


Kau pensiun dari dunia malam, tetapi di luar kau menjual dirimu pada lelaki lain dengan dalih terjerat cinta. Dasar pelacur!


Dasar pelacur!


Dasar pelacur!


Dasar pelacur!

__ADS_1


Kalimat itu terus terngiang di kepala Maya. Andai tak ada Gavin Elano Darma, mungkin Maya akan kembali saja ke dunia malam. Hanya saja, akan jadi apa putranya di masa depan, jika Maya terus mencekoki putranya dengan uang haram hasil melacur, menjual diri dan ****** sebagai sebutannya.


Segumpal penyesalan kembali menghantam kesadaran Maya. Jika sudah begini, Maya hanya bisa menangis terseguk, bertemankan kebisuan malam dalam terangnya rembulan.


Satu-satunya yang menjadi alasan Maya untuk tetap kuat hingga saat ini adalah, Gavin. Gavin adalah segalanya bagi Maya. Gavin adalah satu-satunya kenangan yang tersisa dari sosok lelaki yang telah mampu membuat Maya jatuh cinta.


Sedang Aditya Darmadji, lelaki itu tak lebih dari sekadar lelaki berkelakuan sampah, dan bermulut kotor. Lelaki yang Maya cintai, telah lama mati. Anggap saja begitu.


"Ibu," Gavin tiba-tiba terbangun, bergumam lirih serta mengucek mata. Maya yang tersadar, segera menghapus air matanya secara spontan, tak ingin diketahui sang anak, bahwa ia telah menangis.


"Ya, sayang. Kau bangun? Ada apa? Gavin haus?" tanya Maya kemudian.


Seraut wajah polos dengan kadar ketampanan tinggi, menatap Maya sendu. Mata bocah lelaki itu masih mengantuk, mengedar ke seluruh ruangan yang terasa asing baginya.


"Tidak, Bu. Gavin tidak haus. Gavin hanya ingin bangun. Mata Ibu bengkak, Ibu pasti menangis lagi," jawab Gavin. Bocah lelaki itu, memiliki ikatan batin yang begitu kuat terhadap Maya. Maklum saja, keduanya adalah sepasang ibu dan anak.


"Jangan menangis lagi, Bu. Gavin sudah tidak pernah bertanya tentang Ayah pada Ibu," tambah Gavin. Putra semata wayang Maya itu menatap sendu sang Ibu, mengulurkan tangan untuk menghapus jejak basah pada pipi wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


Pecah sudah tangis Maya. Tangis yang sejak tadi di sembunyikan, kini harus kembali menganak sungai. Barisan luka lama dan luka baru, semua seolah berjajar membentuk sebuah ranjau penghancur.


Maya, tak lagi memiliki pertahanan.


"Maaf, karena Ibu, kau harus mendengar ucapan kasar dan sebutan rendahan, nak. Ibu tak bisa menjadi Ibu yang baik untukmu. Maaf, sejauh ini Ibu tidak mampu menjadi Ibu yang membahagiakanmu," ujar Maya, seraya menarik Gavin ke dalam pelukannya.


Dosa yang menggunung, semua bermula dari kesalahan Maya yang fatal, bersedia menjadi pemuas lelaki yang bernama Aditya Darmadji.


Sumpah demi Tuhan, Aditya. Aku tak akan pernah bisa melupakan hari ini. Aku tak akan pernah melupakan sebutanmu terhadapku. Aku benar-benar telah terluka Karenamu, Ditya. Aku membencimu. Aku membencimu ....


Batin Maya berteriak lantang.


Hingga suara gerimis mulai terdengar. Maya tidak lagi peduli dimana Ibunya berada. Hatinya yang terlampau tergores, membuatnya tak mampu memikirkan hal lain selain Gavin dan perasaannya sendiri.

__ADS_1


Dinginnya embun di penghujung malam yang nyaris medatangkan pagi, membuat rengkuhan Maya pada anak lelakinya, semakin erat. Ia tak tahu lagi bila seandainya putrinya masih hidup, pastilah akan sama berdukanya seperti Gavin.


Bayangkan saja, dua hati akan sama terlukanya.


"Ibu yang terbaik untukku. Jangan sedih dan jangan pikirkan apapun lagi. Mari istirahat dan Ibu harus segera tidur. Semoga saja, Ayah tidak menemukan kita di tempat baru kita," ujar Gavin dengan polosnya.


Gavin hanya belum tahu, bahwa kampung ini, adalah kampung yang sama dengan tempat kelahiran Ayah Gavin.


"Rumah lama Ayahmu, di desa ini. Lupakan Ayah. Jangan bahas dia lagi. Jika suatu saat kita bertemu dengannya lagi, dengan keluarganya, jangan pernah menganggap mereka yang berkaitan dengan Ayah, sebagai orang-orang terdekat kita. Ibu membawamu kembali ke tempat ini, untuk menghadapi apapun. Gavin, berjanjilah untuk tidak dekat dengan siapapun tanpa izin Ibu," kata Maya menasihati putranya.


"Ya, Gavin berjanji pada Ibu," jawab putra Maya, seiring dengan guyuran hujan yang kian deras. Setiap titik air hujan, seolah menggambarkan air mata Maya.


Banyak rentetan peristiwa yang membuat Maya harus kehilangan beberapa kilo dari bobot tubuhnya, dalam beberapa pekan ini. Andai saja tak ada Ditya yang kembali mengacau hidup Maya, Maya tak akan seperti ini.


Pelukan ibu dan anak itu, tak juga lepas, menggambarkan betapa rapuhnya hati keduanya. Pelukan untuk saling menguatkan, nyatanya tidak akan pernah bisa lepas sekalipun badai mengguncang.


"Bu, nenek di mana?" tanya Gavin kemudian, ketika ia teringat, ia tak melihat Fatma sama sekali.


"Sedang keluar, ada urusan sebentar. Mungkin sebentar lagi nenek akan datang," jawab Maya tenang.


Sejujurnya, Maya sendiri baru ingat, dan khawatir dengan Ibunya. Masa lalu yang buruk, membuat Ibunya bisa saja celaka di kampung ini.


Baru saja Gavin hendak melontarkan tanya kembali, suara derap langkah mendekat, menampakkan sosok Fatma yang kebasahan di bawah guyuran hujan. Segera saja Maya keluar, menatap ibunya dengan tatapan terkejut tentunya.


"Ibu, apa yang ibu lakukan bersamanya?" tanya Maya, menatap sesosok tubuh tegap nan gagah, yang berdiri di belakang Ibunya.


Adi Darmadji, berdiri mengantar Fatma, melangkah membelah remang-remang kala pagi telah bersambut. Adi dan Fatma, sama basahnya di bawah air langit yang tengah turun.


"Ibu sangat mencintainya hingga kini, Maya," jawab Fatma dengan hati yang begitu mantap.


**

__ADS_1


__ADS_2