Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Semakin merasa bersalah


__ADS_3

Dengan perasaan tak menentu, Aditya turun dari mobil seorang diri, tepat di halaman luas kediaman orang tuanya. Daun-daun jatuh berguguran pagi ini, seiring dengan sinar matahari pagi yang mulai nampak di ujung timur.


Suasana rumah memang sepi, tetapi ada dua pekerja orang tua Aditya yang juga tinggal disana, berlari tergopoh dengan menghampiri Aditya untuk menyambutnya. Mereka dua lelaki yang sangat ramah dan juga baik hati. Terkadang, kebanyakan orang yang terlihat tak memiliki banyak harta, nyatanya kaya akan adab. Itulah yang terlihat meski tidak semuanya.


"Den Ditya? Pulang sendiri? Non Citra mana?" tanya Mang Tono yang mengekor di belakang Mang Jaiz.


"Saya datang sendiri, Mang. Ibu dan adik-adik, sudah bangun?" tanya Ditya kemudian.


"Sudah kalau Ibu, Den. Tetapi kalau non Sherly dan non Shella, belum sepertinya. Mari masuk, den," lelaki yang bernama Mang Jaiz itu, mempersilahkan Ditya masuk.


Langkah Ditya lebar memasuki rumah orang tuanya. Tatapan mata pria itu, tajam terarah ke depan. Ada kilat kecewa yang coba Ditya sembunyikan, tetapi tentunya itu tak berhasil.


"Ditya, Kau pulang? Mana menantuku?" Adi Darmadji muncul dari arah halaman belakang, terkejut begitu mendapati Aditya, putranya datang seorang diri. Begitu juga dengan Inayah, sang istri yang mengekor di belakang Adi.


"Citra ada di rumah, Yah. Ayah dan Ibu apa kabar, sehat?" Aditya menghampiri orang tuanya dengan raut wajah datar, tanpa senyuman, dan juga tanpa gurat bahagia.


"Sehat. Mengapa Citra tak ikut pulang? Apakah kalian ada masalah, sampai kau pulang seorang diri? Tidak biasanya kau begini," Naya bertanya dengan mencecar putranya itu." Ibu bilang sebelumnya, bahwa ibu tak suka jika kalian bertengkar, kau pulang sendirian."


Aditya tak segera menjawab, melainkan menyalimi kedua orang tuanya dengan takzim. Lelaki tampan nan gagah itu, meski dulu pernah liar tak terkendali, namun nyatanya sekarang jauh lebih baik dan bersikap sopan.


"Ditya tak sedang bertengkar dengan Citra, Bu. Ditya pulang untuk menanyakan sesuatu pada ayah dan Ibu," ungkap Ditya. Lelaki itu lantas mengikuti kedua orang tuanya, untuk duduk di sofa ruang tengah.


"Kamu ada perlu tanya apa? Apa ada masalah?" tanya Adi kemudian.

__ADS_1


Sepenggal kisah masa lalu menyakitkan yang dialami oleh Maya akibat dirinya, Aditya kembali mengingat perkataan ibu dari anaknya itu. Sayangnya, hingga kini Aditya belum juga mengetahui bagaimana dan dimana anaknya yang telah Maya lahirkan.


"Ibu dan ayah masih ingat dengan Maya? Maya yang tinggal di rumah bawah pohon mangga besar di seberang sungai, perbatasan ujung desa?" tanya Ditya, menatap tajam secara bergantian pada kedua orang tuanya.


"Ya, Mayasari itu? Ibu sempat mendengar kabarnya beberapa bulan terakhir, katanya dia melacur di kota besar. Ada apa? Kenapa kamu jadi bahas dia?" tanya Inayah dengan nada ketus penuh ejekan.


"Iya, lagi pula kenapa harus bahas dia? Dia itu hanya satu dari sekian banyak gadis desa ini, yang tergila-gila padamu. Yang Ayah tak suka, dia pernah mengemis datang kemari, untuk meminta dinikahkan denganmu," ungkap Adi dengan angkuhnya.


"Mengapa harus mengusir Maya, Ayah? Kenapa harus membuatnya diusir dari kampung ini? Ayah dan ibu tega melakukannya, bahkan pada gadis tak berdaya dan tak memiliki kekuatan apa-apa itu. Apa yang salah dari Maya?" tanya Ditya dengan kalimat penuh tekanan.


Baik Inayah maupun Adi saling pandang, menatap tak percaya pada putra mereka itu. Entah bagaimana caranya, Adi sedikit tak nyaman dan merasa terganggu akibat perkataan putra sulung mereka.


"Kau ini kenapa, Ditya? Kenapa datang tiba-tiba dengan membahas pelacur itu?" Inayah melempar tanya, dengan raut wajah tak suka.


Dua gadis yang kini baru keluar dari kamarnya, tak berani mendekat, ketika melihat kakak mereka berani berkata dengan nada tinggi pada orang tua mereka. Bila sudah marah, Ditya lebih baik tak didekati demi kebaikan.


Aditya sendiri menatap nyalang pada kedua orang tuanya yang syok dan mematung di tempatnya. Ada sorot tak percaya yang Ditya lihat dari mata mereka.


Napas Ditya memburu, sebagai bentuk ekspresi bahwa Ditya marah saat ini.


"Apa yang kau katakan saat ini, Aditya? Kau bercanda? Hal seperti itu jangan dibuat bahan candaan Ditya, itu tak lucu," ucap Naya yang sudah mulai gemetar. Ia takut, apa yang dikatakan putranya menjadi kenyataan.


Semoga saja, itu tak benar adanya.

__ADS_1


Batin Naya.


"Katakan dan ceritakan pada Ditya, Bu. Apa yang Maya katakan pada ibu dan adik-adik, ketika Maya datang kemari mencari Ditya?" Aditya menatap tajam ibunya, mencari tahu adanya kejujuran ibunya.


"Dia, dia datang dan mengaku bahwa kau telah menidurinya. Tentu saja ibu tak percaya dan menyuruh tetangga-tetangga sini mengusirnya. Sungguh, ibu tidak percaya dengan semua ucapannya. Lagipula saat itu, kalian masih sama-sama sangat muda," jawab Naya dengan penuh sesal.


"Benarkah dia saat itu sedang mengandung?" tanya Adi datar, seolah pembicaraan mereka saat ini, adalah pembicaraan yang membahas tentang perubahan cuaca musim panas.


"Ya. Dan saat ini dia berada di ibukota, dan Citra, Citra sudah tahu semuanya," jawaban Ditya sambil membuang muka.


Melihat kedua orang tuanya, seolah kembali membuat Ditya mengingat-ingat kejadian terakhir kali Maya memaki dirinya.


"Kenapa kalian tega mengusir Maya dan menghasut orang-orang kampung? Maya sedang kesulitan saat itu. Bayangkan saja bagaimana malunya seorang ibu yang melahirkan Maya? Ibu juga seorang wanita, bukan? Mengapa ibu kejam pada Maya, hanya karena Maya miskin dan minim pendidikan?" kembali Ditya melempar tatapan tajamnya pada Ibu dan ayahnya.


"Ditya, hentikan. Ibu dan Ayah tidak tahu saat itu, jika dia hamil anakmu. Dia tidak mengatakannya pada Ayah," ungkap Adi Darmadji kemudian.


"Hamil ataupun tidak, Ayah dan Ibu harusnya tahu, tidak baik memfitnah orang lain. Akibat dari ulah Ibu dan adik-adik, lihat sekarang, Maya membenciku setengah mati, tak membiarkan aku mengetahui dimana anakku!" Seru Ditya sebelum berlalu pergi dari sana.


Tak peduli teriakan kedua orang tuanya, Aditya berlalu pergi dari sana, tanpa hormat, akibat marah yang terlanjur menggulung di lubuk hatinya.


Aditya pergi, dengan selaksa rasa bersalah yang lebih besar dan lebih berkali-kali lipat. Entah apa yang akan terjadi nanti di masa depan, Aditya hanya berharap ia bisa menemui Jovita dan mencari tahu keberadaan Maya. Wanita yang berusia dua puluh delapan tahun itu, dan sanggup meluluh lantakkan hati Ditya.


**

__ADS_1


__ADS_2