
Sinar senja dengan kilau merah keemasan di ufuk barat, nyaris saja matahari tenggelam ditelan seonggok tanah berbentuk kerucut yang dinamai gunung. Panas yang seharian ini menyengat Mayasari Arsyad yang tengah melakukan perjalanan jauh, perlahan merangkak, tergantikan oleh hawa sejuk udara pedesaan.
Beberapa burung beterbangan pada udara bebas, menciptakan suara merdu di sore hari yang merambah menuju malam.
Perjalanan Maya begitu melelehkan. Namun semua itu tak terasa sama sekali, saat netranya mendapati siluet putranya yang selama ini sangat istimewa.
Mengapa Maya menjulukinya sebagai anak istimewa?
Gavin bukanlah anak yang terlahir cacat mental, apalagi cacat fisik maupun cacat bawaan. Anak itu terlahir sempurna dengan paras rupawan layaknya rupa Aditya muda. Tetapi yang membuat istimewa adalah, Gavin tak mudah dekat dan bicara pada sembarang orang. Bahkan anak itu hanya mau bicara pada Maya, Ibu Maya, dan juga Shela yang selalu mengantar Maya pulang.
Bahkan dengan Jovita saja yang sesekali berkunjung ke sana, Gavin tak pernah bicara sepatah kata pun.
"Hai putra Ibu. Apa kabar? Kau sehat, sayang?" tanya Maya dengan memeluk erat putranya. Tawa riang disusul oleh pelukan erat dari Gavin, serupa ia rasakan bak firdaus dunia.
Bahkan hanya dengan suara Gavin, rasa lelah Maya akibat tak tidur semalaman, dan juga disusul oleh perjalanan jauh, terobati begitu saja. Hanya Ibu dan Gavin saja yang Maya punya. Selebihnya, Maya tak memiliki siapapun lagi.
Ditya? Sejak pagi tadi tepatnya ketika Maya bertemu dengan Citra, Maya kembali merasai hatinya yang patah. Bahkan sejak sembilan tahun silam, Maya sudah meneguhkan dan mengokohkan hatinya, meyakini bahwa Ditya tak bisa ia gapai lagi.
Jangankan untuk menggapai, bahkan untuk melihatnya lagi, hati Maya tak sekuat itu. Sejak itu, Maya bertekad, menganggap bahwa Aditya yang dulu ia cintai, yang menggenggam hatinya penuh, yang menjadi raja dan penguasa dari hatinya, telah mati.
"Ya, aku sehat, Bu. Ibu apa kabar? Ibu sedikit tak nyaman. Apa sakit? Atau Ibu kelelahan?" Gavin justru menyambut kedatangan Ibunya, dengan pertanyaan yang berhasil membuat Maya merasa dicecar.
"Ibu hanya kurang tidur. Semalam Ibu tak bisa tidur dengan nyenyak, karena merindukan Gavin," Maya memeluk putranya itu, dengan lembut dan penuh sayang.
"Baiklah, nanti biar aku temani ibu tidur," tatap mata bocah lelaki itu beralih pada Shela, "hai Tante Shela."
__ADS_1
"Hai, bocah jelek. Aku rindu pada jelekmu," ungkap Maya yang memiliki hobi menggoda Gavin dan membuat anak itu sebal selalu.
"Tak masalah jika aku jelek, karna Tante Shela adalah ratu dari kejelekan," balas Gavin.
Putra Maya itu lantas memisahkan diri dari Ibunya, menghambur ke atas pangkuan Fatma yang hanya tersenyum. Tak asing lagi, Shela memang begitu dekat dengan Gavin.
"Dasar bocah," Shela menggerutu pelan, menatap jenaka Gavin.
Disaat yang bersamaan, Maya melihat sebuah paper bag besar yang sebagian isinya sudah dikeluarkan. Wanita itu lantas bangkit, menghampiri meja dan mengintip seisi isi paper bag itu.
"Siapa yang membawa ini, Bu?" tatapan tajam Maya, menyusuri seisi paper bag.
"Atasanmu, Bu Jovita yang kemari siang tadi. Maaf ya, Ibu lupa memberi tahu," Maya tersenyum kecil, menyesap tehnya pelan.
"Dengan siapa dia datang?"
"Berdua dengan anak buahnya satu orang. Memangnya, mengapa harus keluar dari Bu Jovita?" hanya Fatma yang merasa ingin tahu.
"Tak ada. Maya hanya ingin Ibu mulai jagalah jarak dengannya," sahut Maya, "jangan banyak bertanya. Malam ini juga, Maya ingin Ibu pindah tempat tinggal besok. Maya akan mengurusnya."
"Kau ada masalah dengan atasanmu?" tanya Fatma, tak mengindahkan larangan putrinya untuk tak bertanya.
Shela diam tak bereaksi, tetapi jelas matanya menampakkan keterkejutan.
"Lain waktu Maya akan menceritakannya, tetapi tidak sekarang. Maya pun tak bisa lama datang kemari, malam ini juga Maya harus kembali," jawab Maya tanpa repot-repot memberi penjelasan konkret.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya, Maya?" tanya Fatma tak mau kalah.
"Maya mau pamit, Bu," timpal Maya. Alih-alih menjawab, Maya justru pamit untuk pulang segera, " jangan lupa setelah ini kemasi barang-barang berharga ibu. Maya akan jemput Ibu besok pagi."
Usai memeluk Gavin sejenak, Maya pamit pulang, meninggalkan ibunya yang memendam segudang pertanyaan, tanpa ada jawaban dan kepastian.
Selama ini, Maya adalah tulang punggung bagi Fatma dan Gavin. Mustahil bagi Fatma untuk menentang dan menolak perintah putrinya. Tentunya Fatma akan menurut kali ini, namun ia akan tetap mendesak putrinya itu untuk menjawab semuanya.
Sepanjang perjalanan, Maya hanya diam, tak berniat untuk mengucapkan sepatah kata pun. Shela lama-lama gusar, kala ia didiamkan layaknya patung Liberti yang mungkin sebentar lagi akan roboh. Hingga lantas wanita itu tak tahan lagi, dan mencecar Maya dengan banyak tanya.
"Sebenarnya apa maumu, Maya? Mengapa kau tiba-tiba memutuskan untuk membawa kabur Ibu dan Gavin? Bukankah kau hanya memiliki satu-satunya pekerjaan sebagai wanita malam? Mengapa kau berkata mau berhenti dari Mami?" tanya Shela yang sejak tadi, mulutnya sudah gatal ingin bertanya
"Aku akan mencari pekerjaan lain, Shela. Tabunganku cukup jika nanti, mungkin aku ingin buka usaha kecil-kecilan. Jika tidak, nanti akan mencari tahu siapapun mantan klienku yang pernah menawariku jadi simpanannya. Menjadi simpanan pejabat, mungkin," Maya menatap kosong bangku taksi online yang membawanya, serta Shela.
"Mengapa kau tak bicarakan dulu denganku? Minimal kau bertanya pendapatku dan kita cari solusinya sama-sama," ungkap Shela yang mulai berang pada Maya.
"Ini sudah final dan aku tak butuh solusi apapun. Prinsipku, aku tak ingin bekerja pada seorang pengkhianat. Menuruti Jovita yang memiliki banyak uang serta sifatnya yang mata duitan, aku memiliki keyakinan, ia pasti menerima sogokan besar dari Ditya. Meski ini hanya tebakan, tetapi instingku selama ini tak pernah salah," ujar Maya.
"Kau tahu sendiri, bukan, Shela? Uang memang bukanlah segalanya bagi sebagian besar orang, tetapi uang adalah penggerak utama untuk melancarkan aksi dan sebuah niat. Dengan uang, seseorang bahkan sanggup membeli jabatan. Dengan uang, seseorang bahkan sanggup menjadi setan. Dengan uang, seseorang bahkan mendadak berotak dangkal. Aditya dan keluarganya sebagai contohnya. Aku tak mau menukar keberadaan anakku dengan uang milik Ditya, yang pasti melalui Jovita!" seru Maya, dengan air mata kembali berderai.
"Kau rapuh, Maya. Tumpahkan seluruh keluh kesahmu padaku. Aku berjanji, aku berjanji akan selalu mendengarmu, dan membantumu sebisaku. Tetaplah tegar dengan berjuta kekuatan, meski badai datang seolah sanggup menumbangkan, selama kau masih memiliki napas yang tuhan anugerahkan, aku yakin kau pasti masih sanggup bertahan," Shela mencoba untuk menguatkan.
"Aku akan mulai menyusun rencana, untuk berhenti dari wisma pelacuran milik Mami Jovita," janji Maya pada dirinya sendiri.
**
__ADS_1