
Sebuah fakta yang baru saja Ditya dengar, cukup membuat Aditya syok setengah mati. Darimana Maya mengetahui tentang Citra? Bahkan Maya tak memiliki kekuatan uang seperti dirinya, untuk mencari tahu tentang Aditya selama ini.
Atau mungkin saja, Maya berusaha mencari tahu tentangnya? Membayangkannya saja sudah cukup membuat Ditya berbunga hatinya. Ada kalanya ia merasa besar kepala meski hanya sekedar membayangkan, bahwa Maya tetap memiliki rasa seperti dulu padanya.
"Darimana kau tahu tentang Citra?" tanya Ditya datar, berusaha menekan rasa.
"Istrimu yang cantik lagi berkelas nan terhormat itu, telah datang menemui aku beberapa waktu lalu. Jadi, jangan lagi menemuiku dengan dalih Gavin. Kau ... tak berhak atas apapun tentang Gavin. Kau yang meninggalkan aku, keluargamu yang menghina, menghardik lagi memfitnahku, masih pantaskah kau disebut sebagai ayahnya? Tidak, itu tidak pantas sama sekali!" seru Maya.
Ditya semakin kaget. Tak ingin ribut dipinggir jalan, lelaki itu membuka pintu mobil dan menyuruh Maya masuk, "masuklah, mari bicara di dalam dan aku ingin kau ceritakan semuanya."
"Tidak!" Seru Maya tegas.
Masuk ke dalam mobil Ditya? Itu bahkan sama saja artinya dengan bunuh diri. Semakin lama Maya berinteraksi dengan Ditya, maka akan semakin berkembang besar pula perasaannya. Maya tak ingin itu terjadi. Ia takut kehilangan kontrol diri, dan juga takut menjadi bumerang untuk hatinya sendiri.
"Kau masuk, atau aku akan menciummu hingga kau sesak napas. Kau tahu aku seperti apa sejak dulu, Maya? Aku bukan orang yang suka bermain kata sejak dulu," ujar Ditya dengan menatap tajam wanita yang menjadi cintanya itu.
Sejak dulu, Ditya selalu menang dari Maya. Lelaki berkepala batu itu senantiasa sukses membuat Maya berang setiap saat. Pada akhirnya, Maya tak memiliki pilihan lain, selain masuk ke dalam mobil, dan duduk dengan gusar.
Sialan memang!
Maya bungkam, dengan pandangan fokus ke depan. Wanita itu juga demikian takjub dengan interior mobil milik Ditya. Mewah dan elegan. Dalam bayangan Maya, di tempat inilah, Ditya banyak membahagiakan Citra.
__ADS_1
Sedang Maya dan Gavin, tentulah memiliki sebuah penderitaan yang tak pernah habis. Dalam diam, Maya tersenyum getir.
"Izinkan aku bertemu dengan Gavin, Maya. Aku mohon. Terlepas dari apapun yang Citra katakan padamu, aku memiliki keyakinan dia tak mungkin menyuruhmu menjauhi aku. Aku kenal betul karakter .... " Ditya tak melanjutkan kalimatnya, sebab Maya menyela dengan cepat.
"Istrimu? Begitukah? Huh. Lucu sekali.
"Ya. Citra memang istriku," jawab Ditya tak memungkiri.
"Dan kau mengatakan mencintaiku? Maaf karena meninggalkan diriku dulu tergeletak seorang diri? Dan sekarang, kau mau bertemu dengan Gavin? Sudahlah Ditya, aku tak lebih dari sekedar sampah, mantan pelacur yang tak memiliki kehormatan sama sekali. Lebih baik, kau pergi saja jauh-jauh dari hidupku, agar kau bisa melanjutkan hidup tanpa berurusan dengan wanita lacur sepertiku!" seru Maya.
Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu membuang muka, mencoba menghindari tatap dengan Ditya. Entah bagaimana caranya, menatap Ditya seolah memberikan perih dalam hati Maya.
"Kau tak akan memperistri wanita lain jika mencintai aku, Ditya!" hardik Maya dengan suara lantang. Beruntung keduanya berada di dalam mobil, "Aku benci dirimu yang berkhianat dan berbohong padaku. Aku sudah rela lagi ikhlas melepasmu, jadi tolong jangan ganggu aku dan anakku lagi!"
Tangis Maya pecah seketika. Ada air mata yang siap menganak sungai, dan kini telah mengalir dengan derasnya.
"Percayalah, menjalani hari sebagai seorang pelacur, harus mendesah di bawah kungkungan beragam lelaki, bukanlah hal yang mudah. Aku harus menekan egoku dan mengalah pada keadaan, demi Gavin dan kesembuhannya. Aku dan Ibuku harus bertahan seorang diri, berjuang dan terlunta-lunta di jalanan karenamu. Sekarang kau datang seolah kau ingin menebus kesalahan. Tidak. Kesalahanmu tak termaafkan. Kesalahanmu sudah sangat fatal. Lebih baik kau pergi dari hidupku, jangan mencariku terus dan jangan pernah menganggap aku dan Gavin adalah bagian hidupmu." Mata masih terisak, dengan amarah yang tumpah sudah.
"Tidak. Aku tak akan membiarkan kau bisa lepas lagi, Maya. Aku sungguh mencintaimu," lirih Ditya, meraih tubuh Maya yang terguncang untuk di peluk olehnya.
Sayangnya, Maya mendorong Ditya, memukul dada lelaki itu beberapa kali dan lelaki itu tak menolak sama sekali.
__ADS_1
"Bajingan kau, Ditya. Kau serakah. Kau benar-benar lelaki tak punya hati. Andai aku memiliki pedang, saat ini aku mungkin sudah menebas lehermu. Kau tak tahu aku sakit. Kau tak tahu aku menderita. Kau tak tahu, semalam Gavin bertanya tentang ayahnya. Katakan padaku, apa yang harus aku katakan, bajingan?" seru Maya masih dengan amarah. Napasnya naik turun tak teratur.
"Maka pertemukan aku dengannya, Maya. Masalah akan selesai," jawab Ditya dengan ringan.
"Tidak akan pernah selesai jika kau bertemu dengannya. Lebih baik kau pergi dan buka pintu mobilnya," kata Maya, berusaha membuka pintu mobil dengan kepayahan. Sayangnya, pintu mobil telah Ditya kunci sejak tadi.
"Maya, apa yang harus aku lakukan agar kau memaafkan aku? Sungguh, Maya, aku benar-benar ingin menebus dosaku," kata Ditya lirih.
Tak hanya Maya, lelaki itu juga rupanya telah menumpahkan air matanya. Keduanya sama menangisnya, membiarkan perasaan sakit terungkap.
"Tak hanya kau, aku juga sama merananya, sama tersiksanya, sama terlukanya, sama menderitanya dengan dirimu. Jika kau mau menghukum aku, hukum aku. Tetapi aku mohon, jangan menjauhkan aku dari anak kita. Aku akan menebus dengan apapun yang kau minta sebagai tukarnya, asal kau memberiku kesempatan untuk menebus dosaku. Ayo kita menikah, dan aku akan jadikan dirimu satu-satunya wanitaku. Mari bahagiakan Gavin sama-sama," ungkap Ditya seraya menatap sendu Maya.
Mata lelaki itu terus berair, merasa perih ketika harus melihat Maya terisak disampingnya. Ingin meraih dan memeluk Maya, namun urung sebab Ditya tak mau Maya kian merasakan sakit.
"Aku hanyalah seorang pelacur, Ditya. sedang kau, lelaki terhormat dalam pandangan orang-orang. Aku juga akan menjadi bulan-bulanan keluargamu nanti. Dan aku sendiri, tentu tidak Sudi menjadi istri bajingan seperti dirimu. Dari awal kau sudah berkhianat dariku, maka nanti, kupastikan kau juga akan serupa seperti dulu. Sudah, pergilah sejauh mungkin. Aku yakin, istrimu pasti bisa memberikanmu keturunan. Lupakan aku," ujar Maya dengan rasa sakit.
Meski Maya mengucap menyuruh Ditya pergi, namun dada wanita itu seolah seperti di tikam ribuan belati tak kasat mata.
"Tidak. Sekali aku katakan tidak, maka aku tak akan pernah pergi darimu, sampai kapanpun!" tolak Ditya dengan tegas.
**
__ADS_1