Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
46. Karma di bayar kontan.


__ADS_3

Pagi bersambut dengan begitu indahnya. Suara burung-burung berkicau diantara rerimbunan ranting dan daun pohon. Setiap burung yang hinggap pada dahan, seolah membawa kabar bagi seorang Ibu yang tengah menikmati udara pagi dari balik jendela kamarnya.


Seperti hujan di padang pasir tandus, hati Nayah tetiba dilanda bahagia tak terlira. Mengingat Gavin yang parasnya sangar serupa dengan Ditya kecil, membuat Nayah seolah menyusun rencana, bahwa ia akan menyambangi gavin setiap hari setelah ini.


Inayah begitu bahagia, meski tak sesempurna kebahagiaan yang ia harapkan. Sebuah kabar gembira, seolah memberinya sedikit celah untuk kembali menikmati hidup.


Kala Maya berucap bahwa ia memaafkan Nayah, hati Nayah sedikit lega. Gavin juga di perbolehkan untuk sesekali di sapa, meski Nayah dan Aditya tak bisa memilikinya, apalagi membawanya jalan bersama mereka.


Adi Darmadji?


Nayah seperti tak begitu berat lagi. Mau apapun Adi saat ini, biarlah ia melakukan apapun yang ia suka. Nayah seolah sudah mati rasa, sebab hatinya dibuat kecewa satu kali.


Lama-lama, Nayah tersenyum getir. Bila ia kecewa hanya dengan sebuah pengakuan Adi Darmadji, bagaimana dengan Maya yang menjalani hidup pahitnya?


Nayah tak mampu membayangkan, Maya bisa luar hingga titik ini. Bila bukan wanita hebat dan kuat, mungkin Maya sudah gila saat ini.


"Bu, aku pamit kembali ke ibukota," suara Ditya, membuyarkan lamunan Nayah yang cukup serius. Tadinya Nayah pikir, tak ada yang akan mengganggunya sepagi ini.


Dengan cepat, Nayah memutar kepalanya, menatap ujung pintu dimana Ditya berdiri. Aura Ditya begitu kuat, dengan tampan khas dirinya yang membuat Nayah begitu bangga. Lelaki idaman para gadis-gadis, namun hanya pada Maya Nayah akan merestui Ditya berumah tangga lagi, pasca berpisah dengan Citra.


Citra Larasati, wanita itu tetap akan menjadi putri Nayah karena sebuah sayang yang Nayah miliki padanya. Tak akan putus kasih sayang, sebab citra dengan luas hati melepas Ditya untuk meraih cinta putra Nayah itu.


Ditya melangkah dengan langkah ringan, menghampiri Ibunya yang belakangan sering mengalami sakit. Setelahnya kemeja putih dan celana soft grey, membuat Ditya tampak lebih muda. Nayah tersenyum, menata Ditya dengan penuh kelegaan.


"Kenapa pulang secepat itu? Kenapa tidak membawa Gavin main kemari dulu?" tanya Nayah, seolah lupa dengan peringatan keras dari Maya, agar Gavin tak di bawa kemana pun.

__ADS_1


Hati wanita itu terlalu bahagia tanpa ia sadari.


"Maya tak akan mengizinkan, Bu. Setiap akhir pekan, Ditya akan pulang kemari menjenguk Ibu dan Gavin. Lagi pula, di kota jika akhir pekan Ditya akan sendirian. Jangan khawatir," Jawab Ditya. Lelaki itu lantas duduk tepat di samping Ibunya.


Sudah lama, Ditya tak sedekat ini dengan sang Ibu.


"Sebelum berangkat, ada waktu sebentar? Ibu mau bicara," pinta Nayah dengan tersenyum. Wajah wanita itu tampak lebih merona dibanding hari kemarin. Bibirnya juga sudah mulai terpoles warna gincu merah khas orang tua.


"Boleh, tentu saja boleh. Memangnya, Ibu mau bicara apa?" tanya Ditya kemudian. Lelaki itu memeluk Ibunya dari samping, dengan sebuah tebakan yang terlintas dalam isi kepalanya, bahwa Ibunya akan membicarakan Maya lagi.


Nayah selalu bahagia jika membahas tentang Maya dan gavin.


"Saat kau mendengar bahwa Ibu mengusir Maya di waktu nyaris sepuluh tahun silam, apakah kau marah pada Ibu?" tanya Nayah lirih. Tatapan wanita itu kosong lurus ke depan, seolah tak terbatas dan seperti jasad tanpa jiwa. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan banyak hal.


"Marah, tentu saja marah. Tapi marah pun tak akan mengubah apa-apa. Ditya lebih memilih untuk mengerti, meski sedikit kecewa," jawab Aditya, masih memeluk Ibunya yang telah menghadirkannya ke dunia itu.


"Itu benar adanya, Bu. Rupanya, motif dari mulutku yang kelepasan ini, adalah sebab rasa cemburu. Saat itu Maya tengah bersama lelaki lain berjalan menuju pantai. Yang membuat Ditya cemburu, ada Gavin diantara mereka. Ditya merasa terbuang karena tidak ikut serta mereka," jawab Ditya. Mata lelaki itu memejam seraya menyandarkan kepalanya, pada kepala sang Ibu.


"Artinya, kau sungguh mencintai Maya dari Lubuk hatimu. Benar begitu, Kan?" tanya Nayah lagi.


"Ya, meski Maya kini membenciku. Aku memang pantas mendapatkannya," jawab Aditya dengan bijak.


Nayah tersenyum seraya mendorong pelan putranya, memutar badan dan menatap putranya dengan binar mata bahagia.


"Jika demikian, jangan pernah pupus harapan untuk menggenggam hati Maya kembali. Ibu ingin, kau membahagiakan Maya dan menebus semua lukanya, air matanya, serupa tetes darah yang ia keluarkan demi melahirkan darah daging kalian. Ibu baru sadar, bahwa Maya wanita baik-baik. Ia pernah terjerembab dalam lubang dosa, karena kitalah yang membuatnya," perintah Nayah.

__ADS_1


Mata renta wanita itu berkaca-kaca, Sebuah harapan besar dan kesungguhan, begitu jelas berpendar. Aditya bersyukur, Ibunya kini tidak lagi membenci Maya, meski Maya sendiri belum tentu membuka hatinya untuk Aditya.


Nayah sungguh menyesali semua kelakuan buruknya dulu.


"Terima kasih sudah mendukung Ditya, Bu. Ditya berjanji, Ditya akan membuat Maya membuka hatinya. Demi Gavin, demi Ibu, dan demi cinta Aditya," ujar Ditya.


Hening menyelimuti keduanya. Antara ibu dan anak itu, tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Banyak kisi-kisi rencana yang Aditya susun di masa depan. Tetapi sayang, sebuah teriakan dari ruang tengah, terdengar menggema hingga membuat sepasang Ibu dan anak itu terkejut.


Keduanya saling pandang, seolah bertanya satu sama lain tanpa kata.


"Seperti suara Sherla, Ditya. Ayo lihat keluar," ajak Nayah tanpa pikir panjang.


Ditya sendiri mengangguk tanpa kata. Langkahnya lebar mendahului sang Ibu yang tak sesehat dulu. meski begitu, tetap saja raut wajahnya tenang.


"Ada apa ini?" tanya Ditya dengan suara yang sedikit lantang. Dua adiknya yang sama-sama bersimpuh di lantai, sama berderainya dengan air mata.


Sherla dan Sherly, mereka menangis di lantai, dengan sebuah benda kecil yang berada dalam genggaman Sherla.


Sherly sendiri begitu pucat, seolah seperti ular betina yang kehilangan taringnya.


"Dia, dia begitu bodoh melebihi bodohnya keledai, Mas Ditya. Lihat, dia yang membenci Maya dan menghujat Mbak Maya habis-habisan di masa lalu, sekarang telah menuai karmanya. Dia hamil dan kekasihnya kabur entah kemana," teriak Sherla dengan suara lantang terseguk.


Sebuah benda pipih panjang yang sherla genggam, gadis itu lempar di hadapan Ditya dan Ibunya.


Garis dua.

__ADS_1


Cukup sudah membuktikan, bahwa keluarga Darmadji membayar karma secara kontan, atas apa yang dulu pernah mereka lakukan terhadap Mayasari Arsyad saat nyaris sepuluh tahun silam.


**


__ADS_2