
Pasukan awan tipis berarakan di langit bumi desa kelahiran Maya dan Aditya. Mereka tampak sesekali berjalan, menutupi kemilau bintang dan bulan bergantian. Tak tebal, hanya saja cukup membuat malam sesekali terlihat terang, kadang juga tampak gelap pekat.
Inayah duduk seorang diri di balik jendela kamarnya, menanti kabar gembira seiring harapan yang tumbuh tidak layak dalam hatinya. Satu-satunya harapan Nayah saat ini adalah, Ditya bisa membawa cucu pertamanya itu untuk bisa ia dekap.
Kedengarannya konyol, kelihatannya tidak masuk akal mengingat bagaimana Inayah di masa lalu. Tetapi begitulah isi hati dan Tuhan yang memiliki keterkaitan. Tak ada satupun makhluk yang hatinya tidak bisa Tuhan rubah. Hati Inayah secepat itu berubah.
Beberapa waktu lalu, saat ia membuktikan apa kata orang-orang yang bekerja padanya tentang Maya yang telah kembali, alangkah syoknya saat Maya membawa seorang putra yang wajahnya demikian mirip dengan Aditya.
Tuhan telah membuktikan semua, bahwa Maya saat itu sungguh mengandung darah daging Aditya. Sialnya, Nayah justru mengusirnya tanpa perasaan. Sekarang Nayah ingin memeluk bocah itu. Apakah itu sebuah keinginan yang wajar? Inayah tak tahan di buatnya.
"Nayah, sampai kapan kau akan melamun? Bahkan tangisanmu tak akan membuat Maya memaafkanmu," ujar Adi Darmadji yang baru saja masuk ke dalam kamar.
Setelan celana hitam dan kemeja putih bergaris hitam yang Adi kenakan, membuat Adi tampak lebih muda dari usianya. Tak peduli rambutnya yang telah berubah sedikit putih, namun, pria itu tetap gagah.
"Mas, aku ingin ke rumah Maya dan meminta maaf. Bagaimana menurutmu?" tanya Inayah kemudian.
Alih-alih mendapat dukungan, Adi justru mencemooh apa yang istrinya itu inginkan.
"Meminta maaf? Itu terserah padamu. Sejak dulu, kau memang pengacau segalanya. Karenamu, aku harus jauh dari wanita yang aku cintai. Karenamu, aku tak bisa mendekap cucuku. Dan karenamu pula, ada banyak hal yang harus kacau. Lama-lama, aku muak denganmu. Andai tak ada perjodohan sialan ini, aku tak akan sudi beristri dan lebih memilih melajang seumur hidup," timpal Adi yang mulai berani mengeluarkan unek-uneknya.
Hati Inayah kian luka. Sorot terkejut jelas begitu kentara pada netranya. Benarkah ini suaminya? Bahkan Nayah tidak menduga sebelumnya. Adi yang tak berani membantahnya, mengapa harus sekian tahun baru sanggup mengeluarkan taring keberaniannya?
"Mas, kau?" Nayah tak bisa berkata banyak. Wanita itu terlampau syok dengan apa yang ia dengar dari mulut suaminya.
__ADS_1
"Ya, aku tidak mencintaimu selama ini," jawab Adi Darmadji dengan mantapnya.
"Kau tidak mencintaiku, tapi ada Ditya, Sherla dan Sherly, mas? Mengapa kau baru bilang tidak cinta sekarang?" tanya Inayah seraya bangkit dari duduknya. Meski tubuhnya terasa lemah, beruntung Inayah masih bisa berdiri, menantang suaminya dengan segenap kekuatan yang tersisa.
Kau pikir, hidup sekian tahun aku tak butuh pelampiasan untuk menyalurkan hasratku? Percayalah, Nayah, aku melakukan pelampiasan padamu, semata hanya karena penyaluran hasrat semata. Jadi jangan kau pikir, aku mencintaimu seutuhnya. Cintaku hanya untuk Fatma, dan aku selalu mencintainya tanpa bisa membuka hati untukmu!" seru Adi tanpa perasaan.
Inayah terasa makin di hantam ranjau hatinya. Perihnya jangan di tanya. Bahkan raganya kini seolah tak memiliki tenaga sedikitpun. Andai Adi tahu, berapa besar cinta Nayah untuknya, mungkin Adi tak akan sampai hati mengatakan ini semua. Rupanya, cinta Nayah saja tidak cukup untuk membuat Adi bertekuk lutut seutuhnya pada dirinya.
"Fa ... fat, Fatma? Fatma Ibu Maya?" tanya Nayah dengan kalimat terbata-bata.
"Memangnya, ada berapa Fatma di kampung ini?" tanya Adi dengan kalimat tajamnya.
Nayah seolah seperti binatang tak berdaya yang hendak dicengkeram oleh pemangsanya. Wanita itu berusaha untuk duduk di tepi ranjang, hingga langkahnya terlihat limbung sebab seperti kehabisan tenaga.
Wajah Nayah sudah seputih kapas, dengan bibir bergetar dan matanya yang kembali menangis menganak sungai.
"Aku tega? Kau yang sudah tega padaku, Nayah. Sedari awal kau tahu bahwa aku tidak mencintaimu, tetapi kau memaksa dengan hati tiranimu itu agar aku menerima perjodohan sialan ini. Kau bahkan lebih biadab dari iblis, Nayah. Kau pikir, aku tak sakit hati dengan melihat caramu mengusir Maya dan wanita yang aku cintai? Inilah fakta yang sesungguhnya. Apa yang Fatma katakan sembilan tahun silam, adalah sebab kami saling mencintai," tandas Adi dengan nada suara dingin.
"Ya Tuhan, cobaan apa lagi, ini? Aku tak ingin begini, Tuhan. Katakan jika ini hanyalah mimpi," tangis Nayah kini terus berlanjut, tanpa peduli bagaimana ia begitu menyedihkannya pada pandangan suaminya.
Adi berbalik dan berlalu pergi, seraya membanting pintu kamar dengan sangat keras. Tak peduli banyak pembantu rumahnya yang terkejut dan di buat bertanya-tanya, Adi melangkah pergi. Lelaki itu sepertinya memiliki otak yang sedang ruwet dan butuh hiburan.
Tak ada belas kasih. Tak ada perasaan. Kini Adi sudah berani terang-terangan melawan Inayah yang angkuh lagi arogan.
__ADS_1
Angkuh?
Arogan?
Itulah sifat Inayah selama ini.
Lantas, kemana sifat angkuh dan arogan Nayah yang selama ini ia bangga-banggakan? Semua seolah sirna hanya sebab satu fakta. Hidup wanita itu kini seolah kacau balau, tidak sanggup menerima kenyataan yang ada.
Kala Maya datang bersimpuh di kakinya demi bisa mendapati dimana keberadaan Aditya, rasanya tak sesakit sata mendengar fakta ini. Fakta bahwa ada wanita lain yang bersemayam selama ini, bahkan sebelum kehadirannya pada hati Adi, begitu sangat mengurus hati.
"Tidak kuat. Rasanya tidak kuat," Inayah bergumam seraya memukuli dadanya sendiri yang terasa sesak. Hati wanita itu tak sekuat karang di lautan lepas. Perlahan, tubuhnya merosot ke lantai, membiarkan dingin merayap sekujur kakinya yang terasa lemas seperti jelly.
Tak lama, Aditya, Citra dan juga Sherla masuk ke dalam kamar utama, mendapati Inayah yang telah bersimpuh di lantai. Anak-anak dan emanntu Nayah itu segera membantu, saat mendengar keterangan beberapa pembantu rumah.
"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Sherla, membantu Aditya yang tengah membopong Nayah untuk dipindahkan ke atas ranjang.
"Sakit, Sherla, sakit sekali," jawab Nayah dengan suara lirih, seraya tangan yang mencengkeram dadanya yang terasa tetap sesak.
"Ayah marah pada Ibu? Kalian bertengkar?" tanya Aditya.
"Ya, aku yang salah. Aku yang salah dari awal. Aku pantas menerima karma ini, Ditya. Maafkan Ibu, maafkan Ibu," Nayah kian menangis. Penampilan yang ayu dan begitu elegan, kini telah teehanti dengan penampilan yang kacau.
"Mengapa bisa begitu, Bu?" tanya Aditya.
__ADS_1
"Fatma, Ayahmu mencintai Fatma, ibu Maya, Ditya. Ibu sudah kalah. Ibu benar-benar kalah sekarang," jawab Nayah, yang membuat anak menantunya, ikutan syok.
**