Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Hilang arah


__ADS_3

"Katakan jika seharian ini kita sedang menghabiskan waktu bersantai di luar, jika Mami bertanya, Shela. Kita harus kompak agar Mami tak curiga," bisik Maya lirih, ketika malam tiba dan mereka berjalan beriringan menapaki satu persatu anak tangga menuju ke dalam biliknya.


Suasana tampak ramai, para teman-teman seprofesi Maya, sudah tampak sibuk merias diri dan mengenakan pakaian laknat kurang bahan. Aroma campuran parfum khas wanita malam yang demikian beragam milik para wanita penghibur, menyeruak bersamaan, hingga membuat Maya mual.


Beruntung, Maya telah beradaptasi dengan hal ini.


"Aku akan segera mandi, Shel. Sepertinya malam ini aku hanya akan melayani tamu bernyanyi saja. Tubuhku lelah, pahaku juga masih terasa tak nyaman," ungkap Maya pelan, dengan menunjuk lukanya.


Tampak, wanita itu juga membalas sapaan dan juga senyuman rekan seprofesinya.


"Kau yakin kau kuat? Bukankah besok kau akan mengurus Ibumu yang mau kau pindahkan?" tanya Shela khawatir.


"Ambillah libur saja dulu barang semalam saja. Aku khawatir kau tak kuat dan berakhir tumbang, jika memaksakan tubuh beraktivitas."


Maya berpikir sejenak, nampak memikirkan sesuatu agar Jovita tak berubah.


"Bagaimana jika Mami marah dan menghampiriku di dalam bilik? Nevan pasti akan menyeretku nanti," ungkap Maya risau.


Jovita adalah wanita yang mata duitan. Sedikit saja waktu Maya tersita tanpa memberikan penghasilan untuk wanita itu, sudah pasti Maya akan diseret paksa, dan akan menjadi tontonan gratis oleh rekan-rekan seprofesinya.


"Itu masalah gampang. Katakan saja kau kelelahan pasca keluar bersamaku, dan sekarang pahamu kembali nyeri. Bukankah ini gampang?" Shela mengedipkan sebelah matanya.


Bak tersiram air es di puncak padang pasir terpanas, Maya merasa tenang seketika. "Tak salah aku memiliki sahabat sepertimu, Shela. Kau benar-benar cerdas," Ungkap Maya, seraya menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Beristirahatlah. Aku yang akan sampaikan pada Mami, kau sedang tak sehat," Shela mendorong pelan Maya, yang kini tepat berada di depan pintu biliknya.


"Terima kasih, Shela. Aku akan istirahat semalaman ini," kata Maya setengah berteriak dari dalam bilik.

__ADS_1


Maya merasa, ia sangat membutuhkan Shela untuk membalas Ditya dan Jovita. Dua pengkhianat itu, harus mendapatkan karmanya.


Tak peduli andai nanti Maya harus menumpahkan darah demi putranya, yang jelas Maya tak akan berkhianat, pada sebuah dendam kesumat, meski dunia tiba pada kiamat.


**


Di tempat yang berbeda, sepasang suami istri di sebuah rumah megah, tampak banyak diam, dan selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Namun siapa sangka, dibalik kesibukan yang mereka lakoni, ada dua onggok hati yang terluka beda versi.


Citra Lestari, merasa bahwa dirinya telah diduakan, oleh hati suaminya yang selama ini ia jadikan panutan. Tetapi sayangnya, Citra tak sadar bahwa sejak dulu, hati suaminya tidak terpaut padanya.


Harusnya Citra sadar.


Harusnya Citra mengerti sejak awal. Tetapi sayang, cintanya yang hanya cinta sepihak pada Ditya, seolah berhasil membutakan mata dan hatinya. Ia tak peduli akan ragam bentuk penolakan Aditya padanya.


"Mau kemana lagi, mas? Semalam kau keluar hingga pagi nyaris tiba. Seharian ini sejak pagi kau harusnya di rumah saat libur, tetapi kau tak ada di rumah, dan justru malam ini mau pergi lagi. Aku di rumah apa hanyalah pajangan?" tanya Citra kemudian, dengan sebongkah marah yang coba ia pendam seorang diri.


Ditya menatap Citra penuh maaf seraya berkata, "maaf, Citra. Aku harus menyelesaikan urusan di luar. Tunggulah di rumah. Aku berjanji besok kita akan banyak menghabiskan waktu bersama.


"Bagaimana tidak? Kita besok bekerja di tempat yang sama. Tentunya kita akan habiskan waktu bersama, tetapi tidak untuk menikmati quality time. Menyedihkan," ujar Citra sambil berbalik dan hendak berlalu dari sana.


"Apa maksudmu, Citra?" tanya Ditya tak mengerti. Perasaan, dulu Citra tak seketus ini padanya. Apakah Citra mulai mengaturnya?


"Bahkan dari awal, aku sudah memberi tahumu bahwa aku tak suka diatur. Jika kau keberatan dengan banyak urusanku belakangan ini, aku tak perduli."


"Tetapi aku istrimu, Mas," sahut Citra dengan nada sedikit meninggi, "Kau pikir aku tak tahu kemana perginya kau semalaman? Aku tahu. Tahu semuanya."


Cukup sudah. Citra sudah cukup terluka semenjak mendapati pertemuan pertama Ditya dan Maya, sejak Maya siuman di rumah sakit kala itu. Hanya saja, Citra berusaha menahan, dan mencoba mengerti Ditya. Terlebih, ia juga mengakui ikut merana, kala mendengar bahwa Aditya telah memiliki anak bersama wanita lacur bernama Mayasari Arsyad itu.

__ADS_1


"Baiklah. Aku semalam memang menyewa Maya. Tidak untuk bermain panas diatas ranjang seperti yang kau pikir. Aku menghabiskan waktu dengan banyak cerita masa lalu yang ia suguhkan padaku," jelas Ditya pelan.


Lelaki itu lantas duduk di sofa, membiarkan Citra menenangkan hatinya seorang diri.


"Sudah lebih dari seratus sepuluh purnacandra, aku melewatkan banyak sesuatu dan tragedi karena ulahku," jelas Ditya lagi.


"Dua insan, lelaki dan perempuan berada dalam satu ruangan di tempat terkutuk, mustahil tak melakukan hal panas, meski itu hanya sekedar berciuman, Mas. Aku tak sebodoh yang kau pikir. Apalagi, si wanita adalah wanita pelacur!" seru Maya penuh dengan penekanan.


"Jaga mulutmu, Citra!" Hardik Ditya yang terasa panas telinganya mendengar hinaan Citra untuk Maya, "Dia memang pelacur. Aku tak akan mengelak apalagi membela dan menutupi faktanya. Tetapi setidaknya, aku telah menikmati kemurniannya sebagai gadis, dibandingkan dirimu yang kata ibuku adalah wanita terhormat," tambah Ditya kemudian.


Bak sebilah pedang yang berhasil menebas leher Citra seketika. Harusnya ia malu dengan cuitan suaminya. Tetapi cemburu buta dalam hatinya, seolah telah memutus urat malu wanita itu.


"Sudah aku katakan dari awal, aku memiliki sebayang wanita yang selama ini aku cari keberadaannya, dan juga aku tunggu cintanya, tetapi kau memaksa datang dalam hidupku. Maaf, aku tak ingin menyakiti hatimu lebih jauh. Tolong, ada anak yang harus aku perjuangkan status dan haknya untuk sebuah kasih sayang dari ayah. Aku pamit," timpal Aditya yang lantas berlalu pergi, meninggalkan Citra dalam luka yang sudah mulai terpupuk subur.


Terkadang, sebuah cinta memang kerap kali membuat seseorang yang cerdas sekalipun, kehilangan akal. Terlebih, cinta itu sudah bercokol lama dalam hati.


Seperti Citra yang mulai hilang arah semenjak tahu fakta tentang masa lalu Aditya dengan wanita bernama Maya. Juga seperti Ditya yang hilang arah teguh berniat mendapatkan Maya, sementara ada Citra yang juga harus ia jaga perasannya.


"Pergilah jika begitu," jawab Citra seraya membuang pandangannya, "pada akhirnya aku tak akan punya pilihan lain selain menjawab iya."


Dengan segudang perih akibat sayatan luka dari Ditya, Citra bangkit dan menuju ke ke dalam kamar utama.


Maaf, Citra. Apapun yang tejadi, yang aku inginkan dan aku butuhkan saat ini tetaplah putraku dan Maya. Dari awal, aku sudah katakan aku tak suka padamu.


Batin Ditya, seraya melangkah dengan berjuta rencana dalam otaknya.


**

__ADS_1


__ADS_2