Merajut Luka Lampau

Merajut Luka Lampau
Tak akan sudi.


__ADS_3

Senandung Adzan berkumandang menyejukkan kalbu. Suasana desa sudah lebih maju, namun masih terasa syahdu seperti dulu suasananya. Suara kicau burung yang sesekali terdengar pada rungu Aditya, membuat perasaan Ditya jauh lebih baik dari sebelumnya.


Aditya berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah rumah yang terletak di perbukitan rendah. Rumah yang sebelumnya tak berpenghuni, kini telah kembali hidup dengan beberapa lampu berpijar mengelilingi.


Lebih dari satu dasawarsa lamanya, Aditya tidak menapakkan kaki di jalan ini. Namun selama beberapa candra, Aditya tiba-tiba memiliki mimpi indah untuk bisa kembali menapaki jalan ini.


Puncaknya, kini Ditya sungguh merealisasikan mimpinya. Menuju sebuah rumah sederhana milik Fatma, melewati pematang sawah dan di warnai dengan suara jangkrik dan kodok. Aditya berjalan beriringan dengan sang adik, Sherla dan juga Citra sebagai istrinya.


Satu jam lalu, Ditya mendapati Ibunya histeris saat Inayah sadar dan mendapati Ditya. Wanita paruh baya itu bertanya serius, tentang Gavin si putra Maya. Dengan gamblangnya, Ditya mengatakan bahwa Gavin memang darah dagingnya.


Tahukah anda apa yang terjadi? Inayah lagi-lagi kembali pingsan. Wanita itu kembali tak sadarkan diri akibat syok yang berlebihan.


"Ini rumahnya?" tanya Citra pada Aditya.


Bukannya Aditya, justru Sherla lah yang menjawab, "Ya, inilah rumahnya, mba Citra. Tapi, biar mas Ditya saja yang mengetuk pintu. Sherla khawatir, mba Maya mungkin akan marah pada kita," jawabnya.


Sherla ingat betul, betapa menderitanya Maya karena ulah kakaknya di masa lalu. Namun meski begitu, toh semuanya sudah berlalu dua tahun yang lalu?


"Permisi," sapa Ditya pertama kali, saat dirinya baru tiba di rumah Maya.


Sejujurnya, jantung Ditya terasa ingin loncat dari rongga dadanya. Hanya saja, entahlah. Semua memang salahnya dari awal.


Ditya ingat betul, terakhir kali bertemu dengan Maya. Hinaan dirinya pada wanita yang telah melahirkan darah dagingnya itu, atas profesi Maya yang telah di tanggalkan.


Dasar pelacur!


Begitulah kata-kata Ditya sendiri yang hingga kini terus terngiang dalam otaknya.

__ADS_1


Bahkan mainan Gavin yang telah Ditya siapkan, kini masih setia berada di rumahnya.


Pintu terbuka dari dalam. Bukannya Maya maupun Fatma yang membuka pintu, melainkan Gavin yang membuka pintu, seraya membawa buku gambar dalam genggamannya.


Yang pertama kali mereka bertiga dapati adalah, tatapan tajam Gavin yang penuh dengan penolakan. Sungguh, anak itu tidak mau menerima Ditya pada tempat tinggalnya saat ini.


"Pergi! Jangan pernah cari Ibuku!" hardik bocah delapan tahun lebih itu, seraya membanting pintu dan menguncinya dari dalam.


Maya dan Fatma yang tengah berbincang di dapur, seketika terkejut saat mendengar pintu kamar yang di banting oleh Gavin.


"Ada apa, Vin? Kenapa membanting pintu?" tanya Maya menghampiri sang putra, "apakah ada yang datang?" tanya Maya kemudian.


"Mantan pacarmu yang dulu membuat Ibu menderita, dia ada di depan pintu. Gavin tak mau menerimanya, Bu. Kenapa dia selalu datang dan mengganggu hidup kita yang tidak pernah mengganggunya? Gavin tidak suka pada Ayah!" jawab anak itu dengan suara lantang.


Tentu saja Aditya bisa mendengar langsung, penolakan putranya itu terhadap dirinya dari balik pintu. Citra dan Sherla sendiri saling pandang, merasa tak berdaya dan memahami bagaimana Aditya, yang kini menatap nanar pintu, dengan sorot mata terluka.


Tak ingin menyakiti hati sang Ibu, Gavin lantas membuka pintu, dan mendapati tiga orang di depan pintu. Hanya saja, Gavin enggan bicara dan lebih memilih hendak berlalu menuju ke dalam kamar, dengan mood yang sudah hancur dan rusak parah.


"Karena Ayah, aku menjadi bahan Bullyan di sekolah. Krena Ayah, aku harus melihat Ibu menangis setiap malam. Karena Ayah pula, hidupku dan Ibu tak pernah tenang. Kenapa aku harus memiliki Ayah pengganggu seperti dia, Tuhan?" tanya Gavin lirih seraya berlalu.


Bak ranjau dengan bobot ratusan ton, menghantam raga Ditya. Ditya terasa lemas dan terhempas sudah segala rasa di dadanya. Gumpalan daging merah dalam rongga dadanya, seolah tertusuk jutaan duri yang menancap menyakitkan.


Sakitnya tak terelakkan.


"Silahkan masuk," kata Maya mempersilahkan.


Dirinya memang membenci Aditya hingga kini. Namun, biar bagaimana pun ia akan berpikir waras untuk tetap menerima tamu siapapun itu, yang bertandang ke rumah sederhananya.

__ADS_1


Ditya dengan setelan kaos putih dan celana pendek sewarna kopi susu, Citra dengan setelan celana hitam press body dan tunik berwarna biru muda, serta Sherla yang mengenakan dress sewarna bunga sakura.


Mereka masuk, dan hanya mendapati keheningan tanpa ada yang sudi bicara lebih dulu. Hingga suara Maya, berhasil membuat Ditya akhirnya membuka suara.


"Ada apa kalian datang kemari?" tanya Maya dengan suara datar.


"Maya, aku datang untuk meminta maaf. Maafkan aku, untuk ketidaksengajaan diriku beberapa hari lalu," ujar Ditya pertama kali.


"Kalau hanya meminta maaf, silahkan keluar dan pergi dari sini, Tuan Ditya. Saya sudah memaafkan kali ini. Jadi tolong, jangan datang lagi hanya untuk mengucap kata maaf yang tidak akan mengembalikan keadaan. Anda tahu sendiri apa konsekuensinya, jika anda datang pada gubuk seorang pelacur sepertiku!" Jawab Maya dengan suara datar.


Hati Ditya mencelos sakit, begitu juga dengan Citra dan Sherla yang saling pandang dengan mimik tertekan.


"Maya, aku, adik ipar dan suamiku datang kemari dengan niat baik. Mohon dengar dulu," kali ini suara lembut Citra menyapa gendang telinga Maya.


Meski Maya tak sekasar saat pertama kali bertemu dengan Aditya, namun kentara sekali, bahwa Maya masih benar-benar marah pada lelaki itu.


"Baiklah. Aku akan dengar nyonya besar Darmadji. Kurasa gubuk ini juga tidak pantas untuk kau datangi, Nyonya. Aku masih ingat betul, beberapa hari lalu suamimu yang mengataiku bahwa aku adalah pelacur. Rasanya tak pantas seorang dokter ternama di ibukota, harus datang menemui pelacur sekelas diriku!" seru Maya kemudian dengan panjang lebar.


"Mas, apa yang terjadi?" tanya Citra kemudian, yang dijawab gelengan kepala oleh Ditya.


"Itulah sebabnya aku datang untuk meminta maaf, Maya. Sekiranya aku tak pantas mendapatkan maaf darimu, aku memaklumi. Hanya saja, tolong beri izin aku, untuk bisa membawa Gavin ke rumah Ibuku sebentar saja. Kedengarannya memang aku tak tahu malu dan tak tahu diri. Tetapi Ibuku ingin bertemu dengan Gavin. Si elang putih itu, Ibu ingin sekali merangkulnya," pinta Ditya dengan segala kerendahan diri.


Maya tertawa lantang, tanpa peduli menjaga imagenya sebagai wanita yang santun.


"Lucu. Kedengarannya ini sangat lucu. Bahkan Ibumu yang tirani itu yang dulu pernah menendang bahuku hanya sebab ingin aku pergi dari rumahmu. Sekarang, wanita biadab itu ingin bertemu dengan Gavin-ku? Katakan padanya, aku tak akan sudi jika ia menyentuh anakku!" tandas Maya dengan kilat mata kembali murka.


**

__ADS_1


__ADS_2