
Langkah tremor Maya rasakan, kala ia keluar dari ruangan bos besarnya, Jovita. Ia syok dan terguncang, sejak mendengar bahwa Ditya sanggup membelinya dengan harga mahal. Dirinya bukan barang yang bisa diperjual belikan.
Beruntungnya, Maya membayar sendiri, dan ingin memiliki hutang apapun dengan Ditya.
Niat hati Maya ingin sekali melepaskan diri dan menyudahi pekerjaan ini, namun mengapa Aditya masih saja berseliweran membayangi Maya? Tidakkah Ditya sadar, bahwa dirinya berhenti dari dunia malam karena ingin menghindarinya?
Tak ingin terlalu lama melamun, wanita dengan rambut disanggul ke atas dan surai jatuh di pelipis ya itu lantas menuju kamar, menguncinya rapat agar tak seorang pun tahu, bahwa hatinya terluka hingga kini.
Di dalam kamar, Maya melamun, meratapi waktunya yang terpakai sekian lama. Jelas saja Tuhan mungkin akan mengutuknya setelah ini. Terkadang Maya dibuat bertanya-tanya, sejak kapan Maya lupa jika ia memiliki Tuhan?
Terlahir kali, sebelum ia benar-benar hidup dalam neraka berbentuk bumi. Sembilan tahun sebelum tragedi, Maya seolah hidup tanpa Tuhan.
Dengan tubuh lunglai, Maya duduk di sebuah kursi dibalik jendela, menatap langit malam yang bertabur bintang disertai dengan hembusan angin malam. Maya tengah berpikir, jika dirinya bertobat, mungkinkah Tuhan masih berbaik menerima dirinya sebagai hamba?
Maya rindu akan kehidupannya yang dulu.
Maya rindu akan ibadah yang dulu rutin ia lakukan tanpa tertinggal.
Maya rindu akan kehidupannya yang tertata rapi dan penuh tawa.
Maya rindu akan kampung halaman yang asri lagi damai.
Sayangnya, Maya terlanjur tercebur dalam jurang kegelapan. Ia ingin keluar, namun entahlah.
Lama Maya terduduk sendiri berteman angin malam yang dingin, hingga tak lama sebuah ketukan pintu terdengar menyapa telinga Maya. Bergegaslah wanita itu melangkah menuju pintu. Netra matanya tak sengaja menatap sebuah koper besar yang hendak Maya bawa secepatnya. Sesiap itu Maya untuk pergi.
__ADS_1
"Ada apa, Van?" tanya Maya pada Nevan yang berdiri dan menatapnya dengan tatapan tak bersahabat. Sudah seperti biasa, Maya mendapatkan hak seperti ini.
"Mami memanggilmu," jawab Nevan dengan suara datar, "cepat kesana dan jangan pernah membuatnya menunggu orang tak penting sepertimu."
"Orang tak penting, tapi dia mempertahankan aku mati-matian, Nevan, kau lupa, ya?" Maya terkekeh kecil, melangkah maju seraya mengunci pintu biliknya.
"Dasar ******!" seru Nevan yang hatinya sudah tak tahan, "andai kau bukan aset Mami yang berharga, aku tak segan untuk melempar dirimu keluar dari sini. Kau pikir, kau orang suci? Bahkan kau tak memiliki kehormatan sama sekali," cibir Nevan kemudian.
Maya tak lagi perduli, memilih untuk melanjutkan langkah menuju ruangan Jovita.
Maya wanita itu mengitari setiap sudut ruangan di sepanjang langkahnya. Disinilah, Maya menghabiskan waktunya, mencari rupiah demi pengobatan putranya yang sakit dua tahun lalu. Ada tangis, ada tawa bersama teman seprofesi Maya lainnya, dan juga ada kisah bahagia dan luka bersamaan.
Setidaknya di tempat ini aku lebih dihargai, dan lebih disayang. Bahkan di kampung halaman pun, aku tak lebih dari sekedar sampah. Selamat tinggal untuk semua. Jika semesta mengizinkan, aku ingin merubah takdirku setelah ini. Kenangan pahit, cukuplah sampai disini.
Batin Maya dalam hening.
Sayangnya, perasaannya itu berkembang dengan sangat mengerikan. Nevan bahkan mencoba berjarak dengan Maya, agar rasanya pada wanita itu tak lagi berlanjut.
Setibanya di dalam ruangan Jovita, Maya masuk usai dipersilahkan oleh Jovita. Wanita itu tampak geram, dengan Maya. Maya bisa melihat jelas hal itu.
"Kau masih tetap memutuskan untuk keluar dari sini, Sari? Sudahlah kau pikir akan risikonya?" tanya jovita kemudian.
"Aku tak lagi memikirkan apapun lagi, Mam. Aku ingin lepas dari dunia malam, memulai hidup baru dan membuka lembaran baru. Tolong mengerti. Ada banyak Lady Esscort pendatang baru yang pastinya lebih diatas segalanya dariku," jawab Maya pelan.
Bukannya tersenyum, Jovita justru memasang tampang garang. Kehilangan Maya sama artinya dengan kehilangan hoki. Tentu saja tak semudah itu Maya pergi.
__ADS_1
"Aku tak peduli dengan apa yang kau katakan, Sari!" Hardik Jovita.
"Kau egois," Maya tersenyum kecil, tak gentar sama sekali dengan apa yang Jovita katakan, "aku tak takut akan ancaman mu, Mam. Tetapi meski begitu, kau tetaplah orang baik yang selama ini aku kenal. Terima kasih kau sudah banyak membantu, dan aku, aku tak akan merubah pendirian ku sama sekali."
"Bedebah!Kau selama ini sudah menerima banyak kebaikan. Tidak bisakah kau membalas jasaku dengan tetap berada disini?" tanya Jovita penuh emosi.
Maya tersenyum kecil seraya menjawab, "membalas jasa? Aku bahkan berada cukup lama disini. Nominal hutangku juga sudah lunas lama. Aku juga sudah memberikan uang tebusan diriku. Mami juga harusnya berpikir jernih, mengapa aku sampai tak lagi ingin bertahan disini."
"Apa yang kau katakan?" Jovita menatap tajam Maya, hingga Maya lantas menegakkan punggungnya, dan balik menatap Jovita dengan tatapan menantang.
"Andai kau tak bersekongkol dengan Aditya untuk mencari anakku, aku tak akan seperti ini. Kau tahu sendiri sejak dulu aku sama sekali tak suka dengan pengkhianatan. Kau bukan hanya mengkhianati aku dan melanggar sumpahmu, tetapi kau juga sudah membuat lukaku oleh Aditya, kian menganga lebar," balas Maya dengan berani, menatap Jovita yang terkejut.
"Kk ... kau, kau tahu, Sari?" tanya Jovita gelagapan, "dari mana kau tahu?" tanya Jovita kemudian.
Maya tak segera menjawab, melainkan menatap Jovita dengan murka yang jelas tertahan.
"Demi uang kau rela menjual informasi perihal Gavin pada Aditya. Jangan kau pikir aku tak tahu, jangan pula kau pikir aku bodoh. Aku memang wanita desa yang terbuang dan terusir karena mengandung, tetapi Tuhan tentu tak menutup mata dan menunjukan, wanita seperti apa kau sebenarnya!" seru Maya.
Aura panas dalam ruangan, terasa secara perlahan. Maya yang marah akibat dikhianati, juga Jovita yang terkejut lagi syok, tersebab Maya sudah tahu semuanya.
"Semua sudah terjadi kan, Mam? Aku hanya berharap, kau cukup cerdas dan tidak lagi gegabah dalam mengambil keputusan. Uang memang sangat menggiurkan, tetapi kau pula harus tahu, putraku tak boleh ada siapapun yang tahu, termasuk kau dan Aditya. Kau .... " tunjuk Maya pada Jovita, "tak ada bedanya dengan Aditya. Pengkhianat!" Maya bangkit danu Dur dua langkah dari kursi yang ia tempati.
Cukup sudah. Maya sudah tak bisa sabar menghadapi Jovita kali ini. Marah yang tersulit selama beberapa hari ini, akhirnya tumpah ruah, menjadi sebuah petaka yang sanggup meluluhlantakkan segalanya. Merugikan Jovita, mengecewakan Aditya, dan juga menyakiti dirinya sendiri.
Ya, sedahsyat itu akibat dari kemurkaan wanita yang selama ini tersakiti. Maya tak tahan lagi, dirinya terlanjur digulung Murka.
__ADS_1
**