
Seonggok hati yang tadinya sudah mulai tenang, kini harus kembali terluka dalam sebab ingatan masa lalu. Harusnya Aditya Darmadji tidak mengungkit sakit yang dulu begitu dalam. Tetapi lihatlah ....
Maya hanya bisa menahan perih dan sesak di dadanya. Tak ada yang bisa mengerti, sedalam apa luka yang ia punya. Bahkan sang ibu pun tak akan pernah bisa sanggup membayangkan, luka Maya yang demikian dalam sebab Ditya.
"Maya, aku tahu aku memang tak berhak mendapatkan maaf, tapi aku mohon padamu, beri aku kesempatan untuk menebus semuanya, beri aku kesempatan untuk mengembalikan senyummu meski tak sehangat dulu. Tolong, Maya. Kali ini saja. Beri aku hukuman yang setimpal, asal jangan pisahkan aku dengan Gavin. Izinkan aku, beri aku kesempatan untuk menebus dosaku padanya, dengan memberikan seluruh kasih sayangku tanpa batas," pinta Ditya.
Meski Ditya tahu pada akhirnya Ditya tidak akan mendapatkan maaf dari Maya, tetapi ia tetap tak akan menyerah. Si kepala batu itu akan tetap berjuang mendapatkan Maya dan Gavin, untuk mengembalikan senyum mereka yang telah Ditya rampas paksa.
"Dan kau akan merampas Gavin kemudian dariku? Keluargamu yang angkuh itu akan mempermainkan dan menghinaku untuk yang ke sekian kalinya? Sudah aku bilang, pulanglah, Ditya. Ibumu tak pantas sama sekali bermenantukan wanita lacur sepertiku. Jangan lagi ungkit dan bicarakan tentang putriku yang telah tiada. Jangan lagi menggugah luka lama yang berusaha aku sembuhkan seorang diri, Ditya. Pulanglah. Bawa Ibumu, Ayahmu, dan adikmu keluar dari sini. Mari jalani hidup sendiri-sendiri tanpa mengusik satu sama lain," Maya kembali tenang.
Ditya menunduk, tidak lagi memiliki daya untuk mengangkat wajahnya.
"Mungkin memang aku tidak berhak tahu, Maya. Tetapi aku tetap tak akan berhenti mencari tahu, dimana kau makamkan putri kita. Tolong jangan egois, Gavin juga pasti ingin memiliki keluarga utuh. Mari kita sudahi saja perselisihan ini, aku ingin kita berdamai dengan masa lalu, dan memulai membuka lembaran baru," iba Ditya dengan hati yang tulus.
Maya diam, tak menyahuti sedikitpun kalimat lelaki yang dulu sangat dicintainya.
Bukan hanya dulu, tetapi hingga kini Maya masih sangat mencintai Ditya. Hanya saja, ia sudah tak lagi memiliki minat tinggi untuk dapat melampaui waktu bersama lelaki itu. Ibarat sebuah impian, semua itu telah Maya bunuh mati seiring dengan banyak luka yang ia rasakan selama ini.
"Maya, aku tidak tahu jika saat itu, kau memang benar-benar mengandung anak Ditya. Saat itu, aku memang telah bersalah sebab tidak mendengar apa yang kau katakan," Nayah kembali bersuara.
"Tetapi meski kau tahu kebenaran tentang kandunganku, kau tetap tak akan sudi bermenantukan wanita yang tak sederajat denganmu ini, nyonya Nayah. Aku akan mencoba untuk meluaskan hati untuk memaafkanmu dan putramu. Hanya saja, aku tetap tidak ingin membahagiakan anakku dengan bersedia bersama dengan Ditya. Maaf, hatiku tak seluas itu," nada bicara Maya tiba-tiba sendu.
Semua orang yang berada di dalam ruang tamu tak begitu luas itu, terdiam. Semua tatap mata tertuju pada Maya yang tidak lagi terlihat murka. Bahkan Nayah saja, terkesiap karenanya.
__ADS_1
"Baiklah, Maya. Kami tak akan memaksa. Maafmu sangatlah berarti bagi kami. Terima kasih sudah memaafkan kami. Semoga seiring dengan berjalannya waktu, kau bisa membuka pintu hatimu untuk sebuah kesempatan bagi keluarga Darmadji," kali ini suara Adi.
Lelaki yang sejak tadi hanya bungkam itu, mampu menghentikan semua suara siapapun. Hening tercipta, tak ada yang berani bersuara, termasuk Nayah maupun Aditya.
Pria paruh baya itu, sesekali mencuri pandang pada Fatma, membiarkan istrinya merasa tak nyaman berada dalam situasi seperti ini.
Sebagai lelaki yang sangat mencintai Fatma, tak sanggup rasanya Adi menekan apalagi memaksa Fatma untuk bisa bersamanya. Cukup masuk akal sebenarnya, alasan Fatma menolak semua keinginan Adi untuk membersamainya.
"Bagus jika anda mengerti, Tuan Adi Darmadji. Aku harap di masa depan, jangan lagi memiliki banyak harap untuk sebuah kebersamaan. Aku dan Gavin lebih nyaman hidup seperti ini," sahut Maya terakhir kali, sebelum wanita itu pergi menuju kamarnya.
Tak ada pembicaraan selepas Maya melangkah, hanya saja, sekilas Nayah dapat melihat bocah lelaki yang harusnya memanggil dirinya nenek. Bocah lelaki tampan, dengan paras serupa dengan Aditya.
"Maya, tunggu," seru Nayah seraya bangkit berdiri, menghentikan Maya dengan berjuta perasaan tak karuan.
Suara berat dan putus-putus akibat menangis itu, demikian sangat menyayat hati.
Maya memejamkan mata, memerangi egonya dan perasaan sebagai ibu.
Nayah seorang ibu, begitu pula dengan Maya yang juga seorang ibu yang tak berdaya. Hati wanita itu tak sekuat yang orang-orang kira. Sakit hatinya, membuatnya seolah ingin membunuh mati nuraninya sebagai sesama manusia. Hanya saja, ia juga tak tega menyaksikan keluarga Darmadji mengiba padanya.
Egoiskah Maya?
Andai kau tak memberi mereka celah untuk menemui Gavin, tak akan juga membuatmu kembali ke masa lalu, Maya. Apa aku memang harus berdamai dengan takdir?
__ADS_1
Batin Maya berteriak.
"Maya, aku mohon. Hanya bertemu. Izinkan aku bertemu dengan Gavin, hanya sebentar saja. Setelah ini, aku rela kau jauhkan darinya. Beri aku kesempatan untuk bertemu dengannya," Nayah berlutut, di kaki Maya.
Sesuatu yang dulu tak mungkin di lakukan oleh Nayah terhadap Maya, kini telah dilakukannya.
Seonggok hati Maya yang telah berdarah-darah hingga sekian tahun lamanya, kini merasa tertampar. Maya memang memiliki dendam membara untuk perlakuan mereka yang telah menginjaknya di masa lalu. Akan tetapi melihat wanita tua tak berdaya di hadapannya, hati Maya tak sekejam itu.
Marah yang tak sudah-sudah dari Maya untuk keluarga Darmadji, perlahan terkikis akan kesungguhan maaf dari Nayah, juga Aditya.
Netra Ibu satu anak itu, tertuju pada Ditya yang juga ikut berlutut. Bak adegan drama di panggung yang luas penuh dengan suasana menghanyutkan, Maya berdiri bak seolah ratu yang memiliki kuasa akan segala keputusan. Ditya berusaha menenangkan sang Ibu dengan mengusap punggung Ibunya.
"Maya," Fatma memanggil seraya mengangguk, merasa tak sanggup menyaksikan Ditya dan Nayah yang mengiba penuh permohonan.
Pada akhirnya, ego, kemarahan, dendam kesumat akan kalah dengan kelembutan hati Maya dan Fatma.
Pada dasarnya, Maya dan juga Fatma adalah orang baik. Hanya saja, perlakuan masa lalu yang ia terima, membuat hati Maya berdarah penuh luka. Duka nestapa yang telah lama Maya simpan, haruskah Maya lepas demi ketenangan masa depan?
"Baiklah, aku akan izinkan kalian bertemu dengan Gavin. Hanya saja, berjanjilah setelah ini kalian jangan lagi memaksaku melakukan sesuatu yang tak aku inginkan!" tegas Maya penuh dengan penekanan.
Maya berusaha memaafkan, namun tidak berani menjanjikan sebuah kebersamaan yang keluarga Darmadji inginkan.
**
__ADS_1