
Malam telah merambah memasuki dini hari, ketika Shela baru saja selesai melayani tamunya. Tak seperti Maya, wanita ****** itu jarang mendapatkan tamu istimewa, seolah ia kalah dari Maya. Meski gadis dari desa, namun Maya memiliki pesona yang luar biasa, sulit dikalahkan.
Maklum saja, Shela sadar diri ia tak secantik Maya. Hanya saja, Maya orang baik yang tak pernah Shela anggap sebagai rival bisnisnya.
Sejak tadi, Shela berusaha untuk menyembunyikan sesuatu yang ia ketahui, menekan geram tersebab melihat seseorang yang rupanya mulai berani mengkhianati Maya.
Sahabat Maya itu berjalan dengan langkah cepat, menuju bilik yang ditempatinya selama beberapa tahun ini, yang posisinya begitu dekat dengan bilik Maya.
"Aku menemukan sebuah kejanggalan, Sari. Dokter Aditya mendatangi ruangan Mami Jovita semalam," ungkap Shela, ketika Maya melamun saat ini.
"Oh bukan. Bukan dalam waktu sebentar, tetapi dalam waktu cukup lama, aku tak tahu apa yang mereka perbincangkan, tetapi yang jelas, mereka seperti tengah membicarakan dirimu. Terlihat dari gerakan bibirnya yang samar, berkali-kali dia menyebut namamu, Maya," ungkap Shela lagi.
Maya bungkam, dengan raut emosi yang kini semakin menggelegak. Tak hanya itu, Mayasari Arsyad itu semakin berang, mendengar pengakuan sahabatnya itu.
"Kau tak tengah membohongiku?" desak Maya, mencoba mencari kebenaran dari pengakuan Shela. "Mami mengatakan padaku, bahwa ia tak tahu siapa yang memboking diriku, ia berkata bahwa Nevan lah yang mengurusnya. Dan pelanggan yang harusnya aku layani semalam, adalah Aditya."
"Kau tahu apa artinya? Mami sengaja membocorkan semua tentangmu, pada Dokter Aditya," Shela berbisik pelan.
"Bukan aku mencoba untuk mengompori dirimu, Maya, tetapi aku memiliki firasat tak nyaman, dan mencoba memberi tahumu. Orang terdekat pun, bahkan sanggup menusuk kita dari belakang," lirih Shela.
Sebagai seseorang yang telah lama bekerja pada Jovita, Shela tahu betul bagaimana karakter wanita ular itu. Shela bahkan telah masuk dalam dunia malam, sebelum ada Maya kala itu. Hanya saja bedanya, Shela bekerja di club malam anak cabang.
"Itu artinya, dia telah membodohiku, Shel. Terima kasih banyak sudah memberi tahuku. Kurasa aku perlu berhati-hati padanya," Sahut Maya.
Biar bagaimana pun baiknya Jovita terhadap Maya, tetap saja kabar yang Shela sampaikan ini, membuat Maya berang. Meski belum ada kepastian mengenai persekongkolan Mami Jovita dengan Aditya, tapi itu sudah cukup memercikan api kecurigaan.
Setelah Aditya yang melukainya sembilan tahu silam hingga pada hari ini, pada siapa Maya harus percaya? Hanya Fatma, ibu Maya yang memberikan ketulusan pada wanita itu.
Penyesalan, sakit hati, kecewa, hingga berujung pada krisis kepercayaan yang Maya miliki, membuat hati wanita itu sebeku es kutub Utara. Maya sendiri bahkan tak yakin, setelah ini dirinya bisa jatuh cinta lagi. Nyatanya, sembilan tahun telah berlalu, namun tak ada satu pria pun yang mampu meluluh lantakkan hati Maya.
__ADS_1
Lagi pula, pria mana yang sedia mendekati Maya yang hina dina lagi kotor? Bahkan ketika mereka mendengar profesi Maya saja, mereka mundur. Ada uang mereka bisa nikmati, tak ada uang mereka pun akan sedia pergi, tanpa menoleh lagi.
"Mayasari, apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya Shela setelah keheningan cukup lama, mendominasi bilik Maya. Shela cukup khawatir.
"Kira-kira, bagaimana menurutmu? Jujur saja, aku tak bisa berpikir jernih. Aku juga tidak mungkin sanggup bila harus melihat Aditya selalu," jawab Maya.
Tatapan Ibu satu anak itu menerawang jauh, tak begitu peduli dengan kabar mengenai persekongkolan Aditya dan Mami Jovita.
Hingga Shela pamit kembali ke biliknya, Maya masih juga tak bisa memejamkan mata. Seonggok gumpalan merah dalam dadanya, merasa nyeri. Ada sejumput keinginan dalam hati Maya, untuk melampiaskan amarahnya itu saat ini juga.
Pintu Maya diketuk dari luar, namun Maya masih enggan keluar meski hanya sekedar untuk melongok siapa yang datang.
"Sari, sudah bangun? Keluarlah, ada tamu untukmu," suara Nevan terdengar jelas, disertai dengan ketukan keras pada pintu. Mau tak mau, Maya bangkit dan membuka pintu, tersebab tak ingin mengganggu penghuni bilik-bilik lain yang dekat dengan biliknya.
"Ada yang mencarimu," ungkap Nevan dengan suara datar. Raut wajahnya terlihat mengantuk dan sayu.
"Jangan terlalu percaya diri, Sari. Yang menjadi tamumu adalah wanita berkelas dan terlihat kaya, bukan ****** sepertimu. Apa kau pikir, yang datang adalah Dokter Aditya yang tentu kelasnya jauh di atasmu?" Nevan bertanya dengan nada dingin. Tatapannya jelas mengejek Maya.
Sudah menjadi hal biasa bagi Mayasari akan sikap Nevan terhadapnya itu.
"Siapa?" Maya bertanya, dengan masih suara datar.
"Temui saja dan kau akan tahu sendiri nanti," jawab Nevan sebelum berlalu pergi dari sana.
Maya masih diam mematung di tempatnya, mencoba menebak, siapa kiranya tamu perempuan yang datang mengunjunginya, sepagi ini.
Tak ingin berlama-lama, Maya menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya yang sembab. Seuntai harap Maya miliki, Maya hanya ingin dirinya bisa melupakan Ditya secepat mungkin.
Dengan langkah pelan, Maya menuju ke arah ruang tamu Jovita, yang letaknya ada pada bangunan paling depan. Dan siluet seseorang yang tak asing di mata Maya, terlihat tengah menunggunya seraya meneguk sebotol air mineral.
__ADS_1
Kening Maya berkerut, ketika merasa bahwa wajah sosok wanita itu, tidak asing di matanya.
"Pagi, siapa anda?" tanya Maya, yang seketika membuat wanita di hadapannya itu, mengalihkan atensinya pada Maya.
Senyum terukir di bibir wanita itu, membuat Maya sedikit merasa curiga. Diperhatikannya penampilan wanita itu, Maya merasa rendah diri saat itu juga.
"Perkenalkan, aku Citra Lestari," jawab wanita itu, bangkit dan mengulurkan tangannya pada Maya. Tetapi sayangnya, Maya tak menyambutnya, hingga berhasil menerbitkan secuil kecewa di pelupuk mata wanita yang mengaku bernama Citra itu.
"Sari Donna. Panggil aku Sari atau Donna," ungkap Maya yang lantas duduk di sofa, disusul oleh wanita itu.
"Apa keperluan anda datang kemari? Biar kuberitahu, tak baik bagi anda yang sekelas wanita terhormat dan berkelas, datang ke tempat pelacuran seperti tempat ini," tambah Maya kemudian.
Citra menghirup napas sedalam-dalamnya, sebelum menjawab.
"Aku datang dengan sebuah tujuan."
"Dan aku bukan orang bodoh yang tak bisa menyimpulkan, kau datang tanpa tujuan!" seru Maya dengan tatapan yang menajam, seiring dengan intonasi suaranya sedikit tinggi.
"Perkenalkan, Maya. Aku akan memanggilmu selayaknya nama aslimu. Aku, aku adalah Citra Lestari Darmadji, istri dokter Aditya Darmadji. Aku datang untuk bicara dan ingin tahu sesuatu tentangmu, dan suamiku di masa lalu," Citra menjawab mantap.
Maya sedikit Tremor, saat menyadari bahwa, Aditya rupanya telah beristrikan wanita baik-baik nan terhormat, sangat berbanding jauh dengan dirinya yang hanya seorang wanita penghibur.
'Lantas, apa tujuanmu datang memintaku mengatakan tentang anakmu, Aditya? Kau sendiri telah beristri, bajingan!'
Batin Maya.
"Pulanglah, atau kau akan menerima murkaku atas jahanamnya suamimu di masa lalu, terhadapku!" Maya kembali murka.
**
__ADS_1