Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
10. Pesta Ulang Tahun


__ADS_3

Bab 10 MVILY


Arthur yang sebenarnya tahu kalau dia diberi racun oleh Alice, malah membiarkan gadis itu bebas. Dia merasa belum saatnya untuk membalas dendam pada anak pengkhianat kerajaannya. Dia ingin melihat Alice tersiksa bahkan memohon untuk mati saja.


Arthur lagi-lagi membiarkan gadis itu tetap hidup dan ada di kerajaan karena ingin Alice tetap dekat dengannya untuk dia siksa. Padahal, ada rasa ingin selalu berada di sisi Alice. Namun, Arthur tak mau mengakui hal tersebut. 


Sore itu, Ratu Samantha meminta Alice dan Ella untuk menemaninya menuju kamar Arthur. 


"Ada apa nenek ke mari?" tanya Arthur yang tengah membaca di atas ranjang dalam ruangan yang kerap tertutup tirai.


"Minggu depan hari ulang tahunmu dan Nenek ingin kau mulai mencari pendamping. Nenek akan mengundang para putri kerajaan untuk datang. Pilihlah satu di antara mereka yang kau suka!" tegas Ratu Samantha berucap seraya meminta Alice menuangkan teh untuknya dan Arthur. 


Ella baru saja kembali setelah diperintahkan untuk membawa sup jagung yang terlupa dia bawa tadi. Ella lantas meletakkannya di atas meja depan sofa kamar Arthur.


"Arthur, sampai kapan kau akan melajang? Atau jangan-jangan kau penyuka sesama jenis, begitu?" tuding Ratu Samantha. 


Ada senyum smirk yang tersungging di wajah pria tampan itu.


"Tak akan ada yang tahan menikah denganku nanti, Nek." Arthur tergelak. Meletakkan buku bacaannya di atas nakas lalu beralih ke sofa duduk samping neneknya.


"Kau belum pernah mencobanya, kan?" tanya Ratu Samantha. 


"Maksud Nenek mencoba menikah? Menikah bukan percobaan, Nek. Dan aku hanya ingin merasakan pernikahan sekali dalam hidupku nanti," ucap Arthur.


"Ayolah, Arthur … kau harus menikah lalu punya anak. Atau boleh punya anak nanti asal segera menikah. Dewan kerajaan tak akan membiarkan mu naik tahta jika belum menikah," tukas Ratu Samantha. 


"Hmmm, ya sudah serahkan saja kedudukan Raja New Silk pada yang lain!" ucap Arthur lalu mengarahkan cangkir pada wajah Alice agar segera diisi dengan air teh herbal buatan neneknya.


"APA?!" 


Teriakan Ratu Samantha sontak saja membuat Alice tersentak dan menjatuhkan teko berisi teh herbal yang panas itu dan mengenai kaki Arthur.


"Astaga, Alice!" pekik sang ratu.


"Ma-maaf, maaf aku tak sengaja," ucap Alice lalu segera meraih obat-obatan untuk membersihkan kulit kaki Arthur yang melepuh.


"Ella, panggil dokter kerajaan sekarang!" titah sang ratu. 


"Baik, Yang Mulia." Ella segera bergegas.

__ADS_1


"Kenapa, sih, kau kerap membuat keponakan?" Ratu Samantha memicing pada Alice.


"Maaf–"


"Nenek juga yang salah, sih. Dia itu punya jantung dan otak yang kerdil jadi mudah terkejut," sahut Arthur memotong pembicaraan Alice lalu tertawa.


Alice menatap pemuda itu tajam. Dia sangat kesal dan ingin sekali merobek wajah Arthur dengan pecahan keramik teko yang tengah ia bersihkan. Namun, pandangannya terhadap Arthur seolah menghentikan waktu. Wajah itu mengulas tawa yang lepas. Semakin membuat wajah itu semakin terlihat tampan.


"Al, aku bantu bersihkan. Kau bersihkan luka di kaki pangeran," bisik Ella.


Alice tak menyadari sosok Ella yang sudah hadir dan membuat Alice terjaga dari lamunannya. Ella menyodorkan kotak obat pada sahabatnya itu.


"I-iya." Alice menangguk lalu mengucapkan kata terima kasih.


"Ella dan Alice, aku ingin kalian yang bertanggung jawab pada pesta ulang tahun cucuku nanti. Aku mohon jangan sampai kacau karena ulah kalian!" kata Ratu Samantha. Ada nada ancaman yang tersirat di sana.


"Baik, Yang Mulia." Alice dan Ella mengucap bersamaan.


Ratu Samantha lantas keluar dari ruangan kamar Arthur ditemani Ella setelah gadis itu membersihkan sisa pecahan keramik tadi. Sementara itu, Alice membersihkan luka di kaki Arthur.


"Apa ini sakit?" tanya Alice. 


"Jangan seperti itu, kau membuatku takut," lirih Alice.


"Aku memang ingin kau takut denganku," tukas Arthur lalu bangkit berdiri. 


Kemudian, Arthur meminta gadis itu untuk angkat kaki.


...***...


Alice mulai sibuk karena Ratu Samantha memintanya untuk mempersiapkan pesta ulang tahun yang meriah untuk Arthur. Dia bersama Ella dibantu oleh Bu Rose memilih menu yang akan dihidangkan. 


Alice juga menghubungi pihak event organizer yang paling mumpuni dalam menyiapkan acara pesta kerajaan. Alice juga meminta bantuan Paman Lou, kenalan mendiang ayahnya yang memiliki kebun buah. Alice ingin buah-buahan yang dihidangkan segar. Dia juga menyewa koki terkenal. 


"Apa kau akan mengundang boyband westside?" tanya Ella penuh antusias.


"Ayolah, El. Itu kan boyband anak muda bukan khusus tamu kerajaan yang rata-rata berumur dan penuh wibawa," sahut Alice. 


"Lalu, siapa pengiring musik yang akan kau undang?" Ella menelisik penuh ingin tahu.

__ADS_1


"Hmmm, sepertinya grup orchestra," sahut Alice.


"Uh, membosankan pastinya." Ella terlihat bersungut-sungut meninggalkan Alice menuju ke dapur.


...***...


Hari ulang tahun Arthur tiba. Di malam harinya, pesta digelar. Di pesta itu, Ratu Samantha akan mencarikan Arthur pasangan hidup. Pasalnya, Arthur tak pernah punya pacar dan mengira kalau cucunya penyuka sesama jenis. 


Alice juga mendengar desas desus tak menyenangkan tentang pangeran tersebut. Arthur rupanya tak suka berada di pesta tersebut. Ia selalu berusaha menghindari para gadis yang ingin berdansa dengannya. Alice mengamati dengan saksama.


Namun, sesuatu mengejutkan terjadi. Arthur secara tiba-tiba malah memilih Alice untuk menjadi teman dansanya. Semua mata tamu undangan mengarah pada Alice. Gadis itu bahkan tak mengenakan gaun pesta. Dia hanya mengenakan seragam pelayan kerajaan. Jelas saja dia akan jadi tontonan.


"Apa Yang Mulia ingin mereka saya hentikan?" tanya Mark meminta izin. Sebenarnya dia tak suka melihat Arthur berdansa dengan gadis yang dia sukai sejak kecil itu.


"Tak usah, Mark. Kita lihat saja dari sini. Aku ingin tahu apa yang sebenarnya ingin Arthur tunjukkan dengan memilih Alice sebagai pasangan dansanya," ucap Ratu Samantha menahan Mark.


"Baik, Yang Mulia." Mark membungkuk lalu berdiri tak jauh di belakang sang ratu.


Pesta semakin meriah dan musik dansa masih mengalun. Arthur masih berdansa bersama Alice. 


"Kau pakai parfum apa, sih? Kau sangat bau tau!" cibir Arthur.


"Jangan mulai, deh, merusak suasana. Asal kau tahu saja, ya, dari tadi aku ingin kabur. Lebih baik aku kabur daripada berdansa denganmu begini," sungut Alice dengan berbisik dan bibir masih mengular senyum.


Alice sudah berjanji pada Ratu Samantha agar tak membuat kekacauan. Padahal cucu tercintanya ini yang kerap membuat kekacauan.


Akan tetapi, tiba-tiba saja Arthur menghempas Alice sampai jatuh ke lantai. Teriakan Alice terdengar menggema dan membuatnya menjadi pusat perhatian. Rupanya, Arthur merasa tak tahan lagi dengan aroma tubuh Alice. Dia menghempasnya sampai jatuh lalu kembali ke kamarnya dengan langkah cepat. 


"Arthur, kau mau ke mana?!" seru Ratu Samantha tetapi Arthur tak mengindahkannya.


Ella lantas menghampiri Alice dan membantunya berdiri.


"Al, kau tak apa-apa, kan?" tanya Ella.


"Aku tak apa-apa. Aku hanya terkejut tadi. Huh, benar-benar menyebalkan pria itu," gerutu Alice. 


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2