
Bab 25 MVILY
Ella datang mengunjungi Alice dan mendapati sang pangeran terlelap di samping Alice. Sontak saja, Ella ingin menggoda keduanya. Ia berjalan mengendap dan langsung membuka tirai jendela. Pancaran sinar mentari tepat menerpa kedua insan yang tengah terlelap itu.
"Aaarrggh! Sialan! Siapa yang–" Arthur bangkit seraya menendang kursinya. Namun, dia menghentikan aksinya kala melihat Ella meringkuk ketakutan.
"Sa-saya, saya tadinya hanya bercanda. Maafkan saya, Pangeran," ucapnya dengan nada bergetar.
Ella bangkit kembali lalu menutup tirai. Tangannya terlihat gemetar.
"Kau sudah tahu kan siapa aku? Lalu, kenapa kau sengaja melakukan itu?" keluh Arthur. Dia segera menjauh dari sinar mentari yang masih mengintip di jendela.
"Sudahlah jangan dipersoalkan lagi. Kau membawa baju ganti untukku, El?" tanya Alice.
"Tentu saja. Aku juga membawakan makanan dan vitamin dari Yang Mulia Ratu. Eh, apa benar kau sedang hamil? Tadi aku baca ulasan vitamin ini untuk ibu hamil?" bisik Ella.
Alice tadinya ingin diam, tetapi rasanya ia tak bisa berbohong dari Ella. Alice pun mengangguk lemah.
"Wah, jangan-jangan pada malam itu kalian–" Ella tanpa sadar menunjuk ke arah Arthur dan segera menarik ujung telunjuknya agar kembali menunjuk Alice.
"Apa kau datang bersama Tuan Lou?" tanya Arthur.
"Iya, Pangeran. Dia menunggu di depan," sahut Ella seraya menyerahkan kotak makan untuk Arthur.
Daging mentah nan segar.
"Aku bukan lycan pemakan daging mentah. Aku hanya minum darah, El!" seru Arthur.
"Sssttt… jangan keras-keras. Nanti ada suster yang dengar. Saya juga bawa darah kelinci yang pasti Pangeran Suka. Tadi ibu memanggang daging kelinci. Ya saya ambil saja darahnya," sahut Ella.
"Hmmm, boleh juga. Aku akan minum seraya pulang. Kau jaga Alice di sini sampai aku kembali," ucap Arthur.
"Eh, jangan pergi Pangeran!" Ella menyahut dengan lantang sampai Alice dan Arthur terperanjat.
"Ada apa memangnya?" tanya Alice.
__ADS_1
"Apa kalian tidak mendengar berita terbaru?"
Pertanyaan Ella membuat Alice dan Arthur menggeleng bersamaan.
"Tuan Bernard menemukan vampir wanita. Wanita itu awalnya sedang mengungsi tapi sekelompok pemburu makhluk menemukannya. Tuan Bernard membelinya untuk dipertontonkan ke khalayak ramai. Vampir wanita itu dibakar hidup-hidup setelah Tuan Bernard menusuk jantungnya dengan pisau perak. Dia sangat keji," tukas Ella menjelaskan.
"Kau melihat semuanya?" tanya Alice.
"Tentu saja, aku melihatnya dengan mata kepala ku sendiri saat akh berkencan dengan Thomas."
"Kenapa Paman Bernard tidak melapor ke padaku, ya?" Arthur merenung.
"Dia bilang atas perintah Yang Mulia Ratu. Jadi, kalau Pangeran keluar jam segini dan ada pemburu makhluk yang tahu kalau Anda bukan manusia biasa. Aku yakin mereka akan menangkap Pangeran." Ella terlihat cemas. Begitu juga dengan Alice.
"Tapi, aku harus bicarakan ini dengan Paman Luke. Dia juga harus berhati-hati. Terima kasih Ella kau mau melindungiku," ucap Arthur.
"Anggap saja balas budi dariku karena kau telah menyelamatkan aku," sahut Ella.
"Eh, kau mau ke mana?" Alice berusaha mencegah Arthur.
"Kau harus kembali. Kau berjanji mau menikahi, bukan?" Alice mengerling.
Arthur sempat terpana dan seolah tubuhnya kaku karena tatapan Alice. Apa lagi perkataan wanita itu membuat detak jantungnya berdetak berantakan.
"Haishh, drama cinta macam apa ini? Kenapa harus terjadi di hadapan aku," keluh Ella.
Arthur mendadak sadar sedang berada di hadapan Ella. Ia merasa kikuk dan salah tingkah kala melihat Alice.
"A-aku, aku akan segera kembali. Aku janji," ucap Arthur.
Menutup kepalanya dengan hoodie, memakai sarung tangan, masker, dan kacamata hitam. Ia menemui Tuan Lou agar bergegas menyiapkan mobil.
"Kau jatuh cinta pada pangeran, ya?" Ella meledek Alice.
"Apaan, sih? Dia ayah dari anakku. Jadi, aku tak ingin anak ini lahir tanpa ayah. Mau tak mau aku harus menerima kehadiran Arthur, bukan?" Alice mengusap perutnya.
__ADS_1
"Ah, kau hanya beralasan. Akui saja kau sudah jatuh cinta pada Pangeran Arthur, iya kan?" Ella makin meledek Alice.
"Singkirkan daging kelinci mentah itu! Aku mual tau!" Alice segera turun dari ranjangnya dan menuju ke kamar mandi.
...***...
Malam itu, Mark mengunjungi Alice. Kebetulan Arthur sedang membeli jus buah yang Alice inginkan di restoran libby rumah sakit. Kapan lagi memerintahkan seorang pangeran yang mulai menurut ke padanya. Alice suka sekali memerintah Arthur.
"Hai, Al! Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Mark.
"Hai, Mark! Aku sudah lebih baik, kok.
"Aku bawakan jus buah mangga dan strawberry kesukaanmu," ucap Mark seraya meletakkan kardus berisi sepuluh kotak jus buah.
"Wah, terima kasih. Ambilkan aku rasa mangga, ya." Alice memohon.
Mark meraih satu kotak dan menyerahkannya pada Alice.
"Al, ayo kita pergi dari sini. Aku rasa susah untuk menemukan bukti kalau ayahmu bukan pengkhianatan kerajaan," ucap Mark.
"Apa maksudmu, Mark? Ayahku memang bukan pengkhianat, kok!" tegas Alice.
"Al, semua data tentang bukti pengkhianatan ayahmu sangat jelas. Aku juga berusaha mencari dokumen tentang para penjahat dan pengkhianat kerajaan. Mungkin saja ayahmu saat itu melakukannya karena butuh uang atau tertekan demi melindungi keluarganya," ucap Mark.
"Mark, ayahku bukan orang seperti itu!" Alice melotot tajam.
"Oh, apa sekarang targetmu menikahi pangeran lalu ingin membunuhnya agar lebih seru dalam membalas dendam untukmu, begitu?" tuding Mark.
"Mark, aku hanya ingin membuktikan kalau ayahku bukan pengkhianat dan membersihkan nama baik keluargaku," sahut Alice.
"Tapi kau pernah berpikir untuk menghabisi pangeran, kan?" Mark menatap Alice lekat.
...*****...
...To be continued...
__ADS_1