Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
7. Pria Misterius


__ADS_3

Bab 7 MVILY


Selama bekerja di istana, Alice dipercaya untuk mengurus segala keperluan Pangeran Arthur. Akan tetapi, calon pewaris tahta itu malah bersikap sangat arogan dan berusaha menjauh dari Alice. Gadis itu tentu saja sangat tersinggung. Dia bahkan sengaja selalu mendekati Arthur.


"Ada yang salah denganku, Pangeran?" tanya Alice.


"Menjauh dariku! Jika sudah selesai lekas keluar!" titahnya berseru.


"Huh, dasar! Kenapa sih tirai ini tak pernah dibuka?" Alice mencoba membuka tirai tetapi Arthur langsung melarang.


"Aku suka suasana kamar seperti ini. Jangan pernah atur suasana kamarku seperti yang kau mau. Kau hanya cukup membersihkan!" Arthur menatap dengan tajam penuh ancaman.


Pria itu lalu mendorong tubuh Alice pelan sampai keluar dari kamarnya. Sepanjang langkahnya menuju ke dapur, Alice menggerutu dengan kesal. Menumpahkan keluh kesalnya pada Ella.


"Apa aku bilang. Aku yakin pangeran kita bukan manusia biasa. Dia itu–"


"Vampir maksudmu?" Alice mendelik.


"Sssttt, jangan keras-keras. Nanti ada yang mendengar pembicaraan kita," tukas Ella.


"Sepertinya dia memang ingin membuatku kesal atau keluar dari istana. Lihat saja nanti, aku tak akan mudah keluar sebelum nama baik ayahku dikembalikan," ucap Alice.


Padahal, Arthur melakukan itu karena tak tahan dengan aroma tubuh Alice yang memikatnya untuk menghisap darah sang gadis. Arthur memanglah seorang vampir. Dia harus menyembunyikan identitasnya demi posisinya di kerajaan. Hal itu juga dia lakukan demi neneknya.


Berkali-kali Arthur berusaha menjauhkan Alice darinya, Alice tetap dan selalu berusaha sabar menghadapi sikap dingin dan arogan yang dimiliki pria itu. Dia selalu menuruti perintah Arthur dengan berat hati demi menjalankan rencananya.


Sampai suatu ketika, Alice diajak berburu rusa oleh Arthur dan para pengawal lainnya ke sebuah hutan. Alice bahkan menertawai jubah yang dikenakan Arthur. Sangat tertutup dan hanya bagian wajah saja yang terlihat. Itu pun Arthur selalu menunduk. Untungnya, Alice pandai berkuda sehingga bisa mengikuti gerakan berkuda Arthur dan empat pengawal lainnya.


Tiba-tiba, pandangan Alice menangkap sesuatu yang ganjil.


"Yang Mulia, lihat ada mayat!" seru Alice.


Arthur langsung memerintahkan dua pengawalnya untuk terjun ke sungai dan menghampiri tubuh pria yang terapung serta tersangkut di ranting besar tepi sungai. Tuan Liam si pelayan setia, menyentuh leher pria tersebut dan masih merasakan denyut nadi pria itu berdenyut.


"Dia masih hidup!" seru Liam.


Ia menarik tubuh pria itu dan membawanya naik ke permukaan di dekat Arthur. Seorang pengawal yang lain langsung membantu sang raja untuk membawa pria yang ditemukan itu naik ke permukaan.


"Ah, berati sekali pria ini," gumam Liam.


"Benarkah, dia masih hidup, sepertinya dia bukan berasal dari kerajaanku?" tanya Arthur.


"Saya rasa juga begitu, Pangeran. Suhu tubuhnya dingin sekali, bagaimana kalau dia kita bawa ke dokter," ucap Liam.

__ADS_1


"Naikkan dia ke kudamu!" perintah Arthur menoleh pada Alice.


"Tapi, dia berat sekali, mana sanggup aku memeganginya," ucap Alice mencoba protes.


"Kau mau membantah?" Arthur menatap Alice tajam.


"Iya iya. Tapi tolong bantu aku, Tuan Liam. Kau tahu kan aku seorang gadis yang mana kuat melakukan pekerjaan ini. Duh, pria ini besar sekali," ucap Alice.


"Baiklah, baiklah, baiklah. Tuan Liam, bantu dia!" seru Arthur dengan ketus.


Mereka akhirnya membawa pria itu menuju ke istana. Lalu, Arthur memerintahkan dokter istana untuk datang memeriksa pria tersebut.


...*** ...


"Di mana kalian temukan dia?" tanya Ratu Samantha.


"Dia mengapung di tepi sungai dalam hutan, Yang Mulia," sahut Alice.


Pria paruh baya yang bekerja sebagai dokter istana datang memeriksa kelopak mata pasien. Ia juga memerintahkan Alice untuk meraih kain dan air hangat. Tubuh pria yang baru ditemukan itu terlihat menggigil kedinginan.


"Bawakan aku anggur terbaik yang kerajaan miliki, aku akan membuat ramuan dari anggur itu," perintah Dokter Morgan yang memang kerap mengobati pasien dan ramuan mujarab buatan tangannya dibandingkan dengan obat-obatan rumah sakitn


"Baiklah, aku akan segera kembali," ucap Alice.


"Alice sebaiknya kau tetap di sini, bantu Dokter Morgan! Biar Ella yang ambil anggurnya!" ucap Arthur memberi titah.


Arthur lalu pergi menuju ke kamarnya. Sementara itu, Ella menuju gudang seberang istana untuk mencari anggur terbaik yang pihak istana punya.


"Stelah pasien nanti sadar, tolong tanyakan darimana dia berasal. Kau akan menanyakan siapa keluarganya dan bagaimana ia bisa sampai hanyut di sungai. Aku malah takut kalau dia itu perampok," ucap Ratu Samantha pada Alice.


"Baik, Yang Mulia." Alice mengangguk.


"Bu Rose, bisakah Anda membuat sup untuk menghangatkan tubuhnya?" tanya Ratu Samantha.


"Tentu, Yang Mulia," sahut Bu Rose.


"Tolong buatan untuk aku dan juga Arthur. Kau harus menjadikan sup itu untuk makan malam nanti," ucap Ratu Samantha.


Bu Rose mengangguk lalu melangkah menuju ruangan tempat ia memasak.


Alice memeriksa kain yang dibasahi air hangat lalu ditempelkan ke tubuh pria itu. Jika kain itu sudah dingin, ia lalu menggantinya.


Ella datang menyerahkan sebotol wine pada Dokter Morgan. Pria itu langsung menuju dapur untuk mengolahnya menjadi ramuan.

__ADS_1


"Pria ini tampan juga ya, Al? Dari mana ya dia datang?" bisik Ella lalu melanjutkan lagi tanyanya, "Al, apa jangan-jangan ia benar perampok?"


"Entahlah," sahut Alice melanjutkan kembali kegiatannya meskipun dirinya merasa takut juga.


Ia menelisik seluruh tubuh si pria dengan saksama. Ia membayangkan kalau sosok yang terbaring itu adalah sosok Arthur. Apalagi pria yang terbaring itu terlihat melayangkan senyuman manis pada Alice yang terlihat sangat menawan.


"Al, kenapa tersenyum sendiri?" tanya Ella.


"Hehehe, hanya iseng," sahut Alice mengada-ada.


Pria yang terbaring itu terlihat sadar dan bergumam. Ia terdengar ketakutan sampai akhirnya Dokter Morgan menyadarkannya dengan menepuk bahu.


"Tenanglah, Anda sudah aman di sini," ucap sang dokter.


"Kau siapa?" tanya pria itu lirih.


"Aku Dokter Morgan. Mau sedang berada di istana New Silk. Apa kau ingat siapa dirimu?" tanya Dokter Morgan.


Sebenarnya, Arthur mengintip dari balik dinding sedari tadi. Aroma tubuh pria itu berbeda. Namun tetap saja tak sewangi Alice.


Bu Ros lalu datang membawakan ramuan yang telah dibuat oleh Dokter Morgan.


"Ini, lekas diminum selagi hangat," pinta sang dokter pada pria tadi.


Dia membantu pria itu untuk duduk saat meminum ramuan obat tadi.


"Terima kasih," ucapnya.


"Lalu, bagaimana kau bisa sampai di sungai itu?" tanya Alice tak sabar.


"A-aku, aku telah hancur. Para makhluk


itu menyerang seluruh warga desaku," ucapnya dengan menangis.


"Para makhluk itu? Memangnya Anda berasal dari mana? Ummm... perkenalkan namaku Alice," ucap Alice seraya mengulurkan tangannya.


"Namaku Joshua, aku berasal dari Kerajaan Blue Sheep," tuturnya seraya menjabat tangan Alice.


"Wah, itu cukup jauh dari sini. Kau hebat juga bisa berhasil selamat hanyut ke sungai," celetuk Ella.


"Mungkin ini keajaiban meskipun aku memilih mati saja agar bisa menyusul keluargaku. Para manusia yang disebut Lycan itu memporak-porandakan desaku. Mereka membantai dan membakar semuanya. Mereka membunuh keluargaku," ucap Joshua terisak.


"Kenapa mereka melakukan itu?" tanya Alice.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2