
Bab 14 MVILY
Gadis berparas ayu dengan tubuh ramping nan molek, melangkah gemulai dan menggoda tatap mata yang ia lintasi kala mendekat. Kulit seputih salju dengan rambut pirang bergelombang panjang sepunggung itu tampak cantik.
"Kau siapa, ya?" tanya Alice seraya menelisik dengan saksama dari ujung rambut sampai ujung kaki lawan bicaranya itu.
Gadis di hadapannya membuka kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Ia tersenyum lebar saat menyapa Alice.
"Apa kau tak mengenaliku?" tanyanya.
"Ummmm, rasanya aku pernah melihatmu. Tapi aku lupa," sahut Alice.
"Al, aku Jen! Jennifer Simpson!" seru gadis itu seraya memegangi kedua bahu Alice.
Sementara itu, Arthur menelisik perempuan di hadapan Alice dan menunjukkan wajah smirk. Sedangkan Mark menatap tubuh molek perempuan bernama Jenifer itu penuh rasa ingin tahu.
"Oh, iya aku ingat. Kau Jen yang membeli laporan tugas padaku waktu kuliah, kan? Bukannya kau itu gemuk? Wah, hebat sekali kau bisa sekurus ini!" Alice langsung memeluk teman semasa kuliahnya itu.
Akan tetapi, Jen sangat kegirangan sampai mengajak Alice untuk berjingkrak-jingkrak dan berputar.
"Kalian sedang apa, sih? Bikin malu saja!" tukas Arthur.
Jen menoleh padanya. Dia langsung terperanjat dan menatap tak percaya.
"Arthur! Kau Arthur Fernando Smith, kan?" pekik Jen.
Arthur hanya diam dan acuh tak acuh melihat Jen.
"Kau mengenal dia?" tanya Alice.
"Tentu saja, Al. Kau ingat cerita tentang pria yang mencampakkan aku begitu saja?" Jen menoleh pada Alice.
"Iya aku ingat. Jangan bilang dia orangnya." Alice menunjuk ke arah Arthur.
"Memang dia, Al. Karena dia aku jadi putus asa, banyak makan, dan gendut," ucap Jen.
"Lalu, kenapa kau bisa kurus lagi? Apa ada yang meninggalkanmu lagi? Jelas-jelas saat itu kau berselingkuh," sungut Arthur.
"Arthur, itu salah paham! Brian hanya mengajakku ke pesta ulang tahun adiknya."
"Tapi dia menciummu di mobil, kan? Aku lihat semuanya," sahut Arthur.
"Ayolah, Arthur! Dia memaksaku saat itu," ucap Jen bersikeras.
"Kenapa kau menikmatinya? Sudahlah! Itu sudah masa lalu zaman SMA. Kini, aku tak peduli lagi," sahut Arthur.
__ADS_1
"Arthur, dengarkan aku. Aku tahu berita kematian orang tuamu. Dan sejak saat itu aku jadi tahu kalau kau pangeran Kerajaan New Silk. Kau menyembunyikan identitasmu kan saat bersekolah di Negara New Jeans?"
"Kau bisa diam tidak?! Aku tak mau dikenali sebagai pangeran di sini," ucap Arthur dengan serangan nada mengancam Jen.
Suara perut yang lapar dari Alice mendadak terdengar mengejutkan semuanya. Arthur dan Jen yang tengah bersitegang sampai menoleh ke arahnya.
"Ups! Maafkan aku, aku sangat lapar. Kalau kalian masih sibuk, aku mau ke restoran yang di sana dulu," ucap Alice.
"Ayo, makan dulu!" Arthur secara tiba-tiba menarik tangan Alice.
"Hei, apa-apaan itu?" Mark lantas menyusul keduanya. Begitu juga dengan Jen.
"Apa-apaan, sih?" Alice mendengus kesal dan berusaha melepaskan genggaman tangan Arthur.
"Apa kau bisa diam? Tadi kau bilang kau lapar, kan? Banyak juga porsi makanmu," ucap Arthur mencibir.
Alice lantas mengerucutkan bibirnya saat melangkah cepat akibat tarikan tangan Arthur. Herannya lagi, kenapa bisa Arthur muncul mengikutinya dan kini mengganggu kebersamaan dia dan Mark.
Arthur akhirnya berhenti di sebuah restoran yang memiliki menu makanan berbahan daging.
"Kenapa harus serba daging, sih? Aku lebih suka seafood tau!" keluh Alice.
"Sudah diam saja!"
Arthur meminta Mark memesan tempat yang privasi agar para pengunjung lainnya tak tahu tentang dirinya jika membuka hoodie di kepala itu. Setelah berada di ruang pribadi, Alice, Arthur, Mark, dan Jen duduk di hadapan meja yang sama. Tak lama kemudian, menu makanan yang Arthur dan lainnya pesan telah datang.
"Aku juga heran sama Arthur. Bukankah saat dulu kau benci daging? Kau hanya suka ayam, kan?" tanya Jen.
"Kalau kau bisa berubah, aku juga bisa. Aku berhak makan apa pun yang aku mau," tegas Arthur.
"Apa Pangeran mau bir atau wine?" tanya Mark.
"Jangan panggil aku pangeran! Nanti ada pelayan yang curiga!" pinta Arthur.
"Tapi rasanya sungkan jika harus memanggil Anda dengan panggilan nama saja," ucap Mark.
"Kenapa harus sungkan? Aku bisa panggil dia dengan panggilan nama. Ya kan, Arthur?" Alice tampak menantang Arthur.
"Ini makanlah!" Arthur secara tiba-tiba dan dengan sengaja memasukkan daging mentah yang baru dia potong dan dia tusukkan pada garpu lalu menjejalkannya ke mulut Alice.
Sontak saja Alice langsung mual dan berlari keluar karena ingin muntah. Dia sangat jijik merasakan daging mentah itu lumer di mulutnya.
"Pangeran saya mohon jangan keterlaluan pada Alice," ucap Mark.
"Aku hanya bersikap baik, kok. Aku sedang menyuapinya tadi," sahut Arthur lalu tertawa.
__ADS_1
"Kau memang berubah, ya," lirih Jen lalu bangkit untuk menghampiri Alice di kamar mandi.
Selepas makan malam itu, Alice mengajak Jen mengelilingi taman bermain. Mereka membicarakan Arthur saat masih SMA dulu. Arthur dan Mark mengikuti langkah kedua perempuan itu dengan saksama. Sampai Alice meminta mereka mengunjungi wahana rumah hantu.
Alice sangat senang karena dia berhasil menang taruhan dengan keluar dari wahana rumah hantu paling pertama. Akan tetapi, rasa haus sangat mendera. Alice mengunjungi stand lemonade yang berada di selatan wahana rumah hantu.
Sampai akhirnya, Alice sadar kalau ia sendirian. Alice merasa tersesat dan terpisah oleh Mark.
Tiba-tiba, Alice mendengar rintihan seorang wanita yang meminta tolong. Semakin dia ikuti sampai memasuki jalan setapak tepi hutan, arah suaranya datang dari kabin tepi sungai. Namun, Alice dihadang oleh sosok pria berkulit hitam dengan tubuh jangkung dan berbadan tegap.
"Hai, manis! Apa kau teman wanita itu?" tanyanya.
"Apa yang kau lakukan pada wanita itu?!" pekik Alice.
"Aku tak melakukan apa-apa. Tapi, temanku yang sedang melakukan apa-apa, hahaha." Pria itu terkekeh tanpa dosa seiring dengan suara rintihan wanita tadi yang menghilang.
Alice mulai ketakutan dan hendak berbalik arah, tetapi pria itu menariknya secara tiba-tiba. Alice hendak berteriak, tetapi mulutnya langsung dibekap.
"Kau kini miliki, gadis cantik!" ucap pria jahat itu penuh nafsu.
Alice berusaha untuk berteriak bahkan menggigit tangan pria itu.
"Awww! Gadis sialan!" pekiknya.
Ia lalu memukul Alice sampai tak sadarkan diri kemudian.
...***...
Arthur akhirnya sampai di pintu keluar, Mark menyusulnya. Akan tetapi mereka kehilangan Alice.
"Pangeran pulang saja, biar saya yang cari Alice," ucap Mark.
Jen baru saja keluar dari wahana tersebut, tetapi kakinya terantuk sesuatu yang menyebabkan dua jatuh. Sayangnya saat jatuh, telapak tangan Jen tak sengaja tertancap paku. Wanita itu langsung berteriak kesakitan.
"Sebaiknya kau bawa Jen ke rumah sakit. Biar aku yang cari Alice!" Arthur memerintah dengan tegas.
"Tapi pangeran sebaiknya Anda saja yang—"
"Ini perintah! Apa kau mau membantah?!" tantang Arthur.
"Baiklah kalau begitu. Tolong kabari saya jika pangeran menemukan Alice," pinta Mark.
Arthur lantas pergi mencari Alice. Untungnya, semua indera yang ada di tubuh Arthur meningkat tajam semenjak ia menjadi seorang vampir. Baik penglihatan, penciuman, sampai pendengaran, Arthur dapat mengetahuinya meskipun jaraknya agak jauh. Benar saja dugaannya saat mengikuti aroma tubuh Alice, kedua langkahnya terhenti di awal jalan setapak. Arthur menemukan ikat rambut milik Alice.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...