
Bab 16 MVILY
Kenapa, Nak, kau terlihat khawatir sekali?" tanya pria itu.
"Aku mau mencari teman wanitaku yang sedang dibawa ke Hell Club," tukas Arthur dengan cemas.
"Kalau begitu aku sarankan agar kau bergegas. Di daerah West Bloom sana banyak bar ilegal yang di dalamnya menjajakan para wanita. Bahkan para wanita tadi akan dilelang. Jika semakin muda dan masih perawan maka harganya akan semakin mahal," ucapnya menjelaskan.
"Terima kasih, Tuan, atas informasinya."
"Tunggu, apa kita pernah berjumpa sebelumnya? Aku rasa aku mengenalmu?" tanyanya menahan Arthur.
"Sepertinya ini kali pertama kita bertemu. Terima kasih atas informasinya." Arthur bergegas memasuki mobil Tuan Luke.
Dia tak ingin membuat kehebohan jika ada yang mengenalinya sebagai Pangeran New Silk.
...***...
Sesampainya di Hell Club, Arthur dan Tuan Luke disambut oleh Madam Lily, mucikari teratas di sana. Keduanya langsung mengikuti langkah wanita transgender yang berjalan di depannya itu. Mereka menyusuri lorong dalam bar yang di sekitarnya banyak pasangan yang sudah saling bercumbu tanpa rasa malu.
Sejatinya, Arthur tampak sangat risih melihat pasangan-pasangan yang terlihat menjijikkan itu. Hanya Tuan Luke yang merasa sangat sumringah hatinya karena merasa dia akan pulang dengan perut kenyang karena banyak mangsa yang akan dia hisap di bar itu.
"Paman, jaga sikapmu!" tukas Arthur.
"Iya, maafkan aku." Tuan Luke tampak kikuk.
Malam Lily membawa Arthur dan Luke menuju para gadis korban penjualan oleh orang tuanya. Ada juga korban penculikan. Dia juga menyampaikan ada gadis belia yang diculik untuk dijadikan pelayan pemuas nafsu para pria hidung belang.
Biasanya para orang suruhan akan mengintai gadis yang diincar lalu mereka akan merencanakan penculikan. Para penculik gadis yang melintas di pinggir kota itu akan menyerang para korbannya. Jika mereka berhasil mengalahkan orang tuanya, maka mereka akan mengambil anak gadis itu lalu menjualnya. Para kelompok penculik itu lalu memakan hasil penjualannya. Para penculik bisa juga menculik korban secara acak. Apalagi jika korbannya cantik, maka tak akan kesempatan itu mereka sia-siakan.
"Adapun jika seseorang sudah menjadi gadis yang dilelang di sini, maka kita bisa memilikinya dengan membelinya atau diberi hadiah oleh pejabat setempat," kata Madam Lily.
__ADS_1
"Apa kegiatan seperti ini sah sah saja di wilayah kerajaan ini?" tanya Arthur.
"Tentu saja, Anak Muda. Kalau menurut ku hal itu termasuk permintaan para pejabat kerajaan kadang mereka juga meminta hal aneh." Lily melirik ke salah satu wanita yang tengah melayani.
"Dia bahkan menawarkan diri, wanita di sudut yang tersenyum malu itu. Ternyata, usut punya usut, wanita itu berstatus adik ipar dari salah satu pemilik gedung ini. Dia menjual diri di sini karena ingin dekat terus dengan kakak iparnya. Menurutnya malah jika dia menjadi seorang budak, maka dari itu, dirinya boleh disetubuhi oleh tuannya tanpa adanya ikatan pernikahan," jelasnya.
"Hah? Picik sekali pikiran wanita itu. Jadi, dia ingin merebut kakak iparmu sendiri dengan cara menjadi budaknya padahal ini sudah zaman kerajaan modern," ucap Luke.
Dia baru menyadari kalau masih ada pemikiran orang-orang yang masih berada di masa lampau. Pikiran orang-orang di sini tentunya masih dangkal tak seperti kehidupan di kotanya yang berada di zaman modern.
"Baiklah, ikuti aku, kita pindah ke sebelah sana," ucapnya.
Luke dan Arthur mengikuti langkah wanita di depannya itu. Tiba-tiba, pandangannya tertuju pada gadis dalam ruangan yang hanya menggunakan bikini merah dan terlihat teler. Arthur sangat hapal rupa wajahnya dan juga ciri fisiknya. Di dalam kaca itu, para gadis dijajakan seperti boneka barbie dalam kemasan.
"Sial!" pekik Arthur.
Arthur melihat Alice sedang melenggak-lenggok dan sesekali ia menyembunyikan wajahnya dengan selendang tipis yang menutupi tubuh sintal miliknya.
Arthur lalu melangkah cepat menuju ke arah depan kaca itu.
"Alice, apa itu kau?"
Arthur terlihat menggedor kaca penghalang itu. Gadis berwajah kecil itu mengangkat wajahnya dan menatap ke wajah seseorang yang menyebut namanya. Ia menyeka bulir bening yang jatuh ke pipinya. Ia menajamkan kedua bola matanya dan memastikan lagi wajah orang tersebut. Namun, kedua matanya masih terlihat sayu.
"Arthur, apa itu kau?"
Alice langsung menghampiri Arthur dan mendekat ke kaca penghalang itu. Keduanya saling menatap dan mencoba mendekat tetapi mereka terhalang kaca pemisah.
"Aku pusing, Arthur, sangat pusing. Tolong aku …." Alice terlihat lemah dan tak berdaya.
Gadis itu berucap seraya menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Tenang ya ,Al, aku akan membebaskanmu."
Arthur terus meyakinkan Alice agar bertahan. Gadis itu berusaha mengingat apa yang terjadi ke padanya. Ia lalu menceritakan bagaimana ia diculik oleh dua orang pria. Mereka para penjual gadis itu menggunakan hasil penjualannya untuk berjudi. Mereka memberikan suntikan obat terlarang pada para gadis dan membuat mereka lemah tak berdaya.
"Aku takut, Arthur. Tubuhku mati rasa dan aku merasa pasti akan mati," lirih Alice.
Arthur hanya terdiam, ia juga berpikir yang sama seperti Alice awalnya. Kemungkinan para gadis itu akan bertahan hidup sangatlah kecil. Madam Lily mengamati kedua orang di hadapannya itu dengan perasaan sedih kedua matanya berkaca-kaca. Bagaimanapun juga dia hanya menjalankan perintah.
"Tenangkan dirimu, Al, aku akan membebaskanmu," ucap Arthur.
"Apa yang terjadi di sini Madam Lily?" tanya Bruno, pria bertubuh tinggi tegap dan tinggi yang baru saja datang.
"Hai, Tuan Bruno, aku membawa pelanggan ke sini, aku rasa dia menyukai gadis ini dan berniat membelinya," jawab Madam Lily berbohong.
"Hei, anak muda! Gadis ini baru dan harganya akan sangat mahal," ucap Bruno dengan tegas.
Seorang pria berbadan besar dengan perut buncit datang dan menghampiri Arthur dengan teguran kerasnya. Wajah penuh brewok dan jenggot yang berwarna putih senada dengan warna rambutnya itu terlihat membuatnya tampak sangar. Tuan Luke berjaga melindungi Arthur seketika itu juga.
"Aku akan membeli gadis ini, berapa yang kau butuhkan?" tanya Arthur.
Pria itu lalu menyebutkan harga tinggi yang harus Arthur bayar. Tanpa pikir panjang lagi, Arthur lantas membebaskan gadis itu dari bar tersebut. Madam Lily mengawal Arthur dan Luke dan membantu keduanya untuk membawa Alice pergi menuju ke mobil milik Tuan Luke.
Arthur berterima kasih pada Madam Lily. Dia tak menyangka kalau wilayah West Bloom bisa sekotor dan sehina ini. Ada rasa bangga karena masih menjaga wilayah kerajaan New Silk lebih baik.
Tiba-tiba, Arthur melihat dua penculik tadi sedang tertawa dan merangkul seorang wanita menuju ke motel.
"Paman Luke, apa malam ini kita berburu saja, ya?" tanya Arthur seraya memastikan kalau Alice masih tak sadarkan diri di sampingnya.
"Aku rasa boleh juga, kebetulan aku haus," sahut Tuan Luke seraya tersenyum menyeringai.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...