
Bab 29 MVILY
"Kau bilang apa barusan, Al?" tanya Mark.
"A-aku … anggap saja aku tak bilang apa-apa," ucap Alice.
Mark menahan tangan Alice.
"Arthur seorang vampir?" tanya Mark.
Alice terpaksa mengangguk.
"Selama ini kau melindungi seorang vampir? Dia makhluk berbahaya, Al!" tegas Mark.
"Dia tidak berbahaya, Mark! Dia bahkan menyelamatkan Ella dari para perampok dan penculik. Dia juga menyelamatkan aku saat aku dijual di West Bloom. Dia baik, Mark. Takdir yang membawanya menjadi sosok vampir, itu juga agar dia selamat," ucap Alice dengan panjang lebar.
"Aku tak mengerti jalan pikiranmu, Al." Mark bergegas keluar dari villa tersebut.
"Mark! Aku yang tak mengerti jalan pikiranmu!" Alice berseru saat Mark menjauh.
Namun, pria itu tak peduli. Dia masuk ke dalam mobilnya dan bergegas melaju.
***
Arthur bersama Tuan Luke mendapatkan jejak sesosok lycan. Mereka juga sudah mengintai lama. Lalu, Arthur membuat jebakan di balik semak-semak seperti yang pernah ia tonton sebelumnya dalam film kolosal. Dia berharap jebakan yang dibuat akan menghambat para lycan tersebut dalam berburu dan sebenarnya dia sedang melindungi Alice.
"Jika ada yang menginjak tali ini maka dia akan terantuk lalu terikat kakinya dan tergantung terbalik. Ditambah langsung terkena sabetan kayu besar. Nah, lihat Paman Luke!" Arthur menunjuk jebakan buatannya.
"Wow, menyeramkan juga." Tuan Luke tersenyum.
__ADS_1
"Kau benar, Paman, ini menyeramkan. Nanti kayu-kayu tajam yang tersembunyi itu akan langsung menghantam tubuh si penginjak. Maka kau juga harus berhati-hati jangan sampai terkena jebakan buatan kita sendiri," ujar Arthur.
"Baiklah kalau begitu. Tapi, bagaimana jika Alice yang kena?" tanya Luke menoleh dan menatap Arthur lekat.
"Aku akan melindunginya," ujarnya.
"Lalu, kenapa kau lepaskan dia?"
"Karena aku ingin melihat apa yang sebenarnya Mark inginkan dan akan lakukan. Lagi pula Alice tak mencintaiku," sungut Arthur.
"Oh, jadi kau merajuk? Atau kau cemburu pada Mark?" Tuan Luke tampak menggoda Arthur.
"Ah, sudahlah jangan bicarakan dia. Aku akan meminta pengawal agar tak membolehkan para warga melintasi atau masuk ke dalam hutan ini. Kau juga harus hati-hati, ya!" seru Arthur mengalihkan pembicaraan.
Luke menjawab dengan anggukan. Dia tahu kalau Arthur sangat terluka hanya karena Alice ragu mengatakan tentang isi hatinya terhadap Arthur.
Arthur lalu melangkah menuju ke dalam gua rahasia untuk membuat panah yang mengandung racun. Dia akan membuat racun terbuat dari ramuan tuba serta tumbuhan lain yang hidup di hutan terlarang yang mengandung zat berbahaya.
Tak berapa lama kemudian, Tuan Luke memasuki gua dan melihat hasil karya Arthur.
"Bagus juga, Arthur. Nah, kita akan gunakan ini untuk senjata rahasia kita."
Lalu, Tuan Luke membuat batang kayu yang dibentuk seperti pipa untuk media senjata bagi anak panah itu. Jika Luke menyediakan peluru perak, ia takut kalau senjata itu malah akan berbalik digunakan menyerang dirinya dan juga Arthur.
"Anak panah ini akan aku rendam ujungnya ke ramuan racun, lalu jika ingin digunakan tinggal masukkan ke lubang ini dan tiup. Maka panah beracun ini akan melesat ke arah lycan itu," ucap Arthur.
"Kau pintar juga, ya. Rasanya memang tak salah aku memilihmu untuk menjadi penerusku," puji Luke.
"Kau bilang terpaksa untuk menyelamatkan aku? Kenapa sekarang bilang memilih?" tanya Arthur.
__ADS_1
"Ah, sudahlah! Susah juga berdebat denganmu," tukas Tuan Luke.
Setelah Arthur mengoleskan panah dengan racun, panah kemudian dijemur hingga kering. Kemudian, panah itu dioles lagi dan dijemur lagi. Begitu prosesnya diulang berkali-kali oleh Arthur.
"Benda ini harus disimpan baik-baik, jangan sampai terkena rakyat di sini, ya," ucap Arthur memperingatkan saat menyerahkannya Tuan Luke.
"Kau pikir aku sebodoh itu," cibir Tuan Luke.
"Ini juga sama, kita akan mengolesi racun ini berkali-kali ke ujungnya. Semakin sering dilakukan, maka semakin tinggi pula kadar racun pada ujung panah tersebut. Bahkan si korban bisa mati," ucap Arthur.
"Semoga para lycan jahat itu cepat mati karena racun ini," tukas Tuan Luke.
"Apa kau tak pulang ke istana?" tanya Tuan Luke.
"Aku bilang akan pergi terapi ke luar kota karena alergi ku. Aku juga bilang ingin menghilangkan penat dan kesalku," ucap Arthur.
"Karena tak jadi menikah, kan?" Tuan Luke terkekeh.
Arthur hanya sampai melotot menatap Tuan Luke.
"Oke, oke."
Tuan luke lantas menyiapkan kasur lipat di dalam gua tersebut. Perapian api unggun juga sudah Arthur siapkan. Malam telah menjelang, mereka akhirnya makan malam bersama lalu terlelap.
...***...
Sementara itu, Mark yang mengetahui hati diri Arthur yang seorang vampir, langsung mencari pemburu vampir dan merencanakan pembunuhan pada Arthur. Rasanya dia akan merasa puas jika melihat Arthur yang digantung dan dibakar dalam keadaan hidup di hadapan warganya sendiri.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...