
Bab 38 MVILY
Di sebuah bukit tempat para lycan membuat sarang untuk para koloninya.
"Bangunlah gadis cantik!" Lycan Wild mengusap pipi halus milik Ella.
Ella tampak lemah tak berdaya dengan kedua tangan terikat di sebuah pepohonan.
Sementara itu, Ratu Samantha diikat di sebuah kursi dalam tenda terbuka yang ada di seberang Ella. Dia terlihat kedinginan. Wajahnya pucat dan sayu. Wanita paruh baya itu tampak lemah dan menggigil. Dia juga demam.
Para lycan itu sudah membawa mereka ke hadapan Lord Gevil, ayah dari lycan Wild. Mereka disandera atas saran Mark dan Mr.Beast yang menunggu kedatangan Arthur.
"Minum ini, Yang Mulia Lord Gevil ingin kau tetap hidup!" ucapnya membangunkan Ratu Samantha.
"Tolong berikan air juga pada Ella. Selamatkan dia juga," lirih sang ratu seraya menoleh ke arah Ella.
"Tenang saja, Nyonya Ratu. Aku memang ingin dia hidup karena Wild ingin memilikinya," jawabnya seraya terkekeh.
Ratu Samantha hanya bisa menarik napas dalam. Rasa haus itu benar-benar membuat tenggorokannya tercekat. Sang ratu akhirnya meminum air tersebut.
Sementara itu, Wild yang sedari tadi mengagumi kecantikan Ella, mencoba memaksakan minuman tersebut pada Ella. Namun, gadis itu lalu menyemburkan air dalam mulutnya ke wajah lycan itu.
"Kurang ajar!" Lycan bernama Wild itu memukul wajah Ella dengan keras.
"Kenapa kau tak membunuh ku saja?! Ayo bunuh aku!" pekik Ella dengan nada penuh amarah.
"Tidak semudah itu, Sayangku. Harusnya kau bangga karena aku akan memilihmu sebagai pengantinku," ucap Wild dengan senyum menyeringai.
"Menjijikkan! Aku tak akan sudi –"
Wild langsung memotong ucapannya Ella dengan menekan kedua pipinya dengan cengkeraman jemarinya.
Seketika itu juga, Lycan Wild merasa naik pitam dan hendak memakan wajah Ella sekali terkaman. Akan tetapi, ia teringat ucapan ayahnya untuk menghamili seorang manusia demi mendapatkan keturunan yang berbeda demi percobaan baru.
__ADS_1
"Asal kau tahu, ya. Aku ingin sekali melumatmu lalu menghisap darahmu sampai habis saja, mengunyah daging merah di tubuhmu itu sampai habis, lalu tulang belulangmu aku lempar pada serigala di sana itu," ucap Wild seraya menjilat pipi Ella.
"Aku mohon hentikan! Jika kau ingin dia tetap hidup, perlakukan dia dengan baik!" Ratu Samantha berseru mencegah Wild bertindak lebih keji lagi.
Wild menoleh pada Ratu Samantha. Lycan Joe di samping wanita paruh baya itu juga mengangguk lalu berkata, "Yang Mulia akan segera datang. Menjauhlah dari dia Wild!"
Wild akhirnya setuju.
"Kau beruntung kali ini, Manisku. Ummm, tapi aku peringatkan ya, jika kau jadi pengantinku nanti, akan aku pastikan kau menderita, hahaha," tukasnya.
Pemimpin lycan bernama Lord Gevil tiba dengan dua lycan pengawal di belakangnya.
"Para pemburu makhluk akan datang ke sini," ucapnya.
"Apa kita jadi menjebak mereka, Ayah?" tanya Wild.
"Tentu saja, Nak. Mereka itu licik. Tujuan mereka adalah memburu makhluk seperti kita. Ayah tak yakin dan percaya kalau mereka akan bekerja sama dengan baik dan adil dengan kita," tutur sang pemimpin yang bertubuh lebih kekar, tinggi dan memiliki rambut yang lebat sampai memenuhi wajah bagian bawahnya.
"Hmmm, kalau begitu nantinya aku lah yang akan pertama membunuh pemimpin pemburu makhluk itu, Ayah. Aku akan pisahkan kepalanya dari tubuhnya yang sempurna itu," ucap Lycan Wild.
"Baik, Yang Mulia," sahut lycan Joe.
Lycan itu lalu meraih bubur gandum yang sudah kadaluarsa dan menjejalkan dengan paksa ke mulut Ratu Samantha.
"Makan ini sampai habis," ucap Lycan Joe.
Wild juga mendekati Ella dan melakukan hal yang sama. Mereka menyiksa kedua wanita itu sambil tertawa puas.
"Aku tak mau!" Ella bersikeras menolak kala Lycan Wild menyuapinya dengan bubur gandum tidak layak makan itu.
"Ayolah, Sayangku! Kalau kau tidak mau makan, aku tidak akan segan-segan menyobek perut mu itu dan mengeluarkan isinya!" bentak Lycan Wild.
Sementara itu, sang pemimpin kembali pergi lagi meninggalkan Ella dan Ratu Samantha memasuki rumah pribadinya yang terbuat dari kayu, untuk menyusun strategi.
__ADS_1
Lycan Wild masih berusaha menyuapi Ella dengan bubur gandum sampai belepotan di wajah Ella yang selalu menoleh ke segala arah agar tak memakan bubur tersebut.
"Apa kau mau daging manusia yang segar itu?" ucap Wild seraya mengusap pipi Ella dan menolehkan ke arah tubuh manusia yang sepertinya anak kecil dan tinggal bagian badan ke bawah itu.
Ella lantas terperanjat tak percaya. Salah satu lycan baru saja membawa potongan tubuh anak laki-laki itu ke sebuah pohon tak jauh dari arahnya. Tubuh itu hendak digantung untuk dikuliti.
"Ayahku sudah menghabiskan setengahnya. Kini, giliran kami yang akan menghabiskannya. Apa kau mau makan itu?" tanya Wild.
"Ella, jangan lihat, Nak! Jangan lihat!" Ratu Samantha berseru seraya menutup kedua matanya.
Pemandangan tersebut sangat menjijikkan dan mengerikan.
"Kalian monster gila!" pekik Ella.
"Hahaha … kalau kau sudah tahu betapa buasnya kami, oleh karena itu kau harus menurut. Atau kami terpaksa menjadikanmu seperti itu," ancam Wild.
"Kau memberiku perintah? Memangnya kau siapanya aku?" tantang Ella.
Plak!
Kini, sebuah tamparan mendarat di pipi gadis itu.
"Aku calon pengantinmu, Sayangku! Maka kau harus hormat dan patuh padaku. Kini pilihan ada di tangan mu. Kau mau menjadi pengantinku atau menjadi makan malamku, hah?"
"Aku memilih mati saja," sahut Ella.
"Hmmmm, bagaimana jika tawarannya aku ubah? Jika kau memilih mati, maka nenek tua itu juga mati," ancam Wild seraya menyeringai.
Angin dalam hutan berhembus menusuk wajah Ella lebih dalam dan dingin. Bahkan angin tersebut berhasil mengibaskan rambut lycan itu sekilas. Ratu Samantha tampak sangat lemah dan seperti tertidur. Ella hanya bisa menangis dan berharap bantuan segera datang untuk mereka.
"Ayolah, Sayangku. Aku bahkan sudah membayangkan keseruan seorang gadis mungil sepertimu yang bercinta dengan lycan gagah sepertiku. Pasti sangat menggairahkan dan memuaskan," pungkas Wild dengan tatapan buas bak ingin segera menerkam mangsanya.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...