Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
22. Restu dari Nenek


__ADS_3

Bab 22 MVILY


"Kalian akan segera menikah. Nenek akan mempersiapkan pernikahan kalian dengan segera," ucap Ratu Samantha.


"Maksudnya?" Arthur melihat ke arah semuanya tak mengerti.


"Alice hamil, Arthur. Itu anakmu, kan?" Ratu Samantha menepuk kedua bahu Arthur.


Pemuda itu teringat dengan malam panasnya bersama Alice yang tengah mabuk. Mungkinkah saat itu mulai tertanam keturunan sejatinya tumbuh di dalam tubuh Alice?


Arthur perlahan mengangguk.


"Akhirnya, Nenek tak menyangka juga kalau saat ini akan datang juga. Nenek akan punya cicit. Keturunan sejati Raja Smith akan lahir, penerusmu kelak! Jaga Alice dengan baik mulai sekarang. Setelah Alice sembuh, kalian akan menikah. Nenek akan mempersiapkan semuanya," ucapnya.


"Tapi, Yang Mulia. Aku kan hanya seorang–" Ucapan Alice tertahan seraya tertunduk.


Biar bagaimanapun dia hanya pelayan istana. Ratu Samantha juga belum tahu kalau dia putri dari Morgan yang diduga pengkhianat kerajaan.


"Arthur, kau mencintai Alice, 'kan? Dan Alice juga mencintaimu?" tanya Ratu Samantha.


"Iya, Nek." Arthur mengangguk.


Jawaban pria itu membuat raga Alice tersentak. Bisa-bisanya Arthur mengatakan kebohongan seperti itu menurut Alice.


"Bagi Nenek melihat kalian saling mencintai sudah cukup. Tak ada yang perlu Nenek tentang. Alice, jangan khawatirkan apa pun, ya." Ratu Samanta lalu mengusap kepala Alice dengan lembut.


Sang ratu lalu pamit. Meninggalkan Arthur dan Alice yang mulai terlihat canggung.


"Kau hamil? Kenapa tidak bilang?" Arthur akhirnya buka suara.


"Aku juga tidak tahu." Alice tertunduk.


Arthur memberanikan diri menyentuh tangan Alice.


"Jangan khawatir, aku akan menikahimu."


"Jadi, malam itu benar kata Ella. Dia melihatmu membawaku kembali ke kamar. Kenapa kau tega melakukan itu?" Alice mulai menangis.


"Aku tak bisa menguasai diri saat itu. Maafkan aku, Al. Tapi sungguh aku akan bertanggung jawab untuk menjaga kalian," tutur Arthur.

__ADS_1


"Kau menyukai ku memangnya? Kau mencintaiku?" Alice menelisik lebih dalam ke sorot mata biru yang teduh itu.


Tiba-tiba, Mark muncul dan membawakan buah untuk Alice.


"Ini pesanan Anda, Pangeran. Hai, Al!" Mark mengusap kepala Alice.


Arthur menepisnya seketika.


"Kau pulanglah! Aku yang akan menjaganya malam ini," tukas Arthur.


"Tapi, Pangeran–"


"Aku bilang kalau aku yang akan menjaganya malam ini!" tegas Arthur.


"Mark, kau pulanglah. Terima kasih sudah mengkhawatirkan aku," ucap Alice.


"Oke, lekas sembuh, ya." Mark menatap Alice lekat dan tampak gurat kecewa di sana.


Langkah Mark terhenti sejenak di depan kamar.


"Kau pikir kau akan dengan mudah memiliki Alice? Lihat saja, aku akan merebutnya darimu. Aku tak peduli meskipun kau penguasa langit sekali pun," lirih Mark dengan geram.


...***...


"Awww! Duh, sakit sekali tanganku," gumam Alice mencoba mengangkat pakaian pasien yang dia kenakan.


Arthur mencium aroma darah Alice yang menyengat. Pria itu segera bangun dan tanpa sadar ia meraih lengan Alice dan hampir menghisap darahnya.


"Aaarrggghhh!" pekik Arthur menahan diri untuk tak tergoda.


"A-aku, aku mau buang air kecil," ucap Alice. Ia ketakutan lagi kala melihat sorot mata tajam dengan iris merah dan sepasang taring yang muncul milik Arthur.


Arthur meraih tombol pemanggil suster dan segera pergi dari kamar tersebut untuk menenangkan diri.


Tak lama kemudian, seorang suster datang dan membantu Alice. Setelah selesai menuntaskan hajatnya, Alice meraih tuas kloset yang tiba-tiba berbunyi sendiri mem-flush isi toilet. Seketika itu juga dia beranjak.


Saat Alice minta ditemani kembali ke atas ranjang, perempuan itu melihat sesosok pria mengintip dari balik tirai.


"Suster, ini lantai berapa, ya?" tanya Alice.

__ADS_1


"Lantai sepuluh, Nona. Ada apa memangnya?"


"Ummm, hanya tanya saja." Alice berbohong dan masih memperhatikan ke arah tirai jendela. Tak ada lagi bayangan siapa pun di sana.


Saat suster itu pergi, tiba-tiba sosok tadi muncul lagi. Kini tirai jendela itu tersingkap. Alice dapat melihat wajah pria yang penuh dengan rambut. Dia seperti seorang manusia serigala tetapi agak beda pada moncongnya.


"Astaga ... bayangan apa itu?!" pekik Alice yang berusaha tak mau menatap sosok itu.


Tiba-tiba, sosok pria yang Alice lihat tadi menghilang.


"Apa mungkin hanya perasaanku saja," gumamnya lalu membalikkan tubuhnya ke arah yang lain.


Alice menarik selimut untuk menutupi dirinya. Namun, seseorang membuka selimut Alice dan membuatnya tersentak.


"Aaaaaaaaa!"


Alice berteriak sekuat tenaganya dan langsung panik menuju keluar ruangan. Dia terlupa kalau tangannya menggunakan selang infus yang langsung terlepas.


Darahnya menetes keluar dari lubang jarum infus yang masih tertancap di pergelangan tangannya. Alice sampai menabrak Arthur, sosok yang tadi menarik sedikitnya perlahan.


"Ah, sial! Aku baru saja susah payah menenangkan diri dari aroma darahmu. Kenapa sekarang kau sengaja membuatku seperti ini, Al?!" pekik Arthur.


Dia orang suster datang membuka kamar Arthur saat Alice berteriak. Tak mau orang lain tahu keadaannya, Arthur bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Menyembunyikan diri di sana.


"Nona, kenapa?" tanya salah satu suster.


"A-aku, aku terkejut dan tak sengaja menarik tanganku." Alice tampak panik dan sesekali melihat ke arah kamar mandi.


Salah satu suster keluar dari kamar Alice dan mengambil infus pengganti karena jarum infus di tangan Alice terlihat patah. Setelah para suster itu membetulkan infus Alice kembali, Arthur memberanikan diri keluar dari kamar mandi. Dia sampai menghela napas panjang, lalu perlahan ia menguatkan diri untuk mendekat.


"Maaf, ya. Maaf membuatmu seperti tadi. Habisnya kau mengejutkan ku tadi," ucap Alice.


"Kau kenapa sih memangnya sampai ketakutan begitu?" tanya Arthur mulai ketus lagi.


"Tadi aku lihat hantu di jendela itu!" tunjuk Alice.


"Hah? Hantu katamu?"


Arthur menatap tak percaya ke arah jendela yang ditunjuk Alice.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2