
Bab 42 MVILY
Arthur tak bisa tidur dengan nyenyak. Malam itu tidurnya penuh dengan mimpi yang mengganggu. Wajah perempuan berambut pirang yang cantik itu berkelebat dengan bayangan-bayangan mengerikan para lycan yang akan menghabisi dengan bengis.
"Arthur! Lepaskan aku!"
Rupanya wanita itu adalah Alice saat dia menoleh. Tangannya terjulur meminta tolong ke arah Arthur.
"Lepaskan Alice-ku! Lepaskan dia!" pekik Arthur.
"Arthur! Lepaskan aku, aku mohon…." Alice kembali berseru dan menangis.
Rupanya Arthur bermimpi dan saat itu dia sampai mengigau memanggil kekasihnya.
Keringat deras mengucur di pelipisnya. Membasahi wajah dan pipinya.
Delilah yang kebetulan memang sengaja ingin menemui Arthur seraya membawakan ramuan obat dari Tabib Lily, segera masuk ke dalam tenda tempat Arthur berada. Dia meletakkan ramuan di atas meja kayu buatan Tuan Luke.
"Pangeran, Pangeran Arthur bangunlah!" lirih Delilah seraya menyentuh bahu Arthur.
Tanpa diduga, Arthur langsung bangkit duduk dan memeluk Delilah.
"Maafkan Alice, aku mohon jangan pergi," ucap Arthur.
Debaran detak jantung milik Delilah semakin berdetak kencang. Dia menyukai pelukan pria itu. Semakin erat seraya menepuk punggung bertubuh kekar nan atletis itu.
"Semua akan baik-baik saja, Pangeran Arthur. Aku akan selalu di sisimu," ucap Delilah.
Seketika itu juga, Arthur terjaga ketika mendengar alunan suara merdu itu bukan dari suara wanita idaman yang ia cintai. Arthur buru-buru melepaskan pelukannya.
__ADS_1
"Maaf, Pangeran Arthur. Aku hanya tak tega membiarkan Anda bersedih sampai mengigau begitu." Delilah bangkit dan meraih minuman ramuan obat herbal.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arthur.
"Tabib Ly memintaku untuk mengantar ini. Ini obat herbal untuk kesehatan Anda. Meskipun aku tahu kau memiliki kemampuan penyembuhan diri yang baik, tetapi anggap saja ini vitamin atau suplemen untukmu," ucap Delilah mencoba memberi perhatian dengan menyeka bulir keringat di dahi Arthur.
Namun, pria itu langsung menepis nya.
"Sekarang keluarlah! Sampaikan terima kasih ku pada Tabib Ly," ucap Arthur.
"I-iya." Delilah mulai kikuk.
Gadis itu sejatinya ingin memanfaatkan situasi tersebut dengan mendekati Arthur. Bahkan, Delilah berharap kalau Alice tak akan pernah ditemukan. Arthur tetap tak bergeming dari pembaringan kala Delilah sengaja masih berdiri di pintu tenda. Pada akhirnya, Delilah pergi juga.
Arthur bangkit keluar dari tenda pengungsian sementara. Dia melihat seorang anak tampak meringkuk ngeri dan tak bisa terjangkau. Sementara tak jauh dari anak itu, seorang gadis yang tampak kurus juga ketakutan. Mereka semua tampak putus asa dan tak tau arah.
"Siapa mereka, Paman?" tanya Arthur pada Tuan Luke.
"Tampung mereka Paman!"
"Tentu saja, Arthur. Aku juga meminta Albert untuk mencari jejak para lycan. Kau tahu siapa Albert?" tanyanya.
Arthur mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu.
"Temannya Tabib Ly, dia manusia serigala."
"Wah, kerajaan New Silk dan West Bloom memang tak terduga. Wilayah kerajaan terpencil di belahan Eropa yang memiliki sedikit warga, ternyata masih banyak menyimpan makhluk-makhluk mitos."
"Kau benar, aku pun tak percaya."
__ADS_1
"Aku ingin menemui Tuan Albert," pinta Arthur.
"Ayo, aku temani."
Arthur lantas meminta semua warga di pengungsian untuk bersatu dan mempertahankan diri dari serangan para lycan pasukan Lord Gevil nantinya. Mereka akan merebut kembali Kerajaan New Silk. Dan yang terpenting untuk Arthur saat ini adalah menemukan Alice dan anaknya.
***
Fajar merekah menembus jendela. Udara wilayah Kerajaan New Silk terasa berkabut dan menakutkan. Arthur menemukan pakaian yang sudah disediakan untuknya di atas meja kayu kecil. Ratu Samantha yang menyiapkannya. Kondisi neneknya mulai pulih. Berbeda dengan Ella yang masih kesulitan bergerak dan berbicara seperti orang yang mengalami struk. Mungkin dosis racun pada tubuh Ella lebih besar dibandingkan dosis racun pada neneknya.
Celana panjang hitam, atasan seperti baju jubah lengan panjang, dan sepatu kulit telah disiapkan. Musim dingin mulai tiba. Turun salju yang nantinya akan membuat pencarian terhadap Alice jadi lebih sulit.
Sementara itu, Delilah sudah mengepang rambut Ella menjadi satu kepangan besar yang dilepas di punggung. Sama seperti dia membuat kepangan pada rambutnya. Tidak ada pakaian mewah atau gaya rambut berlebihan. Dia juga mengenakan jubah hitam yang berkobar ketika angin dingin berembus menusuk tulang.
Penampilan keduanya seperti hendak pergi ke hutan. Sama dengan Tabib Ly, Tuan Luke, dan juga Tuan Albert. Mereka akan menemani Arthur masuk ke dalam hutan demi pencarian seraya untuk mengumpulkan makanan.
"Kau harus makan dulu, ya, sebelum mencari Alice," ucap Ratu Samantha.
Meskipun berada di tenda pengungsian, para warga tetap menganggapnya sang ratu. Bagi para warga, kerajaan New Silk telah berpindah ke tempat pengungsian itu.
"Nenek sudah minum obat?" tanya Arthur.
"Sudah, Cucuku Tersayang." Ratu Samantha mengusap lembut kepala Arthur.
"Nek, bagaimana kabar Alice sekarang, ya? Apa dia dan anakku sehat? Aku sangat mengkhawatirkannya," lirih Arthur.
Kedua iris biru itu terlihat mengkilap menahan kesedihan yang sangat ia paksa untuk dibendung.
...*****...
__ADS_1
...Bersambung dulu, ya....