
Bab 21 MVILY
"Memangnya kau tidak ingat, ya? Kau yang menolongku saat mobil ayahku terjun ke laut," ucap Alice.
"Oh, jadi kau gadis itu. Nah, aku sendiri tak tahu kalau itu mobil keluargamu. Kenapa kau menuduhku menyabotase mobil ayahmu?"
"Kau memberi perintah, kan?" seru Alice.
"Aku tidak pernah memberi perintah untuk membunuh pejabat istana siapa pun! Kau dapat kabar dari mana berita ini? Aku malah mau membawa Tuan Morgan menghadap padaku dan nenek," tegas Arthur.
"Berarti Tuan Bernard bisa saja yang menjebak mu dab membunuh ayahku," ucap Alice.
"Al, aku tidak membunuh ayahmu! Sudahlah kau tidak usah banyak bicara dulu," tukas Arthur seraya kedua tangan mengepal. Lalu, dia kembali menatap Alice.
Tidak pernah dia bayangkan akan mengalami hal ini. Dia yang menolong Alice yang hampir meregang nyawa kala itu. Namun, aroma tubuh Alice tersamarkan oleh asinnya air laut. Itu pun Arthur segera menepikan Alice dan menghubungi polisi setempat. Ternyata, perempuan itu sekarang sudah mengisi hatinya tanpa dia sadari dan sulit untuk diakui.
"Aku pikir mungkin saja karena kelakuan mu itu kau jadi punya banyak musuh," ucap Alice yang sudah mengubah posisinya jadi berbaring kembali.
Arthur menoleh ke arah Alice lagi dan menatap perempuan itu tajam.
"Kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjagaku sendiri dengan kekuatan ini," ucap Arthur.
"Cih, bicara apa kau ini. Baru jadi vampir saja sombong!" cibir Alice.
Arthur menancapkan maniknya pada bibir Alice yang sejak tadi bergerak untuk mengalunkan suara merdu. Wajah perempuan itu tampak dipahat dengan sempurna dan dia benar-benar memiliki kilatan mata yang menawan.
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku sangat cantik dan membuatmu terpana, ya? Atau jangan-jangan kau telah jatuh cinta padaku?" tanya Alice dengan spontan.
Namun, Arthur tak mau mengakuinya.
Alice tampak menoleh ketika gorden berwarna hijau muda itu tersingkap pelan. Di baliknya lantas menampilkan seorang pria paruh baya yang mendekat dengan stetoskop di leher.
__ADS_1
"Halo Nona, apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya sang dokter yang mendekat dengan tutur kata lembut yang cukup jelas.
Alice menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dia sudah jauh lebih baik, daripada terakhir kali yang bisa dia ingat. Dokter berkacamata itu tersenyum ramah.
"Bagus sekali kalau begitu," ujarnya.
Tak lama kemudian, Ratu Samantha datang dengan beberapa pengawal.
"Apa yang terjadi dengan Alice?" tanyanya dengan panik.
Ella sudah menceritakan semuanya termasuk percobaan tabrak lari pada Arthur tetapi Alice menyelamatkannya.
"Hormat saya Yang Mulia Ratu. Pasien sudah merasa dalam kondisi lebih baik, tetapi kami harus mengobservasi lebih lama. Dia akan dirawat hingga lukanya membaik juga, ya," ujar dokter tersebut.
"Syukurlah kalau begitu. Arthur, sebaiknya kau makan dulu. Mark sudah menunggumu di ruang tunggu vip dalam rumah sakit ini," titahnya pada cucu tersayang.
"Tapi, Nek–"
"Arthur!" Ratu Samantha menatap tajam.
"Tapi, ada hal yang harus saya sampainya Yang Mulia," bisik dokter itu.
"Ada apa? Katakan saja!"
"Pasien sedang mengandung. Saya melakukan tes dengan dokter kandungan di rumah sakit ini untuk memastikan. Usia kandungannya sekitar 6 minggu."
Ratu Samantha langsung terperanjat mendengar penjelasan sang dokter. Sesekali ia melirik ke arah Alice yang juga ingin mencari tahu apa yang dua orang itu bicarakan.
Ratu Samantha menangkap semua dengan jelas, sebelum kemudian dokter itu melukiskan senyum di wajahnya untuk pamit undur diri. Dia meninggalkan sang ratu dan Alice di kamar perawatan itu. Sang ratu dan Alice saling mengatupkan bibir satu sama lain tak ada pembicaraan. Ratu Samantha duduk di samping ranjang Alice. Masih tetap diam. Namun, manik keduanya saling bertautan.
"Alice, apa kau haus?" tanya Ratu Samanta memecah keheningan.
__ADS_1
"Tidak, Yang Mulia. Aku tidak ingin merepotkan," sahutnya.
"Terima kasih ya sudah menolong putraku," ucapnya.
"Sama-sama, Yang Mulia. Terima kasih Anda juga sudah menampung ku di istana," tukasnya.
"Alice, apa kau mau jujur ke padaku?" tanya sang ratu.
"Jujur? Tentang apa?" Alice mengernyit.
"Kau sedang mengandung, Nak. Siapa ayah dari bayi itu?"
Pertanyaan Ratu Samantha selayaknya hujaman peluru yang merobek jantungnya.
"A-aku, aku hamil?" Alice menatap tak percaya.
Nenek Samantha menceritakan kalau dia baru mengetahui berita kehamilan Alice dari dokter yang merawatnya tadi. Wanita itu mempertanyakan pada Alice siapa yang membuatnya hamil. Alice tak bisa berbohong kalau dia hanya mengingat Arthur yang sudah membuatnya hamil.
"Alice, katakan padak siapa pria itu?" tanya Ratu Samanta.
"A-arthur," sahutnya.
"APA?!"
Alice mengira kalau Ratu Samantha akan marah-marah dan menyerangnya. Apalagi kedudukan Alice yang pelayan tidak sepadan dengan seorang pangeran seperti Arthur. Namun, Alice salah.
Ratu Samantha tampak tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Hati wanita paruh baya iitu kegirangan. Dia lantas segera menghubungi Ibu Rose dan Ella untuk menyiapkan pernikahan besar-besaran untuk cucu tersayangnya.
Dua orang suster datang untuk memeriksa kondisi Alice. Di belakang mereka ada Arthur. Ratu Samantha langsung menyambutnya dengan pelukan hangat suka cita.
"Ada apa ini?" tanya Arthur.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...