
Bab 36 MVILY
Tabib Lily menjelaskan pada Arthur mengenai keadaan Alice.
"Kram perut saat hamil muda bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, mulai dari kondisi yang normal hingga serius. Beberapa penyebab umum antara lain pertumbuhan rahim, gas dalam perut, sembelit, hingga kehamilan ektopik dan keguguran," jelasnya.
"Lalu, apakah Alice keguguran?" tanya Arthur.
"Untungnya aku masih merasakan detak jantung sang bayi muda itu yang aku perkirakan berusia tiga bulan. Apa kau suami Alice?" tanya Tabib Lily.
Tuan Luke tertawa secara spontan mendengar hal itu.
"Ada apa denganmu, Luke?" tanya sang tabib.
"Mereka belum menikah, Lily. Mereka bahkan tidak berhubungan pacaran sebelumnya. Tapi hebatnya mereka malah berhubungan lebih intim dari yang aku kira," ledek Tuan Luke.
"Paman, malam itu–"
"Astaga, anak muda zaman sekarang memang mulai susah menjaga adab pergaulan," cibir Tabib Lily.
"Itu hanya kecelakaan, Tabib! Aku terbawa suasana dan kami mabuk," ucap Arthur mencoba membela diri.
"Setahuku Alice anak yang baik. Pasti kau yang mengajaknya mabuk, kan?" ledek Tabib Lily.
"Sudah kubilang malam itu hanyalah sebuah kecelakaan. Tapi aku akan bertanggung jawab menikahi Alice dan menjaga mereka," ucap Arthur.
"Kecelakaan yang kau inginkan, bukan?" Tabib Lily makin meledek Arthur.
Alice terjaga setelah cukup lama tertidur.
"Kalian sedang membicarakan apa?" lirihnya.
__ADS_1
Arthur langsung mendekat dan meminta Alice untuk minum barang seteguk.
"Hai, Al! Luke sudah menceritakan semuanya tentang keluargamu. Aku turut berduka dan sangat kehilangan Mary. Dia sahabatku yang baik," ucap sang tabib seraya menggenggam tangan Alice.
Alice mengingat wanita yang kerap mengunjunginya saat batal tiba dan memberinya hadiah waktu kecil dulu. Tabib Lily tersenyum ke arahnya. Sontak saja Alice langsung memeluknya sambil menangis. Tabib Lily sudah bagaikan wanita yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.
"Tante Li! Aku merindukanmu!" seru Alice sambil terisak sesenggukan. Mencurahkan segala kesedihan karena kehilangan semua anggota keluarganya.
"Maafkan aku ya, Al. Maaf aku tak bisa ada di sisi mu kala itu. Aku benar-benar tak tahu kalau Mary, Morgan, dan Alena telah pergi. Kau pasti melewati hari yang sangat berat selama ini," ucapnya seraya menepuk bahu Alice dengan lembut.
Tabib Lily tak dapat menahan air mata yang sudah tak bisa ia bendung itu. Ia sangat bersyukur dapat melihat Alice kembali meskipun keluarga Alice sudah tak bisa ia lihat lagi. Alice lantas menceritakan tentang kematian keluarganya itu seraya terisak. Tabib lily mendengarkan dengan saksama dan meminta Arthur agar tidak menyela. Dia ingin Alice mencurahkan segala keluh kesahnya dan berharap hal itu akan meringankan beban kesedihan Alice.
"Delilah, siapkan makan malam untuk tamuku!" pinta sang tabib pada gadis berusia dua puluh tahun yang baru saja masuk membawakan ramuan obat untuk Alice.
"Baik, Tabib Li." Delilah mengangguk.
Gadis itu sempat menoleh pada Arthur dan melayangkan senyum manisnya. Paras tampan Arthur membuat gadis muda itu merasa jatuh cinta.
Malam itu, Tuan Luke dan Arthur menceritakan semua kekejaman para lycan yang masuk ke wilayahnya. Mereka belum tahu pemimpin lycan tersebut. Jebakan yang mereka siapkan juga gagal dan dirusak.
Lily.
"Kawanan mereka sangat berbahaya rupanya," gumam Tuan Luke.
"Tentu saja. Jika mereka berhasil menyerang sebuah desa maka dapat dipastikan banyak warga yang menderita dan mati sia-sia atau malah menjadi santapan mereka. Sekitar dua puluh tahunan yang lalu, aku pernah menikah dengan Jake dan tinggal di Desa Maryland. Tapi, kawanan lycan itu datang dan menyerang. Aku yang berhasil selamat dan bertemu dengan Mary, ibunya Alice," tukas Tabib Lily.
"Tapi kau bersahabat dengan ibuku sebelum aku lahir, bukan? Tapi kenapa sepertinya usiamu belum tua? Oh, aku mengerti, kau keturunan penyihir pasti awet muda," ucap Alice.
Tabib Lily hanya tersenyum dan mengangguk.
"Tapi, kita tak boleh menyerah. Aku harus menyelamatkan nenekku," sahut Arthur.
__ADS_1
"Dan juga Ella," ucap Alice menambahkan.
"Kita harus mengumpulkan mereka yang selamat dan membuat pasukan baru untuk melawan kawanan lycan ini. Semua yang merasa tadinya hanya berjumlah sedikit, jika makin menyatu maka akan menjadi banyak dan kuat," ucap Arthur.
Semua yang ada di meja makan besar dalam rangka makan malam bersama itu menyimak penuturan Arthur tersebut.
"Aku akan membantumu. Kita akan bertempur melawan Larry, si tua bangka tengik yang menyebalkan itu," sahut Tabib Lily akhirnya penuh amarah dan kegeraman.
Ia juga mengingat kematian suaminya seraya mengusap kedua bulir bening di matanya. Hatinya masih sedih jika mengingat seluruh anggota keluarga suaminya dibantai kala itu. Namun, hidup harus berlanjut. Suaminya juga pasti mau dia bangkit dan memusnahkan lycan tersebut. Dan mungkin, inilah saatnya.
"Banyak yang sudah kelaparan dan tertindas karena ulahnya. Mungkin sebentar lagi ia akan membuat dunia ini hancur bagai di neraka dan membawa kita ke dalam dunia kegelapan," sahut Tuan Luke.
Alice bahkan sampai mengucapkan kata mutiara sumpah serapah sampai menggebrak meja. Ia terlihat benar-benar marah dan membenci kawanan lycan yang menculik Ella.
"Kita akan musnahkan dia!" seru Alice.
"Wow, simpan semangat mu, Al. Pikirkan usia kandunganmu yang masih muda itu!" sahut Tabib Lily.
"Sabar, Al. Aku pasti akan memusnahkan para lycan itu dan menyelamatkan nenekku serta Ella," ucap Arthur seraya menarik tangan gadis itu untuk duduk.
"Jadi, apa kau siap memimpin kami untuk memusnahkan kawanan lycan itu, Pangeran? Ummm, maksudku Raja New Silk yang baru?" Tuan Luke menunjuk Arthur.
Semua mata tertuju pada pemuda itu kini. Mereka mengharap jawaban dari bibir Arthur yang masih mengatup diam.
"Aku belum pantas, Paman."
"Kau sudah pantas, Arthur. Aku yakin kau bisa menjadi raja yang bijaksana, pemberani dan kuat," puji Tuan Luke.
Alice menggenggam tangan kanan Arthur dan tersenyum seraya mengangguk ke padanya.
"Tapi maaf sebelumnya, bagaimana jika kita kalah? Aku juga tak tega jika nantinya banyak melihat penderitaan rakyat yang berada di wilayah ini. Aku takut banyak korban lagi," sahut Arthur.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...