Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
9. Aku Tahu


__ADS_3

Bab 9 MVILY


Setelah Alice mendengar kebencian Arthur pada ayahnya bahkan tetap menganggap keluarga Jhonson pengkhianat, membuat Alice sangat marah.


"Kau kenapa, Al?" tanya Ella.


"Arthur mendorongku sampai jatuh, nih! Huh, menyebalkan sekali pria itu. Sungguh kasar dan arogan," gerutu Alice seraya menunjukkan luka di dahinya.


Ella segera meraih kotak obat untuk mengobati luka sahabatnya itu.


"Tadinya aku pikir pangeran kita sungguh kejam. Bahkan aku percaya dengan gosip mengenai tewasnya bekas pelayan dia karena ulah dia juga. Tapi sekarang–"


"Tapi sekarang kenapa, hah?" Alice sampai mendelik menatap Ella..


"Aku yakin saat itu Pangeran Arthur lah yang menolongku. Dia bukan orang jahat, Al," sahut Ella seraya menempelkan plester di dahi Alice.


"Aww! Jangan kencang-kencang, El! Kau membuatku makin sakit saja," sungut Alice.


"Maaf, Al," lirih Ella.


"Justru aku semakin menyangka kalau bisa saja Arthur memerintahkan anak buahnya untuk mencelakai mobil ayahku kala itu, kan?" tanya Alice.


"Pangeran Arthur, Al. Kau harus memanggilnya pangeran," sahut Ella.


"Aku tak peduli! Pokoknya aku kesal dengannya. Bisa-bisanya dia mendorong ku sampai terluka begini," tukas Alice.


"Mungkin karena kau mengeluarkan darah. Dia pasti tak tahan dengan darahmu," sahut Ella.


"Hahaha, kau masih saha curiga kalau si pangeran itu vampir, begitu? Kau sangat konyol, El!"


Alice masuk ke dalam kamarnya untuk merebahkan diri. Menatap ke arah langit-langit kamat, tiba-tiba timbul rasa dendam yang ingin dia balaskan.


"Aku tak peduli lagi kau siapa. Tujuan ku ke sini untuk mengembalikan nama baik ayahku. Tapi, kau malah semakin membuat nama baiknya hancur. Jika kau ingin keluarga ayahku kau panggil pengkhianat atau penjahat, maka aku akan mengambil julukan itu. Lihat saja Arthur, aku akan menghabisimu!" ucap Alice bermonolog pada dirinya sendiri.


***


Keesokan harinya, Alice dengan nekat memberi racun yang ia tuang di bubur jagung yang dicampur suiran ayam kegemaran Arthur untuk sarapan. Alice yakin kalau Arthur akan mati dan dia akan pergi jauh dari kerajaan melarikan diri.

__ADS_1


Hari itu Ratu Samantha bahkan memuji masakan lezatnya. Hanya bubur untuk Arthur yang dia bubuhi racun dan dibawa ke dalam kamar Arthur. Alice menanyakan pada Pengawal Leon apa Arthur memakan habis buburnya, dan Leon menjawab iya dengan yakin. Alice sangat senang dan sangat percaya perkataan Leon, apalagi dia sempat mengintip kalau Arthur sedang memasukkan suapan penuh bubur buatannya ke dalam mulut pria itu. Kini, Alice harus bergegas kabur sebelum dia ditetapkan sebagai tersangka dan meringkuk di penjara bawah tanah kerajaan yang mengerikan.


Namun sayangnya, Arthur meminta dua pengawalnya untuk menjaga Alice. Gadis itu tak dapat kabur. Arthur sebenarnya tahu kalau dia diberi racun oleh Alice. Namun lagi-lagi, dia membiarkan gadis itu tetap hidup dan ada di kerajaan karena ingin Alice tetap dekat dengannya. Arthur jadi ingin tahu tentang keluarga Morgan Jhonson yang sesungguhnya melalui putri konyol dan cerobohnya. Gadis yang sok tahu dan sok pemberani tetapi nyatanya ia hanyalah bagaikan gadis sangat bodoh bagi Arthur.


...***...


Keesokan harinya, Alice diminta memberikan teh hangat dan biskuit gandum pada Pangeran Arthur di ruang kerjanya. Alice awalnya takut dan berusaha menghindar tetapi tak bisa. Saat ia masuk ke ruang kerja sang pangeran, tampak Tuan Bernard dan Mark serta beberapa pengawal sedang membicarakan sesuatu dengan pangeran tersebut.


"Letakkan makanan itu di sana!" seru Tuan Bernard menunjuk meja besar tempat yang biasa para pelayan meletakkan makanannya.


Alice segera melakukan perintah dari pria paruh baya itu seraya melirik ke arah Mark yang juga melirik ke arahnya. Mark tersenyum ke arahnya. Gadis itu lalu berdiri di samping meja tersebut. Tanpa sadar Alice melakukannya karena ingin tahu pembicaraan tersebut.


"Kenapa kau masih berdiri di situ? Lekas pergi dari sini!" seru Tuan Bernard.


Alice tersentak dan segera pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan kesal. Ia tak tahu kalau sebenarnya Mark ingin menahannya agar tidak pergi. Namun, pemuda itu tak mungkin membantah ayahnya. Lalu, Alice memberanikan diri untuk mencuri dengar.


"Jadi, aku harap keamanan desa diperketat, dan cari tau tentang para Lycan tersebut. Aku tak ingin ada Lycan yang masuk ke wilayah kerajaanku!" seru Arthur.


"Tentu saja, Pangeran. Kami akan mengerahkan semua pasukan untuk menyusuri wilayah dekat hutan dan juga seluruh wilayah kerajaan kita. Anakku akan bertanggung jawab atas keamanan kerajaan." Bernard menepuk bahu Mark.


"Baiklah, kuserahkan semuanya kepada kalian. Kalian harus lakukan yang terbaik demi kerajaan," ucap Arthur.


"Lalu, bagaimana dengan vampir wanita yang kita temukan ayah?" tanya Mark.


Arthur terperanjat dan menoleh. Ia tak menyangka kalau ada vampir wanita yang tertangkap di wilayahnya. Kenapa Tuan Luke tidak mengatakan apa-apa, batin Arthur.


"Kalian yakin wanita itu vampir?" tanya Arthur.


"Tentu, Pangeran, kami sangat yakin. Mark anakku, harusnya kau tak perlu bertanya tentang itu. Kau sudah tahu kan kalau setiap vampir yang ditemukan harus diberi hukuman digantung lalu dibakar?" tanya Bernard.


"Iya, Ayah, tentu saja aku tahu," sahut Mark.


"Tunggu apa lagi? Lekas lakukan!" titah Tuan Bernard.


Mark bangkit dari peraduannya lalu pamit undur diri. Alice yang mendengar ada langkah kaki menghampiri pintu tempat ia bersembunyi, segera berlari kecil dan berpura-pura membersihkan guci besar kerajaan.


"Hai, Al! Kau sedang apa?" tanya Mark.

__ADS_1


"Hai, Mark! Aku sedang membersihkan ini," sahut Alice berbohong.


"Oh, begitu. Eh, bagaimana kalau sabtu nanti kita pergi ke pameran di pusat kota?" tanya Mark.


"Wah, kau mengajak aku kencan, ya?" Alice melirik manja pada Mark.


"Hehehe, anggap saja begitu. Bagaimana, kau mau kan?" tanya Mark.


"Tentu saja aku mau." Alice mengangguk.


"Oke kalau begitu sampai bertemu di sabtu nanti," ucap Mark lalu pergi dari Alice.


Rupanya, Arthur dan Bernard sempat melihat dan mendengar pembicaraan Mark dan Alice. Bernard menatap Alice dengan tajam dan sangat memperlihatkan ketidaksukaannya pada Alice yang dekat dengan putranya.


"Aku ingin merasakan biskuit kudapan dulu, silakan Anda pergi ke tempat pertemuan dengan para menteri terlebih dahulu," titah Arthud


"Baiklah, Yang Mulia. Silakan nikmati makanan Anda," ucap Bernard seraya menundukkan kepala lalu pergi menuruni anak tangga.


"Alice, kau cicipi dulu makannya!" titah Arthur memanggil Alice.


"Aku? Kenapa memang dengan makanannya?" tanya Alice.


"Memangnya aku memberi makanan itu racun apa?!" Alice kesal sampai berkacak pinggang.


"Aku tak membahas perihal racun. Aku hanya ingin kau cicip makanannya apakah asin atau tidak," tukas Arthur seolah baru saja membuat Alice tertohok.


Alice sadar kalau dirinya sedang terjebak.


"Apa kau pernah memberikan racun?" tanya Arthur.


"A-aku, aku tak mengerti apa yang Pangeran bicarakan." Alice segera masuk ke dalam dan mengunyah salah satu biskuit dengan kasar.


"Tuh, semua rasanya enak. Biskuit ini juga Bu Rose yang buat," sahut Alice.


"Alice, kau dengar ini, ya. Aku akan merahasiakan perbuatanmu ke padaku saat kemarin. Aku harap kau tak akan mengulanginya lagi!" tegas Arthur berucap tetapi dengan nada berbisik di samping wajah Alice.


...*****...

__ADS_1


...To be continued ...


__ADS_2