Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
37. Persiapan Perlawanan


__ADS_3

Bab 37 MVILY


"Aku punya teman, dia bahkan keturunan penyihir dan juga keturunan lycan," ucap Tabib Lily.


"Apa dia mau berperang melawan kaumnya sendiri?" tanya Arthur.


"Hmmm, aku rasa dia sosok yang memilih membela kebenaran. Hanya saja dia dalam pengasingan dan bukan perkara mudah untuk menemukannya," ucap Tabib Lily.


"Kau hanya harus yakin, Arthur. Kita kalahkan mereka," ucap Tuan Luke.


"Nanti kau akan berlatih dengannya. Kita akan cari tahu kelemahan para lycan ini. Aku yakin nenekmu akan tetap hidup karena mereka membutuhkannya untuk membuatmu datang menyerahkan diri," ucap Tabib Lily.


Arthur akhirnya bangkit dan meminta persetujuan semua yang ada di meja makan besar tersebut.


"Baiklah semuanya, tolong bantu aku untuk mempertahankan tanah kelahiran kita yang berharga ini dan layak untuk kita diperjuangkan. Bantu aku untuk memusnahkan para lycan jahat itu," pinta Arthur.


Tuan Luke dan Tabib Lily mengangkat gelas mereka. Lalu, semua yang ada di meja makan besar itu ikut serta mengangkat gelas satu persatu. Semuanya sudah yakin untuk membantu Arthur, bersekutu dengannya, dan mereka juga harus siap jika harus mengorbankan diri.


"Aku akan tetap bersamamu sampai mati, Arthur," sahut Alice.


"Terima kasih, Sayang." Arthur mengusap bahu Alice.


"Berjuanglah, Arthur. Beri semangat pada rakyat ini untuk memusnahkan para makhluk jahat!" tukas Tuan Luke.


"Baik, Paman. Tapi … ummmm, sepertinya aku merasa kehilangan arah dan tak yakin dengan kekuatanku sendiri. Bagaimana jika aku malah mengorbankan kalian untuk hal yang sudah pasti tak bisa aku dapatkan?" tanya Arthur yang kembali ragu.

__ADS_1


"Jika kau semangat berjuang, pasti kami di sini juga akan semangat berjuang. Tak akan ada perjuangan yang sia-sia, jika kita mau memperjuangkannya sampai titik darah penghabisan," ucap Tuan Luke.


"Paman Luke benar. Hei, aku pun akan membela mu sampai titik darah penghabisan. Aku akan berada di garis terdepan untuk melindungimu," sahut Alice.


"Aku juga!" sahut Tuan Brian sang kaki tangan Tabib Lily yang tiba-tiba berdiri sambil mengangkat tangan kanan ke atas seraya mengepal.


"Terima kasih, kita akan berjuang memusnahkan para lycan itu," ucap Arthur.


"Aku juga ikut! Kita akan berjuang membantu Arthur!" seru Delilah yang dari tadi sibuk menyiapkan makanan penutup.


Tuan Luke tersenyum menatap Arthur dengan bangga. Para warga yang tersisa di sana pun ikut berdiri seraya berseru.


"Kita akan berjuang denganmu, Pangeran Arthur!"


...***...


Malam itu, Delilah menemui Arthur yang baru saja keluar dari kamar Alice.


"Halo, Pangeran! Aku Delilah, aku siap melayani Anda," ucapnya.


"Kau membantu mengobati orang sakit di sini, ya?" tanya Arthur.


"Yup, itu betul. Aku murid terbaiknya Tabib Lily," aku Delilah.


"Bagus kalau begitu. Apa aku boleh meminta tolong?" tanya Arthur.

__ADS_1


"Tentu saja boleh, aku akan siap sedia menolong Pangeran." Delilah tersenyum manja dan genit pada sang pangeran.


"Apa kau bisa membantu calon istriku untuk mempelajari pengobatan herbal seperti yang kau dan Tabib Lily lakukan?" tanya Arthur.


"Calon istri Anda? Maksud Anda Nona Alice?" tanya Delilah seraya terperanjat.


"Iya, apa kau bisa?"


"Hmmmm, ya sudah kalau begitu besok aku coba ajari. Tapi kenapa Anda mau menjadikannya seorang istri? Sepertinya dia bukan gadis standar untuk pangeran," cibir Delilah.


"Alice sempurna untukku. Dia bahkan sedang mengandung anakku. Setelah perang melawan lycan ini, kamu akan segera menikah," ucap Arthur mengulas senyum yang menyiratkan kebahagiaan.


Delilah hanya tersenyum kecut. Namun, di dalam hatinya masih terbesit rasa ingin memiliki Arthur. Perempuan itu memiliki perangai buruk sebenarnya. Ia selalu ingin semua pria menyukainya. Dia juga tak akan membiarkan pria mana pun lepas darinya. Oleh karena itu, banyak teman gadisnya menjauh. Delilah kerap merebut perhatian para pria yang menyukai temannya, ketika sudah didapat lalu dibuang begitu saja, ditinggalkan.


Sosok Arthur mampu menggugah hatinya lebih dalam. Bahkan dia bertekad ingin merebut Arthur dari Alice. Prinsip hidup Delilah apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan.


Esok hari ketika matahari terbit, Arthur dan Tuan Luke akan menyusun strategi perang. Sementara Tabib Lily dan Tuan Brian menyiapkan para warga untuk menjadi prajurit perang dadakan bersama sang pangeran New Silk.


Sementara itu, Alice tengah mempelajari teknik pengobatan pada Delilah. Ia ingin sigap dan paham tindakan medis dalam membantu mengobati luka prajurit di medan perang nanti. Alice juga belajar mengobati hewan kelinci terlebih dahulu. Namun, Alice merasa sikap Delilah sangat ketus terhadapnya.


"Apa ada yang salah denganku?" tanya Alice.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2