Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
43. Mencari Jejak Alice


__ADS_3

Bab 43 MVILY


Ratu Samantha meminta para warga yang masih tersisa di penampungan itu agar berkumpul untuk sarapan. Rasa lapar yang meradang dan membuncah berbanding terbalik dengan stok makanan yang mulai sedikit. Hal itu cukup membuat wanita paruh baya itu kebingungan membagi jatah makanan.


Arthur berjalan menuju meja makan besar yang berada di area tengah. Dia berharap sang nenek sudah membuatkan banyak makanan di sana. Namun, beberapa di antara warga tampak kecewa. Akan tetapi, mau bagaimana lagi mereka harus berhemat dalam hal makanan.


Ratu Samantha lantas meminta Arthur untuk duduk. Dia memenuhi piring pemuda itu dengan telur, sosis, kue strawberry, dan sepotong melon hijau muda. Semuanya langsung melahap dan mengisi perut dengan rakus.


Matahari terbit kini mulai menyinari area pengungsian tersebut. Ratu Samantha kembali mengisi piring kedua dengan gandum panas yang disiram rebusan daging sapi. Meskipun porsinya sangat sedikit, hanya seperempat piring di hadapan Arthur.


Delilah tampak memenuhi piring dengan roti dan duduk di kursi depan meja kayu panjang. Wanita itu memecah-mecahkan roti dan mencelupkannya ke dalam cokelat panas. Ia harus mencukupi perutnya sendiri agar tak kelaparan. Yang lainnya juga tampak melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Delilah. Sunyi, sepi, tanpa ada yang berbincang seperti biasa. Mereka tampak ketakutan jika diserang para lycan atau malah mati kelaparan.


"Kenapa kau terdiam, habiskan makananmu!" Ratu Samantha menepuk punggung Arthur kala melamun dan memikirkan Alice.


"Aku hanya … Nenek tau kan apa yang sedang aku pikirkan?" ucap Arthur.


"Sudahlah, Arthur. Nenek yakin kalau Alice dan bayinya pasti baik-baik saja." Ratu Samantha mengulas senyum yang hangat.


Setelah itu, Arthur menyapa Tuan Albert yang datang bersama Tuan Luke. Mengucap selamat pagi dan menjabat tangan si manusia serigala itu. Ratu Samantha lantas mengisi piring kedua pria yang baru datang itu dengan gandum dan rebusan kuah daging kelinci.


"Aku dengar kalau pemburu makhluk sudah tak ingin lagi terlibat dengan pertarungan. Mereka ketakutan dan hendak kabur saja menghindari Lord Gevil dan kawanannya yang sangat kejam," ucap Tuan Albert.


"Apa kau punya kawanan, Tuan Albert?" tanya Arthur.


"Tampaknya hanya tinggal aku saja dari kaum ras ku," sahutnya.

__ADS_1


"Lalu, apa kau bisa yakinkan mereka untuk tetap bergabung dan jangan takut menghadapi para Lycan?" tanya Arthur.


"Mungkin beberapa pengikut bisa aku ajak. Tapi, aku dengar pemimpin mereka sudah berganti dan dipimpin Mr.Beast," tukasnya.


Arthur dan Tuan Luke saling bertatapan.


"Kami yang menghabisi pemimpin sebelumnya," ucap Luke.


"Apa?! Kau membunuh manusia?" tanya Albert.


"Dia bukan manusia, Albert. Dua juga makhluk seperti kita," sahut Tuan Luke.


"Aku benar-benar tidak menyangka kalau pemimpin mereka seorang makhluk yang tega memburu makhluk lainnya. Benar-benar egois, cih!" cibirnya.


"Nek, pemimpin pemburu makhluk sebelumnya adalah Tuan Doug, ayahnya Ella," bisik Arthur.


"Aku pun tak percaya, Nek. Tapi, begitulah yang terjadi," imbuh Arthur.


"Hari ini kita akan mencari jejak Nona Alice. Kita juga akan mengumpulkan makanan di hutan. Tuan Edward akan melatih para warga untuk bertarung juga. Lalu, Delilah dan Yang Mulia Ratu akan menyiapkan makan siang," ucap Tabib Ly menyela dan berbicara pada yang lainnya.


"Baiklah, aku setuju," ucap Tuan Luke.


Arthur, Albert dan lainnya juga mengangguk setuju.


...***...

__ADS_1


Arthur, Tuan Albert, dan Tuan Luke tengah mencari jejak Alice sesuai indera penciuman Tuan Albert yang lebih tajam.


Sementara itu, Tabib Ly yang telah mengumpulkan makanan di dalam hutan, mengajak para warga itu untuk kembali dan meletakkan hasil temuan mereka di gudang penyimpanan.


"Aku tegang menghadapi latihan," kata Delilah.


"Tenanglah, aku yakin kau pasti bisa." Ratu Samantha tersenyum hangat pada Delilah.


"Bagaimana bila Alice tak selamat? Apa aku boleh mendaftar untuk mendampingi Pangeran Arthur?" tanya Delilah secara gamblang.


"Haha, kau sangat agresif sekali, Nak. Tapi, Arthur sangat sulit untuk jatuh cinta lagi. Alice lah yang mampu menaklukkan hatinya," imbuh nya lalu menuju ke arah dapur.


"Hmmmm, lihat saja nanti ketika Alice tiada. Aku akan merebut hatinya Arthur, ya kan Ella?" Delilah menoleh pada Ella yang memerhatikan sedari tadi.


Tangan gadis itu mulai dapat bergerak dan mengisyaratkan kata tidak.


Namun, Delilah tak peduli. Perempuan itu sudah membayangkan kematian Alice. Lalu, Arthur akan membuka hati untuknya. Tangan Ella terlihat memutar-mutar roti yang baru dia ambil dari piring secara perlahan, akan tetapi mendengar penuturan Delilah akan mimpinya mendampingi Arthur, malah membuat nafsu makannya mendadak hilang.


"Delilah, kau sudah selesai kan menata gudang makanan?" tanya Ratu Samantha.


"Sudah, Yang Mulia Ratu!" sahut Delilah penuh antusias.


"Ayo, bantu aku bereskan urusan dapur!" ajak sang ratu seraya mendorong kursi roda Ella untuk tetap dekat dengannya.


Sementara itu, Delilah melakukan pemanasan streching ringan karena akan mulai sibuk memasak bersama Ratu Samantha.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2