
Bab 50 MVILY
Malam itu, Arthur mendekat ke arah Alice yang sedang merenung di sebuah taman. Pemuda itu sebenarnya masih memikirkan kata-kata Tabib Ly kalau jarang manusia yang akan bertahan memiliki bayi vampir jika dia tidak punya kekuatan. Namun, Arthur hanya tahu kalau Alice merupakan manusia biasa saja.
"Hai, apa aku mengganggumu?" tanya Arthur.
"Hai! Tolong jangan paksa aku untuk ingat siapa kau. Apalagi harus ingat kalau aku mencintaimu. Aku hanya mencintai Lord Gevil," tutur Alice.
"Entahlah aku harus sedih atau malah harus tertawa mendengarnya. Tapi tenang saja, aku tak akan memaksa mu. Aku hanya ingin di sini bersamamu memandang para bintang itu. Boleh, kan?" tanya Arthur.
Alice awalnya ragu dan ingin menggeleng, tetapi entah mengapa kepalanya reflek mengangguk. Tubuhnya sontak menggeser ke kiri seolah mempersilakan Arthur duduk di sampingnya. Dia atas batu besar yang kerap dijadikan tempat duduk itu.
Suasana canggung tercipta. Keduanya hanya diam dan menatap bintang. Awalnya, Alice malah gemas kenapa Arthur hanya diam saja, tetapi dia juga takut untuk memulai pembicaraan. Rasanya enggan bertutur kata dengan orang asing baginya kala itu.
...***...
Sementara itu, Lord Gevil mulai dipenuhi dengan angan-angan untuk berkuasa. Hasrat membunuhnya mulai kuat kala ia pernah sekali menghabisi dan ketagihan akan darah seorang manusia. Ketika hendak mendapatkan mangsanya, dia akan bersembunyi di hutan sambil menyamar menjadi orang yang tersesat dan butuh pertolongan. Saat sang mangsa terkena tipu daya dan sudah berada di tangan, ia mulai menikmatinya dan menyerap kekuatan mangsanya.
Kemudian, dia membuat koloni baru dengan mencari para lycan di seluruh belahan bumi. Pembunuhan yang dilakukan oleh Lord Gevil dan koloninya terbilang cukup sadis. Ia biasa merobek tenggorokan korbannya dan menghisap darahnya. Secara perlahan, keinginannya akan daging manusia menjadi tidak tertahankan sehingga ia terus berburu untuk memuaskannya. Dia selalu mencari mangsa yang memiliki kekuatan yang bisa dia serap.
Lord Gevil dan kawanan lycan miliknya lalu tercatat semenjak itu sebagai kawanan pembunuh berantai paling sadis di dalam sejarah. Kejahatan yang dilakukannya begitu mengerikan akan tetapi tak pernah terjamah dan terburu oleh pemburu makhluk karena Lord Gevil begitu kuat.
Lycan Donyang selamat menemui Lord Gevil kala itu di tempat persembunyian baru.
__ADS_1
"Aku membawa sebuah kabar untukmu Yang Mulia," ucap Lycan Don.
"Apa itu?" tanyanya.
"Ini terkait dengan penglihatan Anda mengenai keberadaan Nona Alice," ucapnya.
"Apa kau sudah tahu tempatnya karena penglihatanku kala itu samar. Aku dapat melihatnya tetapi langsung terhalang," tukasnya.
"Saya curiga karena baru saja melihat dua orang yang keluar dari wilayah tersembunyi di tepi hutan terlarang. Mereka menuju kawasan kota dan sepertinya untuk mencari bahan makanan," ucap lycan tersebut.
"Kalau begitu kau buat salah satu anak buahmu untuk mengikuti mereka pulang," titahnya.
"Baik, Yang Mulia."
"Bagaimana kalau aku saja yang masuk ke sana, Yang Mulia?" ucapnya menawarkan diri.
"Bagus, aku suka idemu! Nah, buatlah dirimu celaka seolah kau habis dipukuli para lycan. Buat dirimu layaknya pembelot penghianat kawananku." Lord Gevil punya ide.
Lycan Don menganggukkan kepala menuruti perintah dari Lord Gevil. Dia lantas pergi untuk selanjutnya menjalankan misinya bertemu dengan Delilah dan Joshua.
***
Sementara itu, hari mulai menjelang malam, setelah Joshua dan Delilah selesai melakukan penukaran bahan-bahan makanan, mereka berencana kembali ke Desa Tersembunyi. Akan tetapi, ada dua orang yang sudah menunggunya di jalan setapak menuju hutan terlarang tersebut dan salah satunya adalah Lycan Don yang sudah menyamar sebagai manusia dengan kekuatan sihir Tabib May.
__ADS_1
Joshua dan Delilah mengamati kedua orang tersebut sedang dalam luka parah karena dipukuli oleh para lycan. Dan mereka berhasil kabur ke tempat itu dan berusaha menemui siapa pun yang dapat menolongnya.
"Jadi, kau orang yang dapat membebaskan kami dan menyelamatkan kami?" tanya Lycan Don berpura-pura kesakitan.
"Benar sekali, Tuan. Ummm, apa kalian kabur dan membelot?" tanya Joshua.
Kedua sosok lycan yang sudah menjadi manusia itu akhirnya mengangguk bersamaan. Dan akhirnya Joshua membawa mereka itu masuk ke dalam hutan terlarang. Pria itu juga sempat berpikir kalau sekarang ini kawanannya juga butuh bala bantuan agar bisa melawan kawanan Lord Gevil.
"Apa kau yakin kita akan membawa mereka ke tempat persembunyian?" bisik Delilah.
"Lihatlah mereka terluka. Tidakkah kau kasihan pada mereka?" Joshua balik bertanya.
"Terserah kau saja lah!" sungut Delilah.
Lycan Don masih berusaha untuk tetap bersikap biasa saja dan terlihat seperti manusia biasa. Tujuannya adalah dia harus mengikuti Joshua masuk ke dalam sebuah tempat rahasia yang dirahasiakan selama ini oleh Tabib Ly.
Ada dua pohon besar menyambut kedatangan mereka dan yang lainnya kala itu. Sebenarnya Delilah merasakan ada yang ganjil dan perasaan gelisah di hatinya. Namun, dia tak bisa menemukan apa yang akan membuatnya khawatir. Penyamaran Lycan Don memang sangat baik.
Dengan kata kunci dan kekuatan yang diberikan oleh Tabib Ly pada Delilah, gadis itu selalu bisa merapalkan mantera itu untuk membuka kabut penutup wilayah itu. Delilah, Joshua, dan dua orang pria tersebut masuk ke dalam wilayah Desa Rahasia. Desa di mana Pangeran Arthur dan Alice ada di sana.
...*****...
...To be continued. ...
__ADS_1