
Bab 51 MVILY
Alice mulai membuka diri untuk berteman dengan para warga di desa rahasia itu termasuk dengan Arthur. Ella juga sudah membaik. Meskipun kedua kakinya masih terasa kaku dan lumpuh, tetapi Ella sudah bisa berbicara. Alice merasa sangat dekat dengan Ella meskipun dia masih belum bisa mengingat wajah Ella dan apa hubungan mereka sebelumnya.
"Alice, minum dulu ramuan penguat kandungan mu ini." Tabib Ly mendekat. Dia berbohong agar Alice mau meminumnya.
Tabib Ly berharap, ramuan itu akan melunturkan sihir di dalam tubuh Alice. Setelah Alice menghabiskan semua ramuannya, Tabib Ly menyentuh tangan Alice. Dia merasakan aura kegelapan sosok makhluk yang lain.
"Ini bukan aura manusia. Apa karena dia mengandung anak Pangeran Arthur, maka aku bisa merasakan aura makhluk lain ini?" gumamnya.
"Anda bilang apa, Tabib Ly?" tanya Alice.
"Tidak, tidak, bukan apa-apa. Aku memang kerap berbicara sendiri jika sedang mengobati," sahutnya berbohong.
Namun, Tabib Ly semakin merasa kalau dia baru saja merasakan sosok lycan.
"Tabib Ly, Delilah dan Joshua sudah pulang," ucap salah satu warga datang membawa laporan.
Tabib Ly mengangguk. Dia juga menoleh pada Tuan Luke, mengisyaratkan ada yang ingin dia bicarakan hanya berdua saja, pembicaraan empat mata.
...***...
Di gerbang desa rahasia.
"Siapa yang kalian bawa itu?" tanya seorang pria paruh baya yang bernama Wellington.
"Halo, Kakek Wellington! Joshua menemukan mereka di tepi jalan. Mereka selamat dari serangan kawanan Lord Gevil," ucap Delilah.
"Aku akan membuatkan sup untuk mereka agar membantu mereka pulih dengan cepat," sahutnya.
"Terima kasih, Kek." Delilah melayangkan senyum.
Delilah mencari keberadaan Arthur. Hati gadis itu langsung berkecamuk kala melihat kedekatan Arthur dan Alice. Keduanya tampak tertawa saat membantu Tuan Luke membuat busur panah.
"Aku merasakan ada aroma dan aura gelap yang masuk ke sini," ucap Tabib Ly yang mendekat ke arah Arthur dan Alice.
"Hanya Joshua dan Delilah yang baru sampai. Apa mereka memiliki aura gelap?" Arthur sampai terkekeh mengatakan kelakarnya sendiri.
__ADS_1
"Tidak, Pangeran. Aku yakin ada aura yang beda," ucapnya.
Tuan Luke bangkit berdiri saat Delilah dan Joshua melapor. Pria itu bertatapan sekilas dengan Tabib Ly, lalu keduanya meminta Delilah mengantarkan mereka menemui Lycan Don.
"Tidakkah kalian sadar kalau kalian membawa seorang penyusup," ucap Tuan Luke yang menatap tajam ke arah Lycan Don.
"Maksud Tuan Luke apa, ya?" tanya Joshua.
"Iya, aku tak mengerti apa yang dimaksud oleh Tuan Luke kalau aku membawa seorang penyusup," sahut Delilah.
"Tuan Don, sedang apa kau di sini?" Alice tampak mendekat tetapi Arthur menahan tangannya.
"Putri Alice? A-aku, aku hanya…."
Lycan Don tahu kalau dirinya mulai terancam. Perlahan-lahan ia mulai melangkah mundur untuk merencanakan kabur melalu gerbang tadi. Namun, gerakannya kurang cepat. Tuan luke langsung melompat untuk menghadangnya. Ia mencengkeram kuat sang lycan dan membuat Don tak bisa bergerak. Ia kesulitan bernapas karena dicekik.
"Apa aura lycan ini yang aku rasakan tadi?" gumam Tabib Ly.
"Tuan Luke, apa yang kau lakukan? Lepaskan dia!" pekik Alice.
Dia memperlihatkan sosok lycan di wajah Don. Lycan itu sudah kembali ke wujud aslinya. Tubuhnya bahkan penuh bulu dengan gigi tajam bak serigala itu hadir menampakkan diri. Semua yang ada di dekat Lycan Don lalu mundur.
"Ba-ba-bagaimana aku tak menyadari kehadiran dia?" Joshua langsung gemetaran ketika melihat perubahan wujud pada Lycan Don.
"Dia seorang Lycan?" Delilah menatap tak percaya.
"Kalian terpengaruh sihir yang dia gunakan. Aku curiga ada penyihir lain selain aku yang membantu para lycan itu," tukas Tabib Ly.
"Lord Gevil yang menyuruhmu ke mari, bukan?!" seru Tuan Luke.
Lycan Don tak menjawab, ia hanya tersenyum menyeringai.
"Sebaiknya kita ikat dia agar tak bisa pergi," ucap Arthur.
Sosok lycan yang satunya juga sudah ditaklukkan oleh Arthur dab Joshua.
Delilaj menyerahkan seutas tali yang terbuat dari akar tumbuhan yang kuat pada Tuan Luke. Gadis itu dan Tuan Luke lalu mengikat kedua tangan Lycan Don. Mereka lantas membawa Don dengan menarik lengannya. Dia diikat di sebuah tiang yang disiapkan oleh Tuan Albert.
__ADS_1
Pandangan mata Lycan Don tertuju pada Alice.
"Selamatkan aku Putri Alice, selamatkan aku. Mereka yang jahat bukan aku. Tolong selamatkan aku," ucap Don menatap Alice dengan tatapan memelas.
"Tak akan aku biarkan kau merebut Alice-ku lagi!" Arthur menampar lycan Don sampai sudut bibir pria itu mengeluarkan darah segar yang menghitam.
"Tenang saja, Alice, kau aman di sini," ucap Ratu Samantha mengusap bahu Alice.
"Lepaskan aku! Kalian semua jahat!" pekik Alice mendekat ke arah Don.
Tuan Luke menariknya dan menyerahkan Alice pada Arthur.
"Katakan padaku, apa yang Lord Gevil lakukan pada Alice?!" Tuan Luke kembali memukuli Lycan Don.
"Itu cinta sejati, Tuan Vampir. Mereka saling mencintai. Yang Mulia Lord Gevil sangat baik dan akan melindungi Putri Alice dari tangan-tangan busuk macam kalian." Tawanya kemudian terdengar menggelegar.
Arthur menyerahkan Alice pada neneknya dan Tabib Ly. Ia dengan penuh emosi memukuli Don sampai babak belur. Alice mememik dan mengutuk Arthur.
Don malah mengejek semua yang menatapnya kini.
"Kupikir, kawananku masih lebih banyak dari kalian," ucapnya menyeringai.
"Lalu, kenapa memangnya? Sudah kubilang jangan banyak mulut!" Arthur memukul Do kembali.
"Kalian hanyalah butiran debu di mata pasukan Yang Mulia Lord Gevil. Apalagi aku akan mengatakan keberadaan sang permaisurinya itu padanya sekarang," ucap Don.
"Dia hanya sampah!" pekik Arthur.
"Dia penguasa yang hebat. Pada siapa lagi aku mengabdi. Dialah Raja baru yang akan memimpin dan menyatukan West Bloom dan New Silk yang sekarang. Dan dia juga yang akan menjadi pemimpin para lycan apalagi setelah ia mendapatkan kekuatan anak itu, anak Putri Alice," ucap Lycan Don.
Goldice dan Icy mendekat.
"Ada keributan apa ini?" tanyanya.
...*****...
...Bersambung dulu, ya....
__ADS_1