
Bab 12 MVILY
Gadis itu melangkah mendekat tetapi tubuhnya agak limbung karena pengaruh wine tadi.
"Kau mabuk, ya? Pantas saja semua kata-kata yang keluar dari bibir kotormu itu sampah!" cibir Arthur.
"Kau bilang aku sampah? Kau yang sampah! Kau hanya pangeran busuk yang suka memerintah, suka mengatur ini itu bahkan hidupku saja kau atur. Kau juga tak peduli dengan nasib bawahan karena kau juga tak punya rasa simpatik, dan aku yakin itu! Pantas saja dewan kerajaan masih ada yang ragu menjadikanmu Raja New Silk. Kau bahkan tak pantas menggantikan posisi ayahmu itu!" Alice meracau dengan sepasang mata yang melotot penuh amarah.
Minuman yang pastinya mengandung alkohol tadi mampu membuat Alice jadi punya keberanian untuk mengeluarkan keluhan isi hatinya di hadapan sang pangeran.
"Kalau kau sudah puas berbicara, sekarang pergi dari sini! Aku anggap hal ini tak pernah terjadi dan aku memaafkan mu," ucap Arthur.
"Apa? Memaafkan aku? Kau bodoh, ya? Justru kau yang harus minta maaf padaku. Eh, tunggu, minta maaf saja juga tak akan mengembalikan keluargaku! Kau harus mati!" pekik Alice.
"Ayahmu memang pengkhianat! Dia yang membuat keluargaku tewas dalam liburan itu dan aku masih selamat. Mungkin ini juga alasan Tuhan yang membiarkan aku selamat agar aku bisa mengetahui kebenarannya. Kebenaran tentang keluarga Jhonson yang mengkhianati kerajaanku," tukas Arthur.
"AYAHKU BUKAN PENGKHIANAT!"
Alice meraih buku bacaan favorit Arthur. Buku yang ayahnya hadiahkan saat ia berusia sepuluh tahun. Dengan nekat Alice merusaknya. Dia bahkan membanting buku tersebut dan menginjaknya di lantai.
"Apa yang kau lakukan? Harga buku itu bahkan tak sebanding dengan gaji mu dalam sebulan!" bentak Arthur.
"Aku tak peduli! Lalu?"
Alice menghampiri botol Cabernet Sauvignon di atas meja samping sofa yang ada di kamar Arthur. Dia lalu menuangnya ke segala arah. Alice juga menenggak habis isi botol yang tinggal seperempat itu dalam sekali teguk.
__ADS_1
Arthur mulai naik pitam, ia tak jadi memanggil para pengawal untuk mengusir Alice. Pria itu malah melangkah menghampiri gadis yang tengah mabuk itu dengan mencekik leher gadis tersebut sampai menyudutkannya ke dinding. Abi mendekatkan hidungnya pada bibir Alice untuk mencium aroma alkohol dari mulut gadis itu. Alice melihat dua taring kecil yang mencuat dari dalam mulut Arthur terselip di deretan gigi putihnya yang rapi.
“Dasar gadis pengecut, kau berani mengatakan semua itu karena kau dalam keadaan mabuk. Kalau saja kau dalam keadaan sadar, pasti tak akan berani berulah seperti ini. Kupikir kau akan menuruti semua perintahku selamanya dengan bodohnya," ucap Arthur.
“Apa ini? Apa benar ang dibilang Ella kalau kau vampir? Hahaha, itu pasti hanya khayalannya saja. Ini pasti gigi palsu seperti taring anak anjing huahahaa." Alice makin terbahak-bahak.
"Dasar kau–"
"Asal kau tahu saja Pangeran Arthur yang terhormat dan dimuliakan oleh warganya. Aku lelah dengan semua perintahmu. Aku juga muak dengan segala tingkah sok kuasamu itu. Kau sungguh menjijikkan tau! Aku hanya bertahan karena ingin mendapat kesempatan untuk menghabisimu," ucap Alice lalu tertawa.
"Kau ini…."
"Ada apa denganku? Aku kenapa? Apa aku salah? Aku benar dan sangat benar kalau kau itu hanyalah pria dungu yang berlindung di balik tahta kerajaan. Kau tak bisa membuktikan apapun bahkan pada nenekmu sendiri. Atau jangan-jangan kau itu memang penyuka sesama jenis, atau malah pria yang tak bisa membuktikan apa pun pada wanita, begitu?"
Alice yang berada di bawah pengaruh alkohol itu, terus saja menghina sang pangeran.
“Bisa-bisanya kau ambil kesimpulan aku tak bisa membuktikan apapun,” ucap Arthur yang tertantang.
Alice lalu mencoba bangkit. Gadis yang mabuk dan nekat masuk ke dalam kamar milik Arthur untuk menghabisinya itu menghunuskan pisau lipatnya pada Arthur. Sang pangeran mencoba membela diri dari Alice yang siap menghunuskan belati tajam yang ia bawa dari luar.
Di tengah pergulatan dan luapan emosi Alice itu, Arthur malah melayangkan ciuman pertama dan tanda kepemilikan di seluruh tubuh gadis itu. Pria itu lantas melepas jas yang ia kenakan. Ia juga membuka kancing kemejanya satu persatu. Aroma tubuh Alice kini tak ingin lagi ia hisap darahnya. Namun, hasrat yang bangkit malah berbeda.
Saraf-saraf otak dalam tubuh Alice terkejut dan ingin memberontak serta dengan tegas menolak, tetapi ia malah hanya bisa terdiam. Alice menikmati serbuan nafsu dari seorang pria yang ia benci itu.
Entah karena gadis itu sedang mabuk, atau karena ia mulai menyukai sentuhan yang diciptakan oleh Arthur untuk kali pertama dalam hidupnya tersebut. Alice sampai lupa dengan niatnya untuk menghabisi Arthur.
__ADS_1
Meskipun berkali-kali Alice mencoba mendorong tubuh lelaki tersebut, tetapi tenaga Arthur lebih kuat. Bahkan pria bertubuh tegap itu mencengkram kedua tangan mungil sang gadis dan menahannya di atas ranjang. Arthur menatap lekat kedua mata Alice. Gadis itu tampak menghindari, tetapi tangan pria itu membawa wajah cantik sang gadis untuk menatapnya kembali.
"Kau milikku malam ini," lirih Arthur.
Alice mencoba meronta, tetapi dia tak kuasa menahan dirinya untuk tetap fokus. Dia menyukai permainan Arthur. Keduanya makin tak terkendali dan melakukan malam pertama mereka. Hampir saja Arthur kehilangan kendali lagi dan menghisap darah Alice. Namun, pemuda itu segera pergi menjauh. Alice lantas terlelap di atas ranjang Arthur.
"Dasar bodoh! Apa yang kau lakukan Arthur! Aaaarrrgghh! Kenapa aku bisa kehilangan kendali seperti ini?" Arthur menjambak rambutnya sendiri saat menyesali perbuatannya pada Alice. Pria itu tampak kebingungan.
Pada akhirnya, Arthur takut saat Alice terbangun di kamarnya dalam keadaan tak memakai sehelai benang itu menjadi semakin marah. Toh, setengah jam yang lalu Alice memang berniat membunuhnya dalam pengaruh alkohol.
"Aku yakin dia akan mengira kejadian ini hanya mimpi. Aku harus bergegas saat semuanya tengah sibuk," ucap Arthur.
Arthur lantas memakaikan pakaian Alice kembali. Dia membopong tubuh Alice, lalu mengembalikannya ke kamar Alice tanpa ada siapa pun yang tahu. Jika nanti ada yang melihatnya, Arthur akan menyiapkan jawaban menemukan Alice tergeletak dekat kamarnya dan tengah mabuk.
"Syukurlah, tak ada yang melihatku. Untuk sementara ini kubiarkan kau selamat," ucap Arthur lalu meninggalkan Alice terbaring di atas rangannya.
Arthur sempat berbalik untuk menyelimuti Alice dan mengusap rambut perempuan itu sebentar. Saat itu, detak jantungnya melaju lebih cepat. Dia merasakan debaran berbeda yang membuatnya kehilangan kendali seperti tadi. Arthur mulai jatuh cinta pada Alice.
"Tidak! Aku hanya memberinya pelajaran," gumam Arthur lalu pergi.
Namun, saat Arthur pergi Ella melihatnya.
"Apa yang pangeran lakukan di kamar Alice, ya?"
Ella memeriksa kamar Alice dan mendapati Alice tangah terlelap pulas. Tak ada hal aneh yang terjadi. Akan tetapi, hatinya masih saja penasaran.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...