Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
15. Alice Diculik


__ADS_3

Bab 15 MVILY


Arthur terperanjat kala mendapati mayat seorang perempuan tanpa busana. Dia memastikan kalau itu bukan Alice yang tengah ia cari. Arthur lantas menghubungi Mark dan pihak kepolisian.


Untungnya, CCTV sekitar menangkap dua orang pelaku yang membawa Alice masuk ke dalam sebuah mobil van. Sementara, Mark dan tim polisi mencari Alice menyisiri wilayah kerajaan, Arthur memilih menuju ke kediaman Paman Luke.


Arthur memperlihatkan rekaman CCTV pada Paman Luke. Pria itu merasa dua pria tak dikenal itu membawa Alice ke perbatasan kerajaan. Arah mobil van mereka tampak menuju ke sana. Tuan Luke lantas mengajak Arthur menemui Tuan Harry di rumahnya.


"Kenapa harus Tuan Harry?" tanya Arthur saat di perjalanan.


"Percaya tak percaya, dia pencari jejak yang handal," tukasnya.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga jam menggunakan mobil pick up, mereka sampai juga. Seorang wanita dengan rambut perak menyambut keduanya. Mata teduh berwarna biru itu tampak cantik menunjukkan senyum sayu meskipun gurat keriput telah terlihat.


"Halo, Nyonya Ana! Apa Tuan Harry ada?" sapa Luke.


"Siapa kau, apa kau mengenal suamiku? Apa kau mengenalnya?" tanya wanita itu.


Luke menjawab dengan anggukan kepala. Wanita itu lalu mempersilakan Luke dan Arthur untuk masuk ke dalam rumahnya. Wanita itu menunjuk sebuah sofa agar tamunya itu duduk di sana.


"Silakan duduk, aku akan ambilkan air untukmu dan panggil suamiku untuk menemui kalian," ucapnya.


"Terima kasih," sahut Luke.


Nyonya Ana masuk ke dalam mencari suaminya.


Tak lama kemudian, Tuan Harry datang dan langsung menghamburkan diri pada teman masa kecilnya itu. Buliran bening lantas mengalir di pipi pria dengan perut buncit itu seraya memandangi wajah Luke.


"Kenapa kau senekat ini? Nanti mereka bisa tahu," bisik Harry.


Rupanya pria itu tahu wujud Tuan Luke yang sebenarnya.


"Maaf, aku tak bisa datang ke pemakaman anakmu. Sungguh aku ingin tapi pada saat itu, aku belum bisa beradaptasi dengan baik," ucap Luke.


"Aku tahu. Aku paham kenapa kau menghilang. Aku pelajari semua yang terjadi padamu," tuturnya lalu menatap Arthur.


"Dia … apa dia sejenismu juga? Wajah pucat itu sama denganmu dan iris mata itu berkilat sama denganmu?" tanya Tuan Harry.


"Aku terpaksa melakukannya karena dia tak akan bisa selamat saat itu," ucap Luke.

__ADS_1


"Kalian merupakan jenis yang sudah langka di zaman ini," ucapnya.


"Kau pikir kami hewan sampai dibilang jenis langka?!" tukas Arthur mendelik pada Tuan Harry.


"Aku hanya mengatakan Perumpamaan saja, maaf ya." Harry tersenyum.


"Apa kau sudah dengar kawanan lycan? Mereka mulai bermunculan dan memburu," ucap Luke.


"Astaga! Aku pikir mereka tidak akan pernah ada keturunannya lagi. Ternyata sama saja seperti kalian," ucapnya.


"Ya, aku juga tak menyangka," ucap Luke.


Harry lantas menelisik Arthur dengan saksama.


"Sepertinya wajahnya tak asing. Ah, aku ingat! Dia pangeran dari Kerajaan New Silk, bukan? Kau gila, Luke! Dia pangeran! Kau mengubah pangeran ini?!" Harry sampai tak percaya mengusap kedua wajahnya.


Tuan Luke menceritakan detail kejadian yang menimpa Arthur sekilas, pria itu lantas menghentikan pembicaraannya kala Nyonya Ana datang membawakan minuman.


"Luke, aku merasakan apa yang kau rasakan saat kehilangan putramu," ucap Harry.


Tuan Harry lalu terduduk seraya mengusap bulir bening di sudut matanya itu. Nyonya Ana berlari kecil menuju ke kamarnya. Terdengar tangisan yang makin terdengar menyayat hati. Tuan Harry bangkit lalu pergi menyusul istrinya dan berusaha menenangkan wanita itu.


Tuan Harry lantas kembali.


Luke lantas meminta Arthur menunjukkan rekaman CCTV penculikan Alice.


"Ini, Dorman dan Samuel. Mereka penjahat dan buronan dari pulau di kerajaan seberang. Aku melihatnya di situs polisi interpol dalam daftar pencarian orang," tukas Harry.


"Kau bisa mencari jejak mereka?" tanya Luke.


"Tentu saja." Harry lantas meraih laptop miliknya dan meretas semua cctv yang mobil van itu lintasi.


"Mereka pergi ke Hell Club," jelas Harry.


"Di mana itu?" tanya Arthur tak sabaran.


"Tak jauh dari sini ke arah selatan sekitar lima kilometer." Harry lantas menahan Arthur untuk menghubungi pihak kepolisian.


Pasalnya Hell Club berada di wilayah kerajaan West Bloom. Kerajaan yang selalu bersitegang dengan New Silk.

__ADS_1


"Sebaiknya kalian menyamar saja," ucap Harry.


Luke setuju dengan idenya Harry daripada semuanya celaka. Setelah menghabiskan minuman yang Ana sajikan, Luke dan Arthur pamit. Namun, Luke menanyakan sesuatu hal tentang kematian putranya Harry kala itu.


"Apa kau sudah bisa menyelidiki siapa yang membunuh putramu?" tanya Luke..


Tuan Harry menggelengkan kepalanya saat menoleh pada Luke.


"Belum tau, aku tak tahu siapa yang membunuhnya. Tapi, aku jadi curiga kalau kematian dia ada hubungannya dengan kemunculan para lycan dan ini merupakan ancaman bagi manusia dan juga kalian," ucapnya.


"Kalau begitu kita harus lebih waspada dan berhati-hati lagi," ucap Luke.


"Aku tahu, Luke, aku tau. Kita hanya bisa mendoakan agar aku dan keluargaku serta kau bisa selamat dari mereka. Maaf, sepertinya aku tidak bisa menemani kalian. Semoga gadis itu tidak apa-apa," ucap Harry.


"Baiklah, kami pamit dulu," ucap Luke seraya berpelukan sebentar dengan Harry lalu pergi bersama Arthur.


...***...


Di perjalanan menuju Hell Club, sebuah mobil melintasi mobil Luke dan para pengendara lainnya yang terjebak macet kala itu. Para mobil itu berhenti karena kemacetan yang diciptakan rombongan mobil pejabat kerajaan West Bloom.


"Paman, apa tidak ada jalan lain?" Arthur sangat gelisah sampai turun dari mobil tersebut.


"Sepertinya tak ada dan kita harus menunggu sebentar," ucap Luke.


Kedua mata Arthur mendadak saja tertuju pada mobil yang tadinya berada di belakangnya tetapi bisa melintasi pemeriksaan polisi di depan dan melaju lebih dulu. Arthur melihat ada beberapa perempuan yang duduk dengan mata terpejam di kursi kedua. Ada beberapa gadis anak kecil di dalamnya dengan posisi yang sama. Rombongan itu lantas pergi melanjutkan kembali perjalanannya setelah terjebak dalam kemacetan itu.


"Kau pasti heran dengan para gadis di mobil itu?" seorang pria datang mengejutkan Arthur.


"Tadi itu, ummm… mereka itu rombongan apa?"


Arthur akhirnya memberanikan diri bertanya pada pria berkumis dan menggunakan kacamata itu.


"Mereka rombongan milik Tuan Paul, pemilik Hell Club," jawab pria berkumis tebal itu.


"Pemilik Hell Club? Lalu, apa yang akan dilakukan Tuan Paul pada gadis dan anak-anak tadi?" tanya Arthur lagi.


"Tentu saja mereka akan menjualnya. Apa kau tak tahu kalau Hell Club merupakan rumah bordir?" tanyanya.


"Apa kau bilang tadi? Rumah bordir?" pekik Arthur dengan menunjukkan raut wajah yang tak percaya.

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2