Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
28. Diusir


__ADS_3

Bab 28 MVILY


"Hubungan kita, Al. Anak yang kau kandung itu adalah anakku," ucap Mark seraya menunjuk ke arah perut Alice.


Alice menatap ke arah Arthur yang hanya diam berdiri dan bersedekap. Dia mengamati Alice dan Mark dengan saksama.


"Apa betul itu, Alice?" tanya Ratu Samantha.


"Ta-tapi, seingatku … aku hanya melakukannya dengan Arthur," sahut Alice.


"Kau mencintaiku, Al?" Arthur datang mendekat.


"Ma-maksud Anda?" Alice mulai panik dan kebingungan.


"Kau mencintaiku?" tanya Arthur lagi seraya berputar di sekeliling Alice dengan perlahan.


Alice masih belum yakin dengan perasaannya pada Arthur. Rasanya berat bagi bibirnya untuk membuka dan mengatakan 'Aku mencintaimu!'. Alice hanya mematung diam seribu bahasa.


"Pernikahan kami batal, Nek." Arthur menatap Alice dengan tajam.


Pria itu lantas pergi begitu saja meninggalkan ruang kerja sang ratu. Mark tersenyum puas. Alice masih tak percaya betapa Arthur sangat menyebalkan kala itu. Atau dirinya lah yang sebenarnya menyebalkan.


Dengan bodohnya Arthur percaya akan kebohongan Mark. Namun, mulai muncul emosi yang membuatnya naik pitam. Arthur tak meyakini jabang bayi di perutnya adalah hasil perbuatannya. Alice tampak marah mengepal kedua tangannya bersamaan dengan iris mata yang mengkilap.


Ratu Samantha pun naik pitam dan menggebrak meja. Dia kecewa pada perempuan yang hampir saja dijadikan mempelai wanita untuk Arthur. Apalagi Tuan Bernard baru saja menyerahkan berkas tentang keluarganya Alice.


"Tak sepantasnya keturunan Morgan Smith menjadi bagian dari keluarga kerajaan. Darah pengkhianat itu mengalir pada dirimu, Nak. Pantas saja kau bersusah payah menipu kami dan mengaku kalau hamil anak cucuku," tukas Ratu Samantha sangat geram.


"Ayahku bukan pengkhianat, Yang Mulia. Ku tegaskan sekali lagi, kami bukan keluarga pengkhianat. Seseorang menjebak ayahku, dan aku yakin itu!" seru Alice.


Dia bahkan lupa dengan siapa dia berbicara. Rasa amarah yang meluap membuatnya tersulut emosi dan bahkan sampai dia berani membentak Ratu Samantha.

__ADS_1


"Mark, bawa pergi dia dari sini! Urus wanitamu ini dan jangan pernah kembali ke New Silk!" titahnya pada Mark.


Tak ada bantahan dari bibir Mark. Ia menarik Alice setelah sang ratu mengusirnya.


"Al, ini pasti hanya kesalahpahaman," ucap Ella menahan Alice.


"Ella, kau ingin diusir juga? Bawa saja semua barang Alice ke mobilku. Aku akan membawanya pergi dari sini dan kami akan hidup bahagia," ucap Mark.


Alice hanya diam dan menunduk. Bulir bening itu sudah menetes membasahi pipi mulusnya.


"Mark, kau tega pada sahabatmu! Harusnya kau memikirkan kebahagiaan Alice. Jangan egosi begini!" Ella mendorong bahu Mark meluapkan kekesalannya.


"Justru aku memikirkan kebahagiaannya. Ratu Samantha sudah tahu siapa Alice. Dia pasti tetap akan membatalkan pernikahannya. Alice merupakan anak seorang pengkhianat," ucap Mark.


"Ayahku bukan pengkhianat. Ayahku bukan pengkhianat!" seru Alice lalu tak dapat lagi membendung tangisannya.


Ella memeluk sahabatnya dengan erat. Bu Rose dan beberapa pelayan mendekat membawakan pakaian milik Alice. Wanita paruh baya itu juga terisak dan memeluk Alice yang sudah dia anggap sebagai putrinya sendiri.


Sementara itu, setelah Alice berpamitan pada Ella dan Bu Rose, ia masuk ke dalam mobil Mark. Alice sempat melihat Arthur mengintip dari celah jendela kamarnya.


"Dasar bodoh!" gumam Alice menatap tajam ke arah jendela kamar Arthur.


Lalu akhirnya, Alice masuk ke dalam mobil sedan Mark. Alice mengusap perutnya pelan saat mobil yang dikendarai Mark melaju menjauh.


"Kita akan bahagia, Al. Aku akan membuatmu bahagia." Mark menyentuh tangan Alice seraya menyetir.


Akan tetapi, Alice menepisnya. Mark lantas membawa Alice ke sebuah villa milik keluarganya.


"Maaf, Mark, aku rasa biarkan aku sendirian dulu. Tapi sebelumnya terima kasih sudah memberikan tempat tinggal. Hanya saja aku masih tak mengerti kenapa kau lakukan semua ini padaku," ucap Alice.


"Karena aku mencintaimu, Al. Kau masuklah lebih dulu ke dalam villa. Nanti aku menyusul," ucap Mark.

__ADS_1


...***...


Tiga hari berlalu, Alice kerap bermimpi tentang Arthur. Di manapun dia melangkah selalu ada bayangan Arthur yang entah mengajaknya berbicara, sekedar mengerlingkan mata, atau menyapanya.


"Aaarrrggghhh! Sepertinya aku mulai gila!" pekik Alice.


Di dalam villa tersebut, Alice mulai menyadari kalau ia jatuh cinta pada Arthur dan sangat merasa kehilangan.


"Sepertinya, aku merindukanmu," ucap Alice seraya menatap langit biru seolah ada siluet wajah Arthur di sana.


"Hai, Al! Aku sedang melamar kerja di kantor polisi," ucap Mark.


"Hmmmm," sahut Alice.


"Al, ayolah! Berada si samping Arthur sama saja menyiapkan diri untuk bunuh diri!" seru Mark.


"Kenapa kau berpikir sempit seperti itu, Mark?" tanya Alice.


"Banyak penjahat yang ingin membunuhnya sehingga kau pasti akan diincar untuk dijadikan santapan," ucap Mark.


"Maksudmu, banyak orang yang ingin menghabisi Arthur, begitu," tanya Alice sangat ingin tahu.


"Tentu saja, Al. Dah itu bahkan bisa membahayakan nyawamu," ucap Mark.


"Kenapa harus takut? Arthur kan seorang vampir. Dia tidak akan mati! Luka di tubuhnya juga cepat sembuh," ucap Alice yang tak sengaja membocorkan jati diri Arthur.


"Kau bilang apa barusan, Al?" tanya Mark.


...*****...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2