Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
11. Menghabisimu


__ADS_3

Bab 11 MVILY


Di malam yang sepi di tepi sungai dekat halaman belakang rumah seorang wanita bernama Mariana. Wanita berusia tiga puluh tahun itu sedang mencari keberadaan putranya yang hilang, putra satu-satunya yang dia miliki.


Tiba-tiba, sosok berjubah hitam yang terlihat marah atas perlakuan ayahnya barusan karena menghinanya lemah, melihat sosok Mariana di tengah hutan. Dia mendengar perempuan itu berteriak dan memanggil nama putranya yang berusia tujuh tahun.


"Hmmm, apa dia sedang mencari anak laki-laki yang sedang disantapa ayahku, ya? Wah, dua cantik juga. Jika aku bawa dia untuk ayahku, dia pasti akan memuji. Sosok itu membuka tudungnya. Tampak wajah menyerupai memyeramkan yang menunjukkan dia bangsa lycan.


Lycanthropes yang biasa disebut lycan, adalah manusia yang bisa berubah bentuk jadi serigala atau anthropomorphic, mahluk yang mirip dengan serigala. Tranformasi Lycan biasanya dikaitkan dengan munculnya bulan purnama. Namun, lycan yang ini kerap menyantap daging manusia.


Lycan itu sengaja meniru suara anak kecil yang menangis untuk menjebak wanita itu. Isak tangisnya makin terdengar oleh Mariana. Wanita itu berseru memanggil anaknya seraya berlari mendekati arah suara isak tangis yang ia dengar dan ia yakini adalah suara putranya.


"Blaire, di mana kau, Nak?" Mariana meninggikan nada suaranya.


Ia juga menangis karena mengingat kehilangan putranya akibat dia pergi terlalu lama untuk memenuhi undangan di istana dan meninggalkan Blaire dengan pengasuhnya. Nyatanya mereka menghilang dan menurut saksi mata, pengasuhnya membawa putranya ke dalam hutan.


"Blaire, apa itu kau, Nak?" tanya Mariana saat melihat bayangan hitam sedang menangis di balik semak.


"Ibu, ini aku ibu," ucap lycan bernama Wild itu.


Mariana lantas mendekat dan langsung terperanjat kala melihat Wild.


"Makhluk apa kau ini? Kau bukan manusia!" pekik Mariana.


"Tentu saja, bukan. Kau mencari putramu, kan?" Wild menyeringai.


"Kau tahu di mana dia?" Mariana mencoba untuk mundur perlahan.


"Tentu saja, Nyonya. Dia sudah ada dalam perut ayahku dan kawananku lainnya. Ummm, mungkin tadi seingatku bagian tangan kirinya ada salam perutku." Wild lantas terbahak.

__ADS_1


"APA?!"


"Kau mempunyai tubuh yang indah rupanya. Dan sepertinya kau sama lezatnya dengan putramu," ucap Wild yang kemudian mengarahkan kuku tajamnya ke arah leher jenjang milik Mariana.


"Lepaskan aku! Mau apa kau? Apa yang akan kau lakukan padaku?" tanya Mariana dengan nada histeris.


"Baiklah, aku akan melepaskanmu. Sepertinya seru jika kita bermain dulu," ucap Wild.


Wanita itu lalu mencoba kabur pergi menuju rumahnya. Tidak ada siapa pun di sana yang bisa menolongnya.


"Ini pasti akan seru. Ayo, lari yang kencang! Larilah! Karena aku suka mengejar mangsaku yang sedang berlari hahahaha." Wild membiarkan Mariana lari untuk menyelamatkan diri.


Suara Wild terdengar menyeramkan. Kuku panjang dan tajam miliknya beradu satu sama lain dengan kuku lainnya. Mariana mencoba kembali dengan berlari kencang tak peduli menginjak kerikil atau ranting tajam yang mencuat. Pikirannya kalut. Sekarang yang penting dia harus sampai menuju ke halaman belakang.


Mariana lantas menyusuri sungai dan mencoba bersembunyi. Ia hanya fokus untuk lari dari kejaran makhluk itu. Rasa lelah mulai menghinggapi sampai ia menemukan pohon oek yang besar.


Sempat berpikir harusnya ia bawa ponsel sebelum gegabah mencari putranya. Jika ia bawa ponsel maka ia akan mudah menghubungi kantor polisi. Batin Mariana bergejolak ketakutan penuh dengan pertanyaan sambil terisak menahan bibirnya agar tak bersuara. Dirinya takut setengah mati karena tak ingin kematian datang padanya lebih cepat.


Suara derap langkah kaki menginjak ranting dan daun kering terdengar. Suara burung hantu dan lolongan serigala bersahutan semakin menambah seramnya suasana malam itu. Lycan Wild itu bahkan ikut melolong


Setelah lama menunggu dan sepertinya makhluk tadi telah menjauh, Mariana mengendap-endap dan mencoba keluar dari balik pohon oek, tempat persembunyiannya. Dia yakin kini dia merasa aman dan ingin kembali ke jalan raya depan rumahnya untuk meminta pertolongan.


Wanita itu mengintip dari balik batang pohon secara perlahan-lahan. Kepalanya muncul untuk menengok keadaan tetapi Wild seketika muncul dan menemukannya. Sosok makhluk mengerikan itu lantas menggigit wajah Mariana lalu menggoreskan kuku tajamnya ke seluruh tubuh Irma dan membuatnya meregang nyawa.


"Untuk kali ini, aku rasa biarkan aku yang memilikimu daripada harus aku serahkan pada ayahku," gumam Wild.


...***...


Selepas pesta ulang tahun Arthur, semua tamu undangan telah pulang. Alice meringkuk sambil menangis di kamarnya karena merasa dipermalukan. Ratu Samantha datang mengetuk kamar gadis itu. Dia sampai meminta maaf padanya.

__ADS_1


"Aku tak menyangka kalau cucuku akan keterlaluan seperti ini, Alice. Aku sungguh memohon maaf padamu," ucap Ratu Samantha.


Alice mengusap bulir bening yang berjatuhan di pipi itu. Padahal dia yang terpaksa berada di pesta kerajaan saat ulang tahun Arthur itu masih mencoba bersikap baik dan memenuhi apa yang Arthur perintahkan.


Alice hanya bisa mengangguk saat Ratu Samantha meraih tisu dan membantunya menyeka air mata. Wanita paruh baya itu lantas pamit dari kamar Alice. Namun, selepas sang ratu pergi, relung jiwanya dirasuki amarah.


"Al, kau mau ke mana?" tanya Ella yang melihatnya pergi.


"Aku mau membereskan sesuatu dulu," ucap Alice.


Melewati sisi dapur yang masih terdapat rak berisi kue dan minuman, Alice meraih sebotol wine dari atasnya. Ia lantas meminum wine yang memabukkan itu sampai habis. Seolah minuman itu dapat membuat keberaniannya meningkat.


Sayangnya, gadis itu malah mabuk. Tetapi niat ingin menghabisi Arthur semakin mencuat dan membuatnya yakin. Untungnya pengawal Liam masih sibuk memohon maaf pada beberapa tamu yang masih ada di parkiran istana dan hendak pulang itu. Para pengawal juga masih sibuk menikmati wine dan makanan. Tak ada penjaga di depan kamar Arthur membuatnya semakin yakin untuk tak menghentikan aksinya.


Sementara itu, Arthur tengah mengamati botol kecil berisi ramuan yang baru saja dibuatkan Tuan Luke. Ramuan tersebut disinyalir dapat membuat Arthur tak lagi khawatir jika mencium aroma darah atau tubuh dari Alice.


"Bau sekali ramuan ini!" gumam Arthur.


Setelah menimang cukup lama, Arthur akhirnya nekat menghabiskan ramuan berisi cairan seratus mili itu dalam sekali teguk. Rasanya sungguh tak karuan bahkan sampai membuat Arthur ingin muntah. Tiba-tiba, Alice muncul begitu saja di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu lagi, gadis itu masuk ke dalam kamar sang pangeran bagaikan seekor kelinci yang datang ke kamar singa buas kelaparan.


"Mau apa kau ke sini?" tanya Arthur.


Alice lantas mengeluarkan pisau lipat yang dari tadi ia sembunyikan dalam sakunya.


"Kau pria arogan yang seenaknya memerintah! Bahkan kau membuat perintah untuk menghabisi ayahku dan keluargaku secara keji. Tapi, Tuhan membuatku selamat dari kecelakaan itu. Aku yakin alasan kenapa aku masih hidup karena untuk menghabisimu!" Alice menyeringai.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2