
Bab 6 MVILY
"Aku yakin kau tetap akan menjualnya, bawa dia ke istana, ku mohon…," pinta Alice pada Arthur.
"Kirim dia ke penjara dan bawa anak ini ke asrama!" titah Arthur pada Liam.
"Ta-tapi, aku sungguh tak tahu. Aku mohon jangan hukum aku, Pangeran," ucap Jhon yang sudah tahu siapa Arthur. Dia berlutut kemudian di kaki Arthur.
Arthur tetap memerintahkan Liam untuk memanggil kepala polisi dan memenjarakan Jhon. Sementara putrinya akan tinggal di asrama untuk anak terlantar dan yatim piatu. Gadis kecil itu juga berterima kasih pada Arthur dan Alice.
"Aku masih heran kenapa masih ada kejahatan penjualan anak di wilayah kerajaan Anda, Pangeran Arthur," ucap Alice.
Arthur hanya diam dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Namun, Alice menarik tangan Arthur sampai sarung tangan kiri pria itu terbuka. Sang pangeran lantas mendesis dan Alice sempat melihat tangan Arthur berasap seperti terbakar setelah terkena sinar matahari.
"Hei, apa Pangeran baik-baik saja?" tanya Alice.
"Pulanglah segera!" titah Arthur.
Ella kembali dan menarik tangan Alice agar menurut. Namun, Alice masih merasa ada keanehan pada diri Arthur. Pasalnya, dia juga sempat mendengar dari Bu Rose kalau semenjak kecelakaan, Arthur selalu memakai jaket bertudung. Dia mengaku alergi pada sinar matahari.
Alice tak habis pikir apa seburuk itu alergi Arthur sampai membuat kulit tangannya melepuh.
...***...
Di sebuah bukit dalam wilayah kerajaan New Silk. Seorang pria berpenampilan misterius mengenakan jubah bertudung dan topi koboi tengah mengamati sesuatu dari balik semak. Wajahnya tampak masih menunjukkan usia empat puluh tahun. Namun sesungguhnya, pria bernama Luke Skywalker itu berusia dua ratus tahun. Sungguh usia yang tak mungkin untuk seorang manusia biasa pada umumnya.
"Hai, Paman! Kau menemukan buruan kita?" tanya seorang pemuda yang mengenakan jaket hitam berhoodie dan celana jeans itu.
"Coba lihat di sana!" tutur Luke.
Pandangan anak muda tadi lantas beralih pada tujuan yang ditunjuk Tuan Luke. Dua orang pria tampak sedang menghentikan sebuah mobil sedang hijau botol dengan paksa.
"Turun kalian!" seru salah satunya.
"Baik, aku akan turun tapi jangan sakiti kami!" pinta sang wanita.
Luke dan pemuda itu masih mengamati dengan saksama dari atas bukit.
"Bukankah itu Bu Rose?" tanya pemuda yang ternyata Pangeran Arthur.
__ADS_1
"Kau mengenalnya, Arthur?"
"Dia kepala pelayan rumahku. Setahuku dia memang meminta izin untuk mengunjungi pemakaman adiknya di negara perbatasan."
"Kurasa dia sedang dalam masalah," ucap Luke.
"Aku tak bisa biarkan ini. Ayo, Paman kita selamatkan mereka!"
"Tunggu dulu, Arthur! Kita lihat dulu sebentar dari sini." Luke menahan Arthur.
Bu Rose membawa serta Ella yang masih terlihat sangat muda dan membuat salah satu perampok tergiur akan tubuh. Pria bertubuh tinggi dengan perut buncit dan rambut gondrong yang dikuncir satu itu lantas menarik tangan Ella.
"Kau mau ke mana, Drew?"
"Kau geledah saja barang-barangnya! Aku ada urusan dengan gadis ini," ucap si Drew menarik lengan Ella yang tengah menangis memohon ampun, secara paksa menuju ke dalam hutan di seberang jalan itu.
"Lepaskan aku!" teriak Ella.
"Kau harus menurut ke padaku atau kau mau itu ibumu aku habisi?" tanyanya penuh ancaman.
"Ku mohon jangan sakiti putriku!" isak Ibu Rose mencoba meraih tangan Ella.
Pria di sampingnya Bu Rose memukul wanita itu sampai tak sadarkan diri.
Pria jangkung itu lantas membalikkan tubuh gadis berusia enam belas tahun itu memeluk pohon besar. Pria itu lantas membuka resleting celananya dan bersiap menghujani bagian belakang Ella tersebut dengan miliknya secara paksa.
"Lepaskan aku!" teriak Ella.
"Diam kau! Nikmati saja permainanku! Kau harus membuatku senang hari ini," ucap Drew yang terus berusaha memasukkan benda miliknya ke tubuh Ella. Rekan Drew yang melihat itu sampai menelan cairan saliva dengan berat. Pria itu sampai memegangi benda miliknya yang mulai mengeras.
"Drew, sisakan untuk ku!" Seru pria yang berambut pirang. Dia tengah menguras harta milik Bu Rose dari dalam mobil.
"Heh, apa yang sedang kau lakukan itu?" Arthur muncul di samping mobil Bu Rose.
Arthur menyentuh bahu si penjahat lalu ketika penjahat itu menoleh, Arthur sudah bersiap mematahkan leher si penjahat.
Krek!
Penjahat itu sudah tak bernyawa.
__ADS_1
"Kau bisa urus satunya, kan? Biar yang ini untuk makan malam Paman," tukas Luke.
"Tentu, Paman."
Arthur menuju si penjahat Drew.
BUG!
Sebuah tendangan melayang menghantam kepala pria yang tengah mencoba membuka pakaian Ella dengan paksa. Tubuh si penjahat sampai membentur batang pohon di tepi hutan tersebut.
"Sial kau!" Drew mencoba bangkit dan menyerang Arthur
Namun, Arthur sudah sigap mengangkat tubuh si penjahat berambut panjang dan makin mencekik lebih erat sampai pria tersebut tak bisa lagi menghirup oksigen. Tangan penjahat itu berusaha untuk melepaskan diri dari cekikan Arthur. Sang pangeran membawanya ke balik pepohonan dan melayangkan gigitan di leher Drew. Dia menghisap darah Drew sampai habis.
Arthur menghempas tubuh Drew. Dia mendorong tubuh itu sampai sebuah ranting yang tajam ditusukkan menembus jantungnya.
Jleb.
Dada pria itu mengucurkan cairan darah segar dan menetes ke atas permukaan tanah tersebut.
"Sebelum kau berubah seperti ku dan malahan memanfaatkan kekuatan ini untuk kejahatan, sebaiknya kau aku habisi," lirih Arthur.
Pria yang tertusuk ranting di batang pohon yang tajam tadi lantas dibakar oleh Arthur. Dia kembali pada Ella yang masih syok. Untungnya pria itu belum melakukan apa pun pada gadis belia itu. Arthur menatapnya sekilas. Setengah wajahnya masih tertutupi dengan masker. Dia lalu menghubungi 611, nomor darurat yang harus dihubungi di wilayah kerajaanya jika butuh bantuan pihak berwajib.
"Polisi akan sampai di sini sebentar lagi," ucap Arthur lalu pergi meninggalkan Ella yang masih terisak.
...***...
Di kantor kepolisian Kerajaan New Silk, Alice yang mendapat sambungan ponsel dari Ella lantas segera menuju ke kantor pihak berwajib itu.
Ella lantas menceritakan kalau dia baru saja hendak dirampok dan didiculik. Gadis itu juga hampir dirudapaksa oleh dua orang penjahat. Ella menangis sambil memeluk Alice.
Namun, Ella menceritakan pada Alice dengan berbisik. Gadis itu yakin kalau dia melihat vampir meski wajahnya tak terlihat jelas. Namun, dia meminta Alice untuk menyembunyikan peristiwa itu.
"Kenapa harus disembunyikan?" tanya Alice.
"Mereka pasti akan memburunya, Al! Mereka akan membakar dan menghabisinya. Sedangkan dis seorang pahlawan untukku dan ibuku. Aku mohon tolong bantu aku sembunyikannya dari mereka.
Setelah mendengar Ella menceritakan kalau pahlawan kerajaan merupakan seorang vampir karena dia sempat mengintip Arthur yang menghisap darah Drew, Alice masih merasa masih ragu. Alice memasang raut tak percaya. Dia menganggap Ella hanya membual.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...