Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
33. Aku Mencintaimu, Tuan Vampir!


__ADS_3

Bab 33 MVILY


Kedua mata lentik itu mulai membuka perlahan. Alice tergeletak di atas ranjang berbahan kayu. Ada sosok seorang pria yang sedang membersihkan luka di kaki Alice. Kemudian, sosok itu menuju ke arah perapian di mana aroma ikan bakar wangi terhirup menggugah selera.


Jari jemari perempuan cantik nan ayu itu mulai bergerak seiring dengan kesadarannya yang mulai pulih. Kelopak mata lentik itu semakin lebar terbuka. Tubuhnya terasa sakit dan tak bisa bergerak.


Suara lolongan serigala bersahutan terdengar dari arah luar di kejauhan sana.


"Di mana aku?" lirih Alice.


Perempuan itu sudah mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Ia tersenyum pada sosok pria yang hanya dia lihat punggungnya.


"Apa aku sudah mati, ya? Tapi, badannya sakit semua. Dab sepertinya aku mengenal punggung itu," ucap Alice.


Terdengar tawa seorang pria yang mulai Alice kenal.


"Tidak mungkin! Pasti aku bermimpi dan berharap kau yang menolongku," tukas Alice.


"Memangnya siapa yang kau harapkan untuk datang menolongmu?" Arthur berbalik badan.


Rupanya pria itu selalu mengawasi Alice dan langsung menyeburkan diri ke lautan dan menolong wanitanya. Sama seperti saat mereka kali pertama bertemu.


"Tuh kan, pasti aku bermimpi. Atau aku sangat merindukanmu," gumam Alice.


Perempuan itu lantas menampar pipinya sendiri seketika.


"Awww! Ini sakit!" pekik nya seraya mengusap pipi yang mulai merah karena tamparannya sendiri itu.


"Kau itu bodoh, ya? Ini minum dulu!" Arthur menyerahkan secangkir coklat panas buatannya.

__ADS_1


"Arthur? Ma-maksudku … Pangeran Arthur? Benarkah itu kau?" Alice mulai berseru dan antusias.


"Apa kau mau aku siram cokelat panas di wajahmu itu agar yakin dengan sakitnya?" ledek Arthur.


"Haishh, itu akan menyakitkan sekali," ucap Alice.


"Apa salahnya sih bilang kau mencintaiku? Kau tak perlu susah payah ikut Mark dan menderita begitu karena kabur," ucap Arthur meledek Alice lalu tertawa.


Ia meraih ikan bakar miliknya dan membawanya ke hadapan Alice.


"Apa kau bilang? Kau sengaja menguji ku, ya?" Alice langsung menangis.


Tangisan nya makin kencang bagai seorang anak kecil yang kehilangan mainnya.


"Lho, kenapa kau pakai menangis segala, sih?" ledek Arthur.


"Apa kau tahu betapa takutnya aku?! Apa lau tahu bagaimana aku menahan semua sakit ini?! Dan Apa kau tahu kalau aku sangat takut kehilanganmu?! Mark mau membunuhmu dengan menyewa pemburu makhluk tau! Huaaaaaaaaa!" Alice semakin menangis seraya mengusap air matanya.


"Wah, apa-apaan ini? Itu kan makan malam aku!" seru Arthur.


"Anak mu ini lapar tau! Saking laparnya dia menendang-nendang sedari tadi! Atau dia terlalu bersemangat karena bertemu ayahnya!" seru Alice.


"Wah, kau itu hamil muda tau! Masa iya dia sudah bisa menendang mu di usia kandungan yang semudah itu?" tanya Arthur.


"Ya pokoknya aku lapar!" tukas Alice.


Arthur tersenyum melihat wanitanya kini dalam keadaan baik-baik saja. Tuan Luke datang ke dalam gua dengan membawa beberapa obat dan vitamin untuk ibu hamil. Dia menyapa Alice seraya melayangkan senyum hangat. Kedua pria itu kini memperhatikan Alice yang sedang makan dengan lahap sambil berurai air mata.


Alice sempat putus asa dan berpikir siap menghadapi kematian. Namun, siapa sangka kalau Arthur dan Paman Luke selalu mengawasinya selama dia pergi. Mereka menyelamatkannya.

__ADS_1


"Kenapa kalian tidak makan?" tanya Alice.


"Sudah kau saja yang habiskan!" titah Arthur.


"Kau jahat, Arthur! Huaaaaaa, aku bersumpah kalau anak ini adalah anakmu. Cuma kau yang sudah menyentuhku! Lagipula kalau aku tak mencintaimu, mana mungkin aku mau menikah denganmu. Aku malah tak sabar menikah denganmu tapi kau malah percaya pada si bodoh Mark, huaaaa kau menyebalkan!" ucap Alice.


Tuan Luke meraih piring berisi ikan bakar yang tinggal bagian kepala dan tulang ikan dari hadapan Alice. Dia menyerahkan botol berisi air mineral serta tisu pada wanita itu.


"Terima kasih, Tuan Luke," isak Alice. Ia melanjutkan menangis sejadi-jadinya dan mengatakan lagi kalau ia sangat mencintai Arthur. Dia bersumpah kalau anak yang dikandungnya adalah anak Arthur.


"Hmmmm, sepertinya aku hanya jadi obat nyamuk di sini. Aku terlalu letih untuk melihat melodrama di hadapanku ini," ucap Tuan Luke lalu memilih pergi.


Untungnya, luka di tubuhnya telah pulih dengan cepat.


Selepas Tuan Luke pergi, Arthur mendekat. Dia mengusap bulir bening dari pipi wanitanya.


"Terima kasih kau sudah mau menolongku," ucap Alice masih dengan isak tangisnya.


"Harusnya kau jujur tentang semua perasaan mu ini dari awal," ucap Arthur.


"Kau juga tak pernah mengatakan cinta padaku dan melamarku secara sungguh-sungguh. Aku malah menyangka kau sedang mempermainkan aku tau," ucap Alice masih dengan nada sesenggukan.


"Iya, iya, maafkan aku." Arthur memeluk Alice dengan erat.


"Aku mencintaimu, Tuan Vampir!" ucap Alice.


"Aku juga mencintaimu, Al! Aku sangat sangat mencintaimu. Jangan pergi lagi, ya. Tetaplah di sisiku," ucap Arthur.


"Tunggu dulu!" Alice melepas pelukan Arthur dan melanjutkan pertanyaannya, "Lalu, bagaimana dengan Mark? Dia akan membawa pemburu makhluk untuk memburumu dan Tuan Luke?"

__ADS_1


...*****...


...To be continued ...


__ADS_2