Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
45. Kawan Baru dari Negeri Es


__ADS_3

Bab 45 MVILY


"Aku akan ke sana membantumu mencarinya. Tapi aku juga punya syarat," sahut Arthur.


"Syarat apa itu?" tanya Goldice.


"Selamatkan calon istriku dari tangan Lord Gevil," jawab Arthur.


"Hmmm, baiklah. Bagaimana cara agar aku bisa membantu menemukannya?"


"Aku punya rencana yang cocok untukmu. Kau harus masuk ke wilayah Lord Gevil. Kau cari wanita bernama Alice. Arthur tunjukkan foto Alice!" titah Tuan Luke.


"Baik, Paman." Arthur segera memperlihatkan foto Alice dari ponselnya.


Dia teringat saat pernah mengambil gambar Alice secara diam-diam. Kala itu, Alice tengah membersihkan kamarnya.


"Bukankah dia cantik?" Arthur menatap lekat layar ponselnya dengan wajah bahagia.


"Cih, benar-benar dimabuk kepayang pria ini," gumam Godice.


...***...


Di malam hari itu, Arthur sedang membaca buku di tengah terpaan sinar rembulan. Sesekali dia merenung memikirkan keadaan Alice. Dia berdoa agar Alice senantiasa diberi perlindungan dan kesehatan.


"Hai, Arthur! Kau sedang membaca buku apa?" tanya Icy, adik Goldice yang datang mendekat.


"Hai! Aku sedang mempelajari sihir dari buku ini. Siapa tahu aku bisa menggunakannya meskipun aku vampir," ucap Arthur.


Pemuda itu memperlihat sebuah buku tua pada Icy. Buku pemberian Tabib Ly tentang ilmu sihir tahap awal.

__ADS_1


"Kakakku juga suka mempelajari sihir dari buku-buku yang ia miliki. Dia terobsesi pada sihir sejak lama. Dia itu sangat antusias membaca buku-buku sihir selama berjam-jam lamanya. Tapi, dia punya pemikiran ya bisa dibilang agak bodoh. Dia suka membaca dan terobsesi pada sihir tapi tak bisa mewujudkannya dengan benar hahaha." Icy sampai tertawa ngik ngik ketika menceritakan keburukan kakaknya.


"Kenapa bisa begitu? Aku tak mengerti maksudmu itu," tanya Arthur.


"Dia selalu salah merapal mantera. Contohnya saat dia sudah mempelajari sihir pengubah bentuk. Yang aku dengar dari nenekku ada penyihir yang bisa mengubah bentuk menjadi serigala atau vampir atau makhluk lainnya. Apa kau bisa ya jadi seperti itu," ucap Icy.


"Entahlah. Aku hanya sedang bertahan hidup," sahut Arthur.


"Apa kau tidak jijik pada wajahku?" selidik Icy.


"Kenapa harus jijik? Menurutku biasa saja," sahut Arthur.


"Terima kasih karena menjawab dengan tulus.


Delilah lantas datang menghampiri. Dia sengaja menggeser Icy dan duduk di samping pemuda itu. Tadinya Arthur akan bergeser untuk menjauh tetapi batu tempat mereka duduk cukup sempit dan tak bisa lagi bergeser.


"Apa di dunia ini masih ada penyihir jahat? Bukankah golongan penyihir sudah menjadi golongan kaum yang langka?" tanya Arthur.


"Baik penyihir atau siapapun pasti ada yang memiliki sifat baik maupun jahat. Aku pun belum bisa memastikan apakah sihir itu telah digunakan oleh para penyihir hitam atau tidak. Semua informasi tadi aku dapatkan dari cerita ayah dan ibuku," tukas Delilah.


"Oh begitu." Arthur mengangguk.


"Begini, apa aku boleh bertanya?" Icy menoleh pada Arthur dan Delilah.


"Tanyalah, sepertinya aku tak bisa menghindar dan pasti harus menjawab pertanyaan mu. Iya kan?" Arthur akhirnya bangkit berdiri.


"Hehehe, kau tau juga, ya. Apa kau dan Delilah berhubungan? Kenapa dia mendekat begitu saja? Bukannya kau ingin menyelamatkan wanita bernama Alice tadi?" tanya Icy penuh ingin tahu sekaligus menampar Delilah dengan kata-kata menohok yang nanti akan Arthur jawab.


"Kalau yang kau maksud aku dan Delilah sepasang kekasih, maka kau salah. Tentu saja tidak, aku hanya menganggapnya sebagai sahabat. Cintaku hanya pada Alice," ucap Arthur.

__ADS_1


Penuturan Arthur langsung membuat Icy tersenyum senang. Berbeda dengan Delilah yang langsung cemberut.


"Kalau begitu sudahi dulu pembicaraan kita ini. Aku mau kembali ke tenda ku. Tak apa kan jika aku tinggalkan kau sekarang bersama Delilah?" tanya Arthur.


"Tak apa, pergilah. Selamat malam Pangeran Arthur dan selamat tidur," ucap Icy.


"Selamat malam, Tuan Putri." Arthur melangkah menuju ke tandanya.


"Wah, dia panggil aku Tuan Putri. Aku benar-benar menyukainya pada pandangan pertama tadi," ucap Icy berdecak kagum.


Delilah mendekat dan menyerang gadis berusia tujuh belas tahun itu.


"Heh, gadis buruk rupa! Harusnya kau bercermin tau! Lihat saja kalau sampai Alice ternyata tidak selamat, maka Arthur akan menjadi milikku," ucap Delilah penuh ancaman seraya mendorong bahu Icy dengan tangannya.


"Dia pemuda yang tampan dan hebat rupanya. Hmmm, mungkin kakakku juga suka padanya, wajar saja 'kan? Dan aku tak peduli dengan ancaman mu itu," sungut Icy.


"Jangan banyak berharap, Icy! Arthur akan menjadi milikku!" tegas Delilah.


"Oke oke terserah kau saja!" Icy tertawa mengejek.


"Ingat, ya, jangan berharap!" ancam Delilah lagi


"Haish, kau sangat menyukainya, ya? Tapi dua tidak hahaha. Hoaam, aku mau tidur ya. Besok kita berlatih bersama untuk persiapan menolong Arthur." Icy bangkit menuju ke tenda yang disiapkan untuknya.


"Huh, kau ini menyebalkan sekali." Delilah bersungut-sungut seraya melangkah kesal menuju tandanya.


...*****...


...To be continued ...

__ADS_1


__ADS_2