
Bab 20 MVILY
"Padahal dia sudah tahu kalau aku vampir, kenapa dia malah lari ketakutan begitu?" Arthur mengeluh saat menunggu Alice di rumah sakit.
Suara lenguhan Alice terdengar.
"Kau sudah sadar?" tanya Arthur dengan nada mengalun merdu saat perempuan itu terjaga.
Alice terbangun dengan mengerjap perlahan, lantas dia terkejut kala menemukan dirinya terbaring di sebuah ranjang. Bola mata sebiru lautan yang sempurna menatap ke atas. Alice mendapati langit-langit berwarna putih cerah dengan tirai jendela merah jambu menutupi ruangan tempat dia berada.
"Al, kau sudah terjaga, kan?" tanya Arthur.
Suara seorang pria yang samar-samar didengar Alice, mulai terdengar lebih jelas. Ditambah dengan roma obat yang tercium menyengat. Perempuan dengan wajah masih pucat itu menolehkan kepala, lantas mendapati seorang pria yang dia kenal betul sedang menatapnya melalui sepasang iris biru yang sama.
"Ah, syukurlah! Aku pikir kau tak akan selamat kali ini!" seru Arthur meskipun bernada rendah, tetapi jelas tersirat rasa khawatir bercampur senang dan syukur. Kedua matanya juga tampak berkaca-kaca.
"Ini semua gara-gara kau!" lirih Alice karena ia menyadari pasti ada orang yang ingin Arthur mati. Namun, dia juga tak mengerti kenapa ia malah menolong Arthur.
"Kalau sudah mengeluh begitu, aku yakin kau sudah sadar juga," ucap Arthur.
"Kenapa sih kau harus punya banyak musuh?" Alice menatapnya tajam.
Arthur masih berusaha untuk mencerna keadaan dan apa yang Alice utarakan.
__ADS_1
"Lalu, kenapa kau menolongku?" tanya Arthur.
Alice tak menjawab. Dia juga sedang berusaha mencerna meskipun ada satu hal yang jelas dia rasakan ketika tubuhnya tidak sesakit tadi. Dahinya diperban, berdenyut kala menahan sakit.
Sebuah infus tertancap di punggung tangan kirinya. Atas perintah dokter telah memberinya obat penghilang rasa sakit sehingga rasanya tak sesakit tadi. Alice sempat merasa pinggangnya seperti ingin patah akibat benturan saat kecelakaan.
"Apa yang terjadi denganmu, kenapa kau bisa takut saat melihatku tadi, hah? Kau kan sudah tahu siapa aku sebenarnya?" tanya Arthur lagi dengan nada penuh ke khawatiran.
Arthur menatap Alice lekat-lekat. Pria itu membantu Alice untuk duduk dan bersandar pada bantal yang empuk dan sudah didirikan. Dia berdeham pelan, sebelum berupaya membuka bibirnya yang terasa menempel erat satu sama lain.
"Entahlah, aku juga bingung kenapa aku menolongmu," tukasnya.
"Lalu, kenapa kau takut padaku tadi?"
"Maafkan aku, ya," lirih Arthur.
Alice tak menyangka kalau Arthur akan meminta maaf padanya.
"Tunggulah sebentar, aku akan memanggil dokter. Dia harus tahu kalau kau sudah sadar."
Arthur lalu membuka pintu ruangan tempat Alice dirawat untuk menuju meja di mana para perawat berada. Tak lama kemudian, dia kembali.
"Tunggulah sebentar lagi," kata Arthur seraya tersenyum ramah.
__ADS_1
"Hmmm, terima kasih."
"Dokter akan segera datang dan memeriksamu. Kau tahu sejak kita mencurigai Paman Bernard, aku meminta Paman Luke untuk menyelidiki mobil yang menabrakmu. Aku juga menyewa seorang detektif yang sudah berbicara pada polisi. Katanya mereka akan menyelidiki rekaman cctv gedung sekitar jalan tempat kecelakaan kemarin," jelasnya.
Alice hanya memandang Arthur dengan datar tetapi dalam hati dia bersyukur saat mengetahui kalau pria ini lagi-lagi menyelamatkannya. Meskipun tadi sempat tentang kematian keluarganya yang malah ingin membuatnya membenci Arthur.
"Terima kasih, ya, ini kali kedua kau menolongku," ucap Alice akhirnya, terbata.
"Kali kedua?"
Arthur menatap tak percaya. Bahkan dia memeriksa lubang telinganya takut ada kotoran yang menyumbat untuk memastikan. Kapan ia pernah menyelamatkan Alice sebelumnya?
"Kau bilang apa? Ini kali kedua aku menyelamatkanmu?" tanya Arthur meyakinkan pendengarannya.
Alice mengangguk. Sementara Arthur masih menancapkan netranya pada wajah cantik sang pelayan istananya. Jauh di dalam hatinya, lagi-lagi dia sangat mengagumi wanita di hadapannya. Dia bersyukur bahwa semesta mengirim seseorang seperti Alice untuk mengisi kekosongan hatinya. Arthur merasa ingin melindungi sama seperti rasa ingin melindungi dan membela keluarganya yang telah tiada itu. Hanya saja dia malu untuk mengakui kalau ia jatuh cinta pada Alice.
...*****...
...To be continued ...
__ADS_1