
Bab 19 MVILY
Malam itu, Arthur menemui Tuan Liam di penjara bawah tanah. Akan tetapi, betapa mengejutkan kala pria itu telah terbaring tak bernyawa di lantai.
"Penjaga! Apa yang terjadi dengan Paman Liam?!" Arthur berseru sampai dua orang penjaga tergopoh-gopoh berlari.
Dua orang penjaga itu mengangkat tubuh Tuan Liam dan membaringkannya di atas ranjang. Arthur mengendus roti yang telah dimakan sebagian dan tergeletak di atas piring yang masih ada di atas nakas itu.
"Panggilkan aku dokter istana!" titah Arthur.
Setelah investigasi lebih lanjut, Tuan Liam dicurigai tewas karena ada kandungan racun pada roti miliknya. Arthur bahkan meminta cctv keamanan yang sayangnya tak ada hal yang mencurigakan sampai pihak dapur juga ditelusuri. Alice menarik tangan sang pangeran untuk menuju ke ruang kerja Ratu Samantha.
"Tidakkah ini aneh? Tuan Liam hampir saja mengatakan ada orang lain yang ikut membantunya tetapi hal itu terhenti karena Tuan Bernard datang," ucap Alice dengan nada setengah berbisik.
"Hmmm, tapi apakah mungkin kalau Paman Bernard tega mengkhianati kerajaanku?" Arthur mengernyit.
"Mungkin saja. Aku malah berpikir kalau pengkhianat sebenarnya adalah dia bukan ayahku. Tapi, kau sudah terlanjur menghukum orang yang salah." Alice terlihat bersungut-sungut.
"Tapi, mengenai Paman Bernard tidak ada bukti yang kuat. Aku janji jika kau berhasil membantuku menguak siapa pengkhianat kerajaan sebenarnya, aku akan membersihkan nama ayahmu," sahut Arthur.
"Kau janji, ya? Berikut dana kompensasi juga," tantang Alice.
"Aku tak sangka kau mata duitan juga," cibir Arthur.
"Kalian sedang apa di ruangan ku?" Ratu Samanta muncul tiba-tiba.
"Dia mau bertanya apa boleh merapikan ruangan Nenek, apa boleh, Nek?" Arthur memberi alasan palsu.
"Oh, tentu saja silakan." Ratu Samantha tanpa menaruh curiga lantas mempersilakan Alice untuk membersihkan ruangannya.
Sementara itu, Arthur membahas tentang kematian Liam pada neneknya. Sebenarnya, Ratu Samantha juga mencurigai tentang putra tirinya itu. Untuk itulah, singgasana kerajaan tak jua dia berikan pada Bernard. Ratu Samantha memilih Arthur untuk menjalankan mandat seorang raja New Silk.
__ADS_1
"Jika sekarang ada kejadian seperti ini, maka kecurigaan Nenek juga semakin kuat. Kau berhati-hati lah, Arthur," pinta Ratu Samantha.
...***...
Malam itu, Arthur menemui Tuan Luke yang tinggal di Bukit Pelangi. Ia menceritakan kecurigaannya pada Paman Bernard.
"Jika memang dia ada sangkut pautnya dengan kematian Liam, aku akan mengawasinya mulai sekarang," ucap Luke yang akan mengawasi gerak-gerik pria berusia setengah abad itu mulai saat itu juga.
"Lalu, bagaimana dengan lycan yang kemarin? Apa Paman sudah menemukannya?" tanya Arthur.
"Belum, Arthur. Aku sangat heran mengapa aroma tubuhnya tak dapat kita deteksi. Selalu saja tersamarkan," ucapnya.
"Haruskah kita menyewa tim pemburu dari Kerajaan Adelaide untuk melacaknya?" tanya Arthur.
"Kau sama saja bunuh diri! Tim pemburu dari Adelaide sangat handal. Mereka malah bisa menemukan identitas asli kita," tukas Tuan Luke.
"Baiklah kalau begitu. Apa malam ini kita mau berburu?" tanya Arthur.
...***...
Pagi itu, Alice ke kamar Arthur membawakan sarapan seperti biasa.
"Sampai kapan kau akan tetap di sini saat siang hari? Kau benar-benar tak kuat ya dengan matahari?" tanya Alice penuh selidik.
Arthur menatap Alice dengan lekat.
"Sejak kapan kau mulai perhatian padaku? Apa kau khawatir tentangku?" goda Arthur.
Jelas saja pemuda itu sudah menyukai Alice. Semenjak kejadian panas malam itu, Arthur tak bisa membohongi perasaannya lagi kalau dia benar-benar jatuh cinta pada Alice. Arthur bahkan kerap mengerjai gadis itu dengan tujuan agar sering bertemu.
"Cih, percaya diri sekali Anda. Asal kau tahu, ya, Ratu Samantha memintaku untuk mengurus mu. Kau itu tanggung jawabku," sungut Alice.
__ADS_1
"Oke oke, kalau begitu. Al, apa kau mau pergi berlibur denganku?" tanya Arthur.
"Ke mana?" Alice menoleh padanya.
"Ke Bukit Pelangi," sahut Arthur.
Arthur ingin membawa gadis itu untuk berlibur ke Bukit Pelangi, yang ternyata tempat tersebut merupakan tempat terakhir kalinya gadis itu bersama dengan keluarganya.
Amarah Alice entah kenapa malah memuncak di hati kala mengingat kematian keluarganya di tempat wisata tersebut. Timbul niat jahat Alice yang ingin mengerjai Athur atau mencelakainya.
"Oke, aku mau," sahut Alice.
Namun, saat keesokan harinya tiba, rencana Alice yang sudah dia rancang tadi malam malah musnah. Alice mendorong Arthur dari tebing agar jatuh ke laut dan terbentur karang. Akan tetapi, ia lupa kalau Arthur bukan manusia. Alice segera kabur saat Arthur jatuh menerjang ombak.
Karena kecerobohannya, Alice malah bertemu dengan para preman yang hampir memperkosanya. Arthur menyelamatkannya dan memperlihatkan kalau dia merupakan sosok vampir. Alice yang tiba-tiba ketakutan malah berlari dan hendak mengadu langsung pada warga sekitar.
"Alice, tunggu aku!" pekik Arthur.
"Pergi! Jangan dekati aku seperti itu!" Alice berusaha menghindar.
"Alice, lihat aku sudah berubah!" Arthur membuka hoodienya dan memperlihatkan wajah tampannya di bawa sinar bulan itu.
Namun, saat Arthur berusaha mengejar Alice, perempuan itu malah melihat ada sebuah mobil sedan yang hendak menabrak Arthur.
"Arthur, awas!"
Brak!
...*****...
...To be continued...
__ADS_1