
Bab 55 MVILY
Lord Gevil menginjak dada Arthur dengan kaki kanannya. Namun, semakin dia injak dia malah merasa kakinya sangat panas kala menginjak dada Arthur. Kekuatan kalung permata pemberian Goldice mulai mengeluarkan reaksi terhadap pemimpin lycan itu. Lord Gevil kesakitan dan Arthur memanfaatkan hal tersebut. Dia menyerangnya bertubi-tubi.
"Icy, bangunlah adikku sayang. Lihat kalung itu berfungsi pada Arthur. Mungkin saja ramalan yang dikatakan ibu kita itu benar. Kekuatan batu permata es yang tak pernah bisa kita gunakan, kini bisa digunakan oleh Arthur. Permata itu memilihnya, Icy," lirih Goldice menahan sakit diiringi derai air mata.
Icy sempat membuka kedua mata lentik itu. Ia tersenyum kala melihat kekuatan kalung permata pada diri Arthur. Dulu, dia ingin sekali melihat kekuatan itu berpendar saat Goldice menggunakannya, tetapi tak pernah kunjung ia lihat. Bahkan saat ayah dan ibunya dalam bahaya sampai tewas pun, kekuatan kalung permata itu juga tak kunjung menampakkan wujudnya.
"Aku senang, kalung permata itu memilih Arthur," ucap Icy terbata-bata lalu kedua mata itu terpejam untuk selama-lamanya.
"ICY! ICY BANGUNLAH! JANGAN TINGGALKAN AKU ICY!"
Goldice mengguncang bahu Icy. Namun, adik tersayangnya itu tak kunjung membuka mata. Tak ada embusan napas yang terasa saat Goldice meletakkan jari telunjuknya di bawah hidung Icy.
Arthur sempat melihat saat Goldice menangisi adiknya yang sudah meregang nyawa. Kemarahannya semakin memuncak. Dia bertekad akan membalas dendam akan kematian Icy dengan menghabisi nyawa Lord Gevil.
Sementara itu, Tabib May berhasil dikalahkan saat Tuan Luke menghunuskan pedang ke punggungnya. Sontak saja Tabib Ly menangisi kematian kakaknya. Biar pun sang kakak memilih untuk menjadi orang jahat, tetapi Tabib Ly masih sangat menyayangi kakaknya.
Tuan Luke meyakinkan Tabib Ly untuk bertahan. Dia meminta wanita itu untuk bangkit dan membantu Arthur menyelamatkan Alice. Ketika mereka sampai, Tabib Ly langsung menghampiri Icy yang sudah tak tertolong. Ia lantas memeluk Goldice yang tengah menangis dengan erat.
Tuan Luke menoleh pada Arthur, kedua iris miliknya membulat kala menatap kekuatan pada diri Arthur dengan takjub.
"Aku tak salah lihat kan?" Tuan Luke bergumam.
"Kekuatan kalung permata Kerajaan Ice memilihnya. Pangeran Arthur memang pantas mendapat kekuatan itu," ucap Goldice.
"Arthur! Tangkap ini!" seru Tuan Luke seraya melemparkan pedang perak ke arah Arthur.
__ADS_1
Arthur meraih pedang tersebut untuk melawan Lord Gevil.
"Berikan aku kekuatan permata itu!" pinta Lord Gevil yang masih berusaha meraih kalung permata di leher Arthur tersebut setelah menyadari kekuatan Arthur bertambah.
"Tidak akan pernah!" seru Arthur.
...***...
Sementara itu di dalam gua, Ratu Samantha berusaha membuat Alice mengingat jati dirinya. Samar-samar Alice mengingat semua yang dikatakan wanita paruh baya di hadapannya itu. Ella juga mulai lancar berbicara dan mengatakan kenangan masa kecil mereka berdua pada Alice.
Sayangnya, ada dua lycan yang diperintahkan oleh Lord Gevil untuk membawa Alice padanya. Ratu Samantha mencoba melawan bahkan dia sampai terluka. Muncul keinginan dalam diri Alice untuk memilih menyelamatkan sang ratu dan juga Ella.
Ella memiliki panah dan busur buatan Goldice yang mulai bisa dia gunakan. Dia lalu menembakkan panah ke leher lycan pertama yang sudah menancapkan cakarnya di kaki Ratu Samantha. Sayangnya, satu lycan lainnya berhasil menghadang Ella dan bahkan menghabisi nyawa gadis itu.
Alice berteriak sekuat tenaga karena kesedihan yang menyeruak kala ia melihat Ella meregang nyawa di hadapannya. Alice lantas meraih senjata milik Ella dan membuat lycan yang membunuh Ella tewas akibat terjangan busur panah darinya.
Alice dan Ratu Samantha tampak keluar dari gua ingin melihat keadaan. Sontak saja mereka terkejut ketika dari jauh Lord Gevil melompat ke arah Alice dan neneknya Arthur itu. Kedua kaki belakang Lord Gevil pasti sangat kuat karena dia mendarat setelah melompat jauh. Bibirnya yang merah membentuk seringai.
Selama sesaat lycan itu bertahan di sana untuk merayu Alice.
"Kau jahat! Aku tak mungkin mencintai makhluk sepertimu," ucap Alice.
"Alice sayang, jangan begitu mudahnya kau terpengaruh dengan mereka. Ayolah, ikut denganku!" ajaknya.
"Aku memilih untuk tak lagi percaya padamu!" seru Alice.
"Alice sayangku, aku akan membuktikan kekuatan kita yang akan semakin sempurna ini jika kita bersama. Aku akan membuat pasukan yang lebih banyak dari ini dengan bantuan kekuatanmu, sayangku. Kita akan menguasai kerajaan ini nantiny," tukas Lord Gevil.
__ADS_1
"Aku yakin kau lah pria jahatnya!" tukas Alice.
"Alice sayang, dengarkan aku. Aku tahu apa yang membuatmu masih bingung untuk bergabung denganku dan kembali percaya padaku. Mereka pasti menyihirmu, sayangku," ucap Lord Gevil berusaha mengelabui Alice.
"Apa yang akan kau lakukan? Sudah kubilang Alice adalah milikku!" Arthur berusaha menarik tangan Lord Gevil untuk menjauh, tetapi Lord Gevil menghempasnya.
"Baiklah jika dengan cara halus Alice tak mau bergabung denganku, maka aku akan melakukan cara kasar dengan menghisap kekuatannya," ucap Lord Gevil lalu membopong tubuh Alice tetapi Ratu Samantha menghadangnya.
Lord Gevil lantas menghempas wanita paruh baya itu sampai membentur dinding gua. Ratu Samantha lantas mengeluarkan cairan merah segar dari mulutnya. Dia muntah darah. Arthur sontak berteriak memanggil neneknya. Dia menghampirinya.
"Selamatkan Alice, Arthur! Jangan pikirkan nenek!" ucapnya.
"Tapi, Nek–"
"Nenek akan baik-baik saja, Arthur. Selamatkan Alice!" titahnya.
Arthur terpaksa bangkit lalu mencari keberadaan Lord Gevil yang ternyata sudah membopong tubuh Alice dengan paksa lalu menjauh.
"Tidak! Lepaskan Alice!" Arthur berusaha mengejar untuk menolong Alice.
Lord Gevil berniat untuk menggigit leher Alice dan menyerap kekuatan wanita tersebut dengan menghisap darah segarnya. Dia akan meninggalkan luka menganga di leher wanita yang tengah hamil itu.
Akan tetapi sebelum rencananya terlaksana, Lord Gevil tampaknya lengah. Arthur langsung menebas tangan Lord Gevil sampai dia berteriak kesakitan dan menjatuhkan tubuh Alice. Arthur lalu menusuk jantung sang lycan tersebut penuh amarah. Akhirnya, Lord Gevil kehilangan kekuatannya. Dia jatuh terduduk seraya memegangi bagian dadanya yang baru saja tertusuk itu.
Arthur bergegas menghampiri Alice. Dia memangku wanitanya itu di tangannya seraya memastikan kalau Alice baik-baik saja. Alice menyentuh pipi Arthur.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...