
Bab 17 MVILY
Alice tersadar dan membuka kelopak cantik nan lentik itu seraya mengamati sekitar. Alice mendengar suara Arthur yang tengah tertawa bersama Tuan Luke. Dia tak menyangka kalau Arthur akan menolongnya. Namun, Alice melihat hal yang janggal. Kedua pria itu memiliki taring.
"Astaga! Apa yang dikatakan Ella rupanya benar!"
Alice lantas ingin kabur dari rumah kayu di atas bukit itu, tetapi Arthur melihatnya.
Bahkan sejak Alice ada di balik daun pintu sedang mengintip dia juga sudah tahu. Arthur lalu menahan Alice dan menjelaskan semuanya. Dia juga memperkenalkan Alice pada Tuan Luke.
"Apa setelah aku tahu semuanya kalian akan memangsaku?" tanya Alice.
"Kalau itu tujuanku, sudah dari kemarin aku menghisapmu." Arthur memberikan secangkir cokelat panas buatannya pada Alice.
"Tumben. Biasanya kau tak mau Paman suruh untuk membuatkanku coklat panas seperti itu," ucap Luke menggoda Arthur.
"Ayolah, Paman, aku hanya kebetulan buat."
"Ummm, terima kasih. Tapi, waktu kau menolong Ella, kau penghisap darah penjahat itu. Apa itu benar?" tanya Alice.
"Jadi, Ella sudah tanu?" Arthur balik bertanya.
Alice mengangguk.
"Dia bisa dipercaya, kok." Alice meyakinkan.
"Apa kini kau takut denganku?" tanya Arthur.
"Tadinya iya, sekarang tidak. Aku malah mau mengucapkan terima kasih karena menolongku. Ini kali kedua kau menolongku," ucap Alice.
"Haha, aku hanya kebetulan lewat." Arthur berbohong seraya menoleh pada Paman Luke agar jangan berkata apa pun.
Pria itu juga berdalih kalau kerap menyamar sebagai rakyat jelata untuk melihat kondisi rakyatnya terutama di pasar. Arthur tak ingin Alice tahu kalau dia sedang mengkhawatirkannya.
"Karena kau sudah lebih baik, ayo kita kembali!" ajak Arthur.
Alice mengangguk. Dia sempat agak takut melihat ke arah Luke.
__ADS_1
"Tenang saja, aku tidak akan mengigitmu," tukasnya.
"Hehehe, aku permisi dulu kalau begitu." Alice lantas pamit.
Dia mengikuti Arthur berjalan menuju jalan raya. Arthur akan menghubungi Tuan Liam untuk menjemputnya. Namun, pemuda itu berubah pikiran. Arthur mengajak Alice ke arah yang lain. Ia ingin menunjukkan tempat favoritnya di sebuah gua dalam hutan yang memiliki danau.
"Tenang saja, Al. Aku tak akan menyakitimu," ucap Arthur.
"Tapi, apa tak sebaiknya kita pulang dulu? Ibu Rose dan Ella, bahkan yang mulia pasti khawatir karena kita tidak pulang," tutur Alice.
"Aku sudah menghubungi Mark dan menjelaskan semuanya," sahutnya.
"Apa tanggapan Mark?"
"Kau sangat ingin tahu, ya? Apa dia begitu penting untukmu?" tanya Arthur.
"Tidak, kok. Dia hanya sahabatku," ucap Alice.
Arthur membawa Alice ke sebuah gua yang awalnya terlihat sangat gelap dan suram. Akan tetapi, saat wanita cantik itu masuk lebih dalam, Alice lantas terpesona dengan pemandangan dalam gua yang memiliki mata air yang jernih dan dikelilingi bunga mawar merah. Meskipun minimnya cahaya matahari yang masuk tetap saja bunga-bunga bermekaran itu sangat cantik. Arthur malah sengaja turun ke dalam mata air untuk berendam.
"Hei, kau sedang apa?" pekik Alice khawatir.
"Duh, bagaimana ini, masa aku harus menanggalkan bajuku di depan pria ini? Masa iya aku ikut berendam pakai pakaian ini?" gumam Alice.
Alice terlihat menggigit ujung kuku jari tangannya sendiri.
"Heh, kau mendengarku, kan? Lekas ke sini!" seru Arthur.
"Ah, tak mau ah! Aku di sini saja berjaga di sini sambil melihat bunga," sahut Alice.
Perempuan itu langsung berlari menghindar dan berpura-pura mencari bunga.
"Lagipula apa yang kau takuti? Aku juga sudah pernah melihat tubuhmu itu," tukas Arthur.
"Heh, kau ini–" Alice menahan kegeramannya.
Tak lama kemudian setelah sang pangeran puas berendam di telaga dalam gua itu, ia menemui Alice yang malah tertidur pulas di tepi gua. Alice baru saja menghirup aroma bunga mawar yang ternyata membuat rasa kantuk manusia meningkat.
__ADS_1
"Kenapa wajahnya semakin cantik saat dia tidur, ya?" gumam Arthur.
Arthur tanpa sadar menyentuh pipi halus milik Alice itu dengan punggung tangannya seraya tersenyum.
"Halus sekali, lembut, dan sangat harum aroma tubuhnya." Perlahan Arthur mendekat dan sempat memikirkan untuk menggigit leher Alice dan menghisap darah murni yang memabukkan itu.
Alice malah sempat menggumam ketika dia membayangkan berada di sebuah pesta ulang tahun adiknya seraya menyantap hidangan lezat dan segelas wine mahal.
"Nyatakan musiknya, Alena!" seru Alice.
Dia masih terlelap dengan kedua mata masih tertutup tetapi tersenyum dan bicara sendiri sampai membuat sang pangeran tertawa kecil. Arthur tersadar dan langsung menjauhkan wajahnya dari leher Alice.
"Apa-apaan aku ini?" Arthur sampai mengusap wajahnya dengan gemas.
Saat bangkit, ujung kakinya menyentuh bahu Alice yang terbaring dan membuat perempuan itu terjaga.
"Hmmm … kenapa sih menggangguku!" Alice terdengar mengigau dan merasa adiknya yang nakal yang membangunkannya. Dia belum sadar sepenuhnya.
"Heh, ini aku, lekas bangun!" seru Arthur.
"Astaga, aku lupa kalau sedang ada di sini, maafkan aku pangeran," ucap Alice langsung bangkit berdiri dan menyeka air liur yang hampir menetes tersebut.
"Sopan sekali kau ini," tugas Arthur semakin tertawa terbahak-bahak dibuatnya.
Baru itu Alice mendapati sang pangeran tertawa dengan sangat lepas. Wajah pria itu semakin terlihat tampan.
"Wah, manisnya!" ucap Alice tak terduga.
Tawa Arthur jadi terhenti. Ia malah melayangkan tatapan sinis.
"Apa yang kau katakan barusan?"
"Ummm, aku lapar. Sepertinya tadi aku melihat buah apel di luar gua. Dan sepertinya manis," ucap Alice mencari alasan palsu.
"Ya sudah, ayo kita pulang!"
Namun, ternyata benar ada apel manis sesuai penuturan asal Alice. Setelah memetik beberapa apel tersebut. Tiba-tiba, mereka mendengar rombongan pria yang melintas dan terlihat mencurigakan. Arthur lantas mengajak Alice untuk bersembunyi.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...