Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
8. Ruang Rahasia


__ADS_3

Bab 8 MVILY


Di sebuah bukit tempat Tuan Luke tinggal bersama seekor beruang cokelat, Arthur menemui pria itu. Luke sedang memotong kayu untuk dijadikan kayu bakar kala itu. Arthur menceritakan seseorang bernama Joshua yang keluarganya dibantai oleh para lycan.


"Apa kau percaya itu, Paman Luke? Masih ada lycan yang sampai ke sini, begitu?" tanya Arthur.


"Entahlah, tetapi kita harus menyelidikinya. Kita juga harus waspada jika memang ada kawanan lycan sampai ke wilayah ini," sahutnya.


"Beruang itu masih sinis saja denganku," lirih Arthur seraya meraih buah apel dari atas meja dan membuka tudung jaketnya.


Tuan Luke tampak nyaman di bawah sinar matahari meskipun sebagian tubuhnya berpendar. Mungkin dia sudah terbiasa bersahabat dengan paparan terik sang matahari.


"Dia memang selalu membencimu, Arthur." Tuan Luke tergelak.


Lantas pria itu menanyakan tentang Alice pada Arthur.


"Jangan bicarakan dia, Paman! Mati-matian aku berusaha untuk menghindarinya. Aku hanya takut dia mengeluarkan darah. Aromanya sangat kuat. Padahal aku sudah belajar keras untuk mengendalikan diri untuk menghisap darah hewan saja," sahut Arthur meluaokan kekesalannya.


"Bukankah kita tetap menghisap darah manusia, Haha." Tuan Luke menyudahi kegiatannya lalu duduk di beranda rumahnya bersama Arthur.


"Tapi, manusia yang kita habisi itu merupakan penjahat. Alice itu hanya manusia biasa dan kelihatannya dia gadis baik-baik," tukas Arthur.


"Tentu saja dia gadis baik-baik, dan aku yakin di matamu si Alice gadis sempurna. Bukan begitu, Arthur?" Tuan Luke menoleh pada Arthur penuh telisik.


"Sungguh aku tak mengerti dengan arah pembicaraan ini," sungut Arthur.


"Jujurlah kau menyukai gadis itu sejak pertama kali bertemu, kan? Kau selalu membicarakannya meskipun tak sadar," ucap Tuan Luke.


Dia tertawa puas setelah meledek Arthur seraya bangkit dan menuju ke dalam rumahnya. Sementara Arthur masih saja bersungut-sungut sampai menantang beruang cokelat yang selalu mengikuti Tuan Luke.


...***...


Sampai suatu ketika, setelah Alice menghafal seluruh sudut ruangan dalam istana, dia akhirnya menemukan ruang rahasia yang di jadikan tempat penyimpanan data atau berkas penting kerajaan.

__ADS_1


Alice menemukannya saat membersihkan rak buku Arthur di kamarnya. Dia menemukan sebuah buku yang tak sengaja dia senggol. Lalu terbukalah rak buku tersebut ke sebuah ruangan rahasia di baliknya. Alice menyusuri anak tangga menuju ke sebuah ruang lagi seperti ruang bawah tanah. Setelah memastikan tak ada orang yang mengikuti, dia mengendap menuju ke ruang lebih dalam.


Ruangan tersebut sangat gelap dan lembab. Akan tetapi, ketika Alice berada di pusat ruangan penuh dengan rak buku, lampu penerangan pun menyala seolah membaca sensor panas manusia. Alice sempat tersentak karenanya. Gadis itu lalu memindai buku-buku dan map berkas-berkas untuk mencari perihal tentang kasus yang menimpa ayahnya.


"Hmmm, sepertinya aku bisa mencari data tentang peristiwa masalah ayahku yang dianggap pengkhianat. Aku ingin tahu atas dasar apa ayah sampai disebut pengkhianat lalu kami diserang," gumam Alice sampai tak terasa bulir bening itu membasahi pipi.


Alice menyeka air matanya. Lalu menguatkan diri kembali. Meskipun ia sempat larut dalam kesedihan atas kehilangan keluarganya. Alice lantas menemukan sebuah map dengan judul "Morgan's File". Benar saja kecurigaan Alice terbukti saat membuka map yang ternyata berisi beberapa data tentang ayahnya.


Namun sayangnya, saat Alice berada di ruang rahasia dan sedang mengamati lebih saksama map tersebut demi mencari data tentang masalah ayahnya. Arthur memergokinya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Arthur mengejutkan Alice sampai gadis itu memekik.


Alice menjatuhkan map tersebut. Arthur langsung meraihnya.


"Apa yang kau lakukan terhadap berkas ini? Atau kau sedang mencari data tentang kerajaanku lalu menjual datanyaa pada musuh kami, begitu?" tuding Arthur.


"Bu-bukan begitu, Pangeran. Aku hanya… aku hanya sedang membersihkan area sini," ucap Alice berbohong.


"Huh, sombong sekali pangeran ini. Sudah aku bilang, aku tak bermaksud untuk mencari tahu tentang kerajaan ini. Aku hanya ingin mencari tahu tenang ayahku!" tegas Alice.


Saat Arthur memergokinya, dia menelisik ke arah map yang dipegang Alice.


"Apa kau tahu kalau berkas yang kau pegang itu salah satu contoh pengkhianat kerajaan?" ucap Arthur.


Wajah Alice terasa terbakar api kemarahan. Merah padam dan seperti ada kepulan asap di atasnya. Tangan kanannya juga sudah mengepal karena geram.


"Ayahku bukan pengkhianat!" seru Alice.


Arthur terperanjat dan tak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Kau bilang apa? Ayahmu bukan pengkhianat? Memangnya siapa ayahmu?" tanya Arthur.


"Pria yang dibicarakan di map ini," ucap Alice.

__ADS_1


Setelah keheningan menyelimuti cukup lama di antara Arthur dan Alice, kini Arthur jadi memahami siapa Alice. Gadis di hadapannya merupakan putri dari Morgan Smith, menteri pertahanan keamanan kerajaan periode lalu.nAlice lantas membela diri dengan mengatakan kalau ayahnya bukan pengkhianat.


Arthur hanya tersenyum tetapi raut wajahnya mengisyaratkan kalau pemuda itu tak percaya dan tetap menganggap keluarga Jhonson pengkhianat.


"Jika kau tahu akibat dari pengkhianatan ayahmu ini, kau pasti akan merasa malu menjadi ayahnya," ucap Arthur seraya menarik lengan atas Alice secara kasar.


Pria itu membawa Alice ke luar dari ruangan rahasia tersebut. Ia mendorong kasar tubuh Alice sampai terjerembab ke lantai.


"Ouch!" pekik Alice.


Gadis itu mencoba bangkit. Arthur lalu menyerangnya dan mencekik Alice.


"Apa kau tahu yang pengkhianat itu lakukan, hah?!" pekik Arthur.


"Aarrghh, le-lepaskan aku!" pinta Alice mencoba memukul tangan Arthur agar cengkeraman tangan kekar itu terlepas dari lehernya.


"Dia yang membuat keluargaku mati!" ucap Arthur.


Arthur berusaha membunuh Alice. Rasanya nyawa harus dibayar nyawa agar sepadan. Akan tetapi, melihat Alice yang kesakitan, pemuda itu jadi tak tega. Arthur tak sadar menghempas Alice sampai jatuh dan kepalanya membentur tepi ranjang. Dahi Alice mengeluarkan darah yang mengucur.


Aroma anyir darah Alice yang menyeruak bagai parfume menusuk indera penciuman Arthur, malah langsung membuat pria itu menoleh ke arah lain.


Arthur sontak saja berteriak pada Alice untuk pergi dari kamarnya. Bahkan Arthur mengancam akan memenjarakan Alice kala itu.


Namun, saat Arthur menoleh, Alice sempat melihat ada taring yang mencuat di sudut bibir sang pangeran. Arthur lantas menutup akses ke ruang rahasia tersebut dan tetap berada di dalamnya.


"Pangeran! Aku akan buktikan kalau ayahku tidak bersalah! Kami bukan keluarga pengkhianat!" seru Alice seraya memukul rak buku tersebut.


Di balik rak buku itu, Arthur meringkuk. Sejatinya dia sangat membenci ayahnya Alice karena Arthur mengira kalau kematian orang tuanya akibat informasi dari ayahnya Alice pada Kerajaan West Bloom. Arthur bersumpah akan membalas dendam pada siapa pun keturunan Morgan Jhonson.


...*****...


...To be continued...

__ADS_1


__ADS_2