
Bab 46 MVILY
Goldice dan Icy berpura-pura tertangkap oleh Wild. Mereka dibawa ke kastil milik Lord Gevil. Namun, Goldice merayu Wild dan mengatakan kalau dia merupakan wanita penghibur. Wanita berusia dua puluh lima tahun itu memberi ide pada Wild untuk membuat pesta di kastil para lycan. Wild dengan bodohnya menyetujui. Dia terpesona dengan kecantikan Goldice yang menyihirnya.
Sementara itu, Mark datang bersama Tuan Beast. Dia meminta Lord Gevil agar mengembalikan Alice. Namun, pemimpin lycan itu tak mau karena ingin menikahi Alice dan mengasuh anak vampir yang digadang-gadang akan memiliki kekuatan yang hebat. Lord Gevil lantas memenjarakan Mark di penjara bawah tanah karena tak mau menurut.
Saat malam menjelang, Wild yang memberikan ide untuk berpesta mulai mempersiapkan pesta dengan meriah. Untungnya, para lycan tak mengenali Goldice dan juga Icy. Padahal desa mereka pernah dibantai sebelumnya.
Sesuai arahan dari Tuan Arthur, Icy mulai membubuhi makanan untuk para lycan dengan racun. Mereka akan merasa kesakitan dengan tenggorokan terasa tercekat lalu mulai kehabisan napas dan akhirnya mati.
Goldice dan Icy sempat bertatapan. Namun, keinginan balas dendam terhadap kematian keluarga dan para rakyatnya membuat tekad mereka sudah bulat untuk menghabisi para lycan yang jahat serta semena-mena itu. Semua racun itu diracik oleh Delilah dan juga Tabib Ly.
Iringan Lord Gevil mulai datang. Pemimpin lycan itu duduk di singgasana miliknya yang berhias emas dan permata di sebuah panggung yang lebih tinggi dari tempat para lycan lainnya duduk. Di belakang Lord Gevil ada Tabib May.
"Duh, bagaimana ini, Kak. Apa Tabib May mengenali kita?" bisik Icy.
"Tenang saja, Icy. Kita kan pakai cadar," tukas Goldice.
Icy mengangguk.
__ADS_1
"Icy, apa kau siap?" bisik Goldice.
"Aku siap. Apa kau siap juga, Kak?" Icy balik bertanya.
"Aku siap, Dik. Aku juga siap menjagamu, aku akan selalu ada di sisimu," tegas Goldice.
Icy lantas memeluk sang kakak sebelum mereka ke luar dari ruangan rias dan menuju tempat pesta. Mereka akhirnya mantap melakukan tarian yang menggoda bagi para lycan.
...***...
Sementara itu di ruangan tempat Alice berada, wanita itu sudah dirias dengan dandanan yang menor. Suasana kamar juga tampak berbeda. Seperti kamar pengantin tetapi norak dekorasinya. Alice hanya terdiam dan terpaku menatap dirinya di cermin.
"Siapa aku?" lirih Alice seraya menyentuh wajahnya sendiri.
"Tabib May, periksa mereka!" titah Lord Gevil.
Cadar penutup wajah Goldice dan Icy terbuka.
"Bukankah mereka para putri kerajaan dingin? Kenapa mereka ada di sini? Tabib May menatap tajam ke arah Goldice dan Icy.
__ADS_1
Lor Gevil lalu tersenyum menyeringai bagaikan hewan buas yang mendapatkan buruannya. Pemimpin para lycan itu lalu buka suara.
Tak berapa lama kemudian setelah hidangan makanan disajikan sesuai rencana lycan mulai berjatuhan. Namun, hal itu tak tejadi pada Lord Gevil. Anggur yang disuguhkan untuk pria itu sudah diberi racun, tetapi ia tetap kuat dan tak terjadi apapun kepadanya.
"Apa yang terjadi?" Lord Gevil menatap tajam ke arah putranya Wild yang memegangi lehernya yang terasa panas itu.
"Ayah tolong aku!" lirih Wild.
Sebenarnya Lord Gevil itu juga bingung dengan apa yang terjadi kemudian. Namun, Tabib May memberitahukan kalau para anak buah lycan itu terkena racun.
"Oh, jadi apa yang mereka inginkan?" tanya Lord Gevil.
"Mungkinkah mereka ingin membalas dendam?" Tabib May mengernyit.
Mendadak kemudian atas rencana Icy, semua lampu padam. Membuat kepanikan semakin terjadi. Lord Gevil kehilangan jejak Goldice dan Icy. Mereka sudah menuju kamar Alice saat itu.
"Ayo, ikut kami jika kau tak ingin jadi santapan para lycan itu!" ajak Goldice.
"Tidak mau!" Alice menpis tangan Goldice kala itu juga penuh amarah.
__ADS_1
...*****...
...To be continued ...