
Bab 24 MVILY
Padahal suara keras itu datang dari seorang suster yang tak sengaja menabrakkan rak obat ke pintu kamar Alice. Suster itu sampai terjatuh karena terantuk kaki rak obat tersebut. Ia jatuh tepat di samping ranjang Alice.
"Hehehe ... Maaf ya, Nona. Saya sudah mengagetkan Anda," ucap suster itu seraya meringis.
Alice sampai menahan tawanya karena baru itu melihat sosok galak Arthur yang juga bisa ketakutan. Arthur meringkuk sampai menarik tirai jendela jatuh dan menutupi wajahnya. Tetapi, pria itu masih berusaha untuk tetap berani di hadapan para wanita tersebut. Arthur langsung bangkit dan pura-pura memasang kembali tirai jendela
"Maaf, kalau boleh tahu kegaduhan apa yang terjadi di sini?" tanya suster itu.
"Kenapa rumah sakit ini ada serangga besarnya? Ini tadi saya sedang bertarung dengannya serangga yang sudah keluar dari jendela ini," sahut Arthud berbohong.
"Maafkan saya, Yang Mulia. Saya akan segera meminta pihak kebersihan membetulkannya. Apa Nona ke kamar mandi sendiri?" tanyanya pada Alice kala melihat cairan infus itu tersumbat.
"I-iya, aaawww!" Alice berbohong seraya menahan perih.
"Harusnya alat infusnya dibantu pegang sama suster, jangan paksa buka celana sendiri. Nanti jika ingin buang air kecil lagi, Nona boleh panggil saya," ucap suster itu dengan ramah.
"Hehehe ... baik suster." Alice buru-buru mencairkan suasana tegang itu, dia melirik ke arah Arthur yang masih waspada karena sepertinya masih takut dengan hantu.
"Besok infusnya belum boleh dibuka ya, jadi kalau mau mandi, kau bisa minta tolong para suster untuk membantu. Jangan minta bantuan pangeran, nanti malah terjadi hal-hal yang diinginkan," ucapnya sambil berbisik seolah tahu kalau Alice merupakan pasangan Arthur.
__ADS_1
"Baik, Suster," sahut Alice yang masih mencoba merespon bercandaan suster yang terdengar konyol itu. Padahal Arthur sudah menatap tajam bagai seekor singa lapar yang ingin menghabisi buruannya.
"Saya permisi dulu ya kalau begitu," ucap suster itu lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Aku rasa suster itu ada benarnya juga," sahut Arthur mendekat.
"Aku juga tak tahu kenapa dia bilang begitu. Aku sampai heran. Bisa-bisanya dia bilang kalau besok itu aku disuruh minta bantuan sama suster untuk mandi dari pada minta bantuan mu. Lucu, ya?" Alice tertawa garing.
"Tapi, mungkin aku bisa menahannya kala itu terjadi. Aku tak akan menggigitmu rasanya. Tapi…."
"Kenapa wajahmu seperti itu? Jangan jadi pangeran mesum, ya!" Alice mendorong wajah Arthur menjauh.
"Aku tak akan minta tolong padamu, tenang saja! Nanti aku akan minta tolong pada suster," ucap Alice lagi bersikukuh.
"Ya sudah besok aku bantu kau untuk mandi, eh maksud aku, aku akan minta suster untuk membantu kau mandi," sahut Arthur mulai terlihat panik karena keceplosan dan tersadar sikapnya berubah di depan Alice padahal biasanya dingin dan cuek.
Pria itu lalu mendekat dan memeriksa pergelangan tangan Alice yang baru saja dipasang selang infus kembali.
"Kenapa pada biru seperti ini, apa ini terasa sakit?" tanya Arthur yang secara spontan seraya mengusap pergelangan tangan wanita itu.
Tangan Alice sangat mulus sampai kulitnya yang terlihat memar kebiruan karena jarum infus itu sangat terlihat jelas
__ADS_1
"Ini sakit sekali, tetapi karena kau mengusap seperti itu, tangan ini jadi tak terasa sakit," ucap Alice seraya melukiskan senyuman saat menatap wajah Arthur.
"Eh, apa yang sedang aku lakukan ini. Sana sebaiknya kau tidur saja!" bentak Arthur lagi mulai panik.
"Oke, tapi … sebelumnya aku harus bilang terima kasih ya karena kau sudah berbesar hati mau menjaga aku di rumah sakit ini," lirih Alice.
"Aku melakukan ini terpaksa, karena kau mengandung anakku. Diamlah, aku mau tidur!" ketus Arthur.
"Dih, tadi baik sekarang ketus. Cepat sekali perubahan perilaku orang ini," gumam Alice.
Alice akhirnya merebahkan diri berbaring di atas ranjang rumah sakit itu. Arthur menarik selimut agar menutupi seluruh tubuh gadis itu. Ia juga mengusap kepala gadis itu dan berucap, "selamat tidur, mimpi indah." Lalu memberi kecupan di sana.
Jantung Alice berdebar tak karuan kala itu. Namun, dia mencoba tetap tenang kala Arthur kembali ke sofa untuk berbaring. Alice kembali menatap wajah Arthur yang sudah berbaring di atas sofa. Ia masih menatap wajah calon suaminya itu sambil tersenyum. Meskipun dia masih tak mengerti dengan perubahan sikap Arthur yang tak menentu, dia tetap merasa saat itu pria tersebut berbeda.
Alice sempat berpikir apakah dia merasa kalau ia mulai menyukai pria yang sempat ingin ia habisi itu karena ingin balas dendam?
Ditemani dengan detak jam dinding dalam ruangan, Alice dan Arthur akhirnya terlelap sampai pagi menjelang.
...*****...
...To be continued ...
__ADS_1