
Bab 32 MVILY
Alice berlari dengan panik. Langkahnya serabutan tanpa tahu arah meskipun ranting-ranting tajam itu meyayat kaki mulusnya. Alice hanya ingin kembali ke istana bagaimanpun caranya.
"ALICE, BERHENTI!!!"
Teriakan itu terdengar semakin mendekat. Alice cukup lihai menghindari Mark, tetapi rasa sakit di perutnya berdenyut hebat. Sementara itu, derap langkah Mark yang sudah berlari semakin jelas terdengar dan mendekat.
Perempuan berparas ayu itu sangat panik dan memutuskan memasuki hutan lebih dalam. Selain cabang ranting yang tajam menggores permukaan kulitnya, telapak kakinya juga terasa sakit dan perih memijak kerikil-kerikil di atas tanah kering itu.
Fokusnya hanya satu agar tidak tertangkap oleh Mark. Alice tak mau tinggal di balik villa terkutuk yang bagaikan sangkar ity. Begitu banyak cobaan yang lebih besar nanti yang akan menunggunya jika dia berada di sana lebih lama.
"Ya Tuhan, aku harus bagaimana ini?" gumam Alice.
Iris birunya nampak mengkilap. Merotasi ke segala arah saat menelisik sekeliling.
Untung saja Alice tak terkena jebakan buatan Arthur. Dan kini, gadis itu berada di tepi tebing bukit di mana dia dan keluarganya pernah mengalami kecelakaan.
__ADS_1
Di depannya hanya ada Laut lepas, luas, dan dalam yang siap melahapnya. Deru ombak bersahutan seolah memanggilnya untuk terjun. Airnya sangat dingin dan pastinya sangat dalam. Haruskah ia melompat ke laut? Begitu pikirannya terus menari-nari maju mundur meyakinkan.
"Apa aku bisa selamat dengan berenang ke tepian, ya?" gumamnya.
Suara teriakan Mark makin jelas mendekat.
"Alice Sayang! Aku mohon kembalilah! Aku bisa membahagiakanmu Alice! Aku amat mencintaimu!" Mark akhirnya muncul dari balik batang pohon yang besar.
Sepasang kaki ramping yang telah terdapat banyak luka iti, telah berada di tepi tebing. Alice gemetar dan sangat meragukan diri untuk menyatukan diri bersama deburan ombak yang menghantam sisi tebing.
"Al, apa yang kau lakukan di sana? Ayo, kita pulang! Atau kita pergi jauh saja dari sini. Tak akan ada lagi Arthur karena besok dia pasti mati oleh tim pemburu makhluk," ucap Mark.
"Pergi! Aku tak mau bersamamu, Mark! Kau bukan Mark yang baik yang aku kenal dulu!" pekik Alice.
Napas gadis itu terdengar tersengal-sengal seraya meraup rakus oksigen di sekitarnya. Kondisi Mark juga sebenarnya sama, dia juga lelah berlari mengejar Alice yang lincah. Pria itu tak menyangka kalau Alice akan segesit kancil.
"Aaarrgghh!" Alice memegangi perutnya yang terasa nyeri dan tegang.
__ADS_1
"Al, pikirkan keadaanmu sekarang? Pikirkan bayi itu. Kalian harus selamat, bukan? Ayolah ikut denganku. Aku jamin kita akan baik-baik saja. Yakinlah aku tetap Mark yang dulu. Perasaanku tak pernah berubah terhadapmu, Al," ucap Mark mencoba membujuk Alice.
Namun, Alice hanya bisa menggeleng seraya menangis. Mendengar kematian Arthur yanga akan dieksekusi esok hari, sangat membuatnya terpukul.
"Jika takdir harus jahat seperti ini padaku, maka baiklah. Aku akan tetap memilih bersama Arthur dibandingkan dengan dirimu," ucap Alice.
"Al, apa yang akan kau lakukan? Al, jangan bodoh! Dengarkan aku, Al!" pekik Mark.
"Tidak, Mark. Aku tidak bisa bersamamu," ucap Alice.
Perempuan itu lantas memilih untuk melompat. Kedua matanya terpejam dan bersiap menyatukan diri dengan lautan. Hanya desiran angin dan deburan ombak yang memanjakan indera pendengarannya. Tekadnya sudah bulat. Tubuh ramping dan paras cantik itu menjatuhkan diri ke laut. Tubuhnya melayang di udara sesaat sebelum berdebam bercamour deru ombak. Alice tertelan pekatnya air laut malam itu.
"ALICE….!"
Mark berteriak dengan panik. Pria itu kemudian berlari menuju pinggir pantai yang jaraknya lumayan jauh. Pria itu juga menghubungi seseorang yang memiliki kenalan penjaga pantai. Mark juga menghubungi pemilik kapal untuk menyiapkan kapal untuknya saat itu juga. Dia berharap akan menemukan Alice dan mencarinya malam itu juga meski laut sedang pasang dan pastinya lautan akan terlihat pekat karena suasana malam meskipun bulan sempurna bersinar terang.
...*****...
__ADS_1
...To be continued ...