Mr. Vampire, I Love You!

Mr. Vampire, I Love You!
27. Tak Mengerti


__ADS_3

Bab 27 MVILY


Arthur meraih tisu dan memberikannya pada Alice.


"Terima kasih," ucap Alice lalu menatap Arthur, "Apa kau sempat melihat Mark datang? Kenapa kau tak tanya saja padanya," tukas Alice berusaha untuk acuh pada Arthur.


"Kalau aku bisa tanya pada dia, kenapa aku harus tanya padamu sekarang? Kau menyukainya, ya?" tanya Arthur.


"Dia hanya teman baikku. Aku menyayanginya hanya sebatas sahabat saja," lirih Alice.


Tak ada perkataan apa pun lagi dari Arthur. Pria itu berbaring di atas sofa dan berbalik ke arah badan sofa. Sudut bibirnya tertarik ke atas dan kedua matanya berusaha terpejam. Arthur merasa, mimpinya akan nyenyak malam ini.


...***...


Siang itu, Alice telah pulih dan diperbolehkan untuk kembali pulang. Sang ratu menyambutnya dengan senyum bahagia. Ia bahkan memerintahkan beberapa pelayan untuk menyiapkan kamar yang baru bagi Alice.


"Seminggu ke depan, pesta pernikahan kalian akan digelar. Kau harus beristirahat supaya tubuhmu segar dan fit saat pesta nanti," ucap Ratu Samantha.


"Baik, Yang Mulia." Alice tersenyum hangat.


Bu Rose dan Ella menyambut Alice dan menemaninya menuju ke kamar. Mereka juga tak menyangka kalau Alice akan menjadi bagian dari keluarga royal kerajaan New Silk.


Ella bahkan sudah menyiapkan konsep pesta kebun yang akan meriah. Menurut Ella dalam pernikahan yang akan sangat cantik nanti, Alice akan memakai gaun pengantin warna broken white. Begitu juga dengan sang mempelai pria yang pastinya akan sangat tampan.


Ella dan Alice lantas membayangkan Arthur memakai setelan jas warna putih bertema pangeran, dengan sebuah mawar yang disematkan di saku sebelah kanan tampak tersenyum bahagia.

__ADS_1


Alice dan Arthur nantinya akan menggelar pernikahan di luar ruangan atau out door. Lalu, Ella menceritakan khayalannya kalau ia akan mengusung tema pernikahan Rustic Wedding. Sesuai dengan namanya rustic, atau pedesaan. Rustic wedding lebih mengedepankan sisi sederhana, menyatu dengan alam tetapi tidak menghilangkan sisi elegan dan kemewahan di dalamnya.


Konsep rustic wedding milik Ella yang ia gambaran akan didominasi dengan unsur kayu, warna coklat keemasan. Lalu, akan ada sentuhan alam seperti tumbuhan alang-alang, aneka macam bunga, bahkan akar-akar pohon sintetis.


Untuk menambah kesan hangat dan gemerlap, nantinya akan ditambahkan hiasan lampu-lampu kecil serta menggantung lentera di beberapa sudut venue.


"Kau menghayal terlalu cantik," ucap Alice.


"Heh, dengarkan dulu! Aku itu seorang wedding organizer yang baik," sahut Ella.


"Hahaha, memangnya kau belajar di mana hal serperti itu? Menikah saja kau belum pernah, kan?" tuding Alice.


"Ah, sudahlah! Pokoknya dengarkan dulu. Nanti kursi untuk para tamu juga menjadi detail yang diperhatikan. Kursi kayu disejajarkan harus rapi. Tapi, tak perlu banyak sentuhan. Nanti aku akan menyematkan renda-renda atau simpul pita di belakang kursi," ucap Ella.


Alice hanya tersenyum menanggapi.


Selepas keduanya pergi, Alice mengamati kamar barunya yang lebih luas dan lebih bagus dari sebelumnya. Dia juga merebahkan diri di atas ranjang yang lebih empuk.


"Ah, senangnya…." Alice menghela napas lega.


Merasa tenggorokannya tercekat, Alice beranjak untuk mengambil air dari teko di atas bufet kecil dalam kamar di sisi jendela. Alice sempat melihat Mark berdiri di kebun belakang dan menatap ke arah jendela kamarnya. Alice membuka tirai tersebut dan tersenyum pada Mark. Pria itu melambaikan tangan. Lalu, Mark beralih masuk. Ada tatapan aneh yang Mark layangkan yang langsung membuat hati Alice gelisah.


"Kenapa aku merasa Mark sangat aneh, ya? Apa yang akan dia lakukan nantinya terhadap ku setelah pernyataannya kemarin?" Alice bermonolog pada dirinya sendiri seraya meneguk segelas air putih yang segar.


Rasa kantuk mulai menyerang, entah karena efek obat dari dokter atau memang kondisi kehamilan yang membuatnya cepat merasa lelah. Alice membaringkan tubuhnya di atas ranjang lalu terlelap.

__ADS_1


***


Ketukan terdengar di pintu kamar Alice. Ella memanggilnya berkali-kali sampai membuat perempuan itu terjaga. Alice bergegas membuka pintu tersebut. Rasa pusing sempat menggelayut akibat terburu-buru saat bangkit dari pembaringannya.


"Ada apa, El? Kenapa kau terlihat panik?" tanya Alice.


"Al, ini gawat. Aku rasa Mark sudah keterlaluan," sahut Ella.


"Keterlaluan bagaimana?" Alice mengernyit seraya menatap tak percaya.


"Ikut aku!" Ella menarik tangan Alice menuju ruang kerja sang ratu.


Rupanya, di sana sudah ada Tuan Bernard dan Arthur yang sedang berdiri menatap Mark. Alice melihatnya dari celah pintu yang terbuka. Semua mata tertuju pada Mark termasuk sang ratu yang sedang duduk di kursi kerjanya di hadapan Mark.


Alice tak sengaja terantuk kaki meja tempat guci berada dan hampir menjatuhkannnya. Alice dan Ella buru-buru menyelamatkan guci tersebut sebelum pecah berserakan. Kini, semua mata kini menoleh pada Alice. Ratu Samantha mempersilakannya untuk masuk.


"Alice, apa kau bisa mengatakan kejujuran yang sebenarnya?" tanya sang ratu.


"Kejujuran tentang apa, Yang Mulia?" Alice sungguh tak mengerti.


"Al, akui semuanya seperti aku sudah mengakui semuanya," ucap Mark.


"Apa yang harus aku akui, Mark? Aku benar-benar tak mengerti," ucap Alice.


...*****...

__ADS_1


...To be continued...


__ADS_2