
Bab 13 MVILY
Keesokan paginya, Alice terbangun dan merasakan rasa sakit di area intimnya. Dia benar-benar lupa dan tak menyadari akan perbuatan liarnya bersama Arthur semalam. Ketukan di pintu kamar Alice terdengar. Ella datang membawakan sup penghilang pengar mabuk padanya.
"Apa yang terjadi padaku, El?" tanya Alice.
"Sebaiknya kau makan dulu sup ini. Aku yang membuatnya, tapi ada bantuan juga dari ibuku," ucap Ella terkekeh.
"El, ayolah katakan sejujurnya. Kepala aku sangat sakit, apa semalam aku mabuk?" tanya Alice.
"Iya, Al. Semalam kau mabuk."
"Lalu, apa ada hal aneh yang terjadi padaku saat aku mabuk?" Alice mencoba menyeruput sup yang masih hangat itu.
"Ummm, apa kau yakin mau mendengar yang sebenarnya terjadi?" Ella tampak ragu.
"Katakan saja, El, toh aku pasti bisa mengetahuinya sendiri cepat atau lambat. Tapi, lebih baik aku tahu darimu," tutur Alice.
Setelah menghela napas panjang dan mencoba lega, Ella berhati-hati mulai menceritakan apa yang dia lihat pada Alice. Ia yakin kalau melihat Pangeran Arthur membopong tubuh Alice yang mabuk kembali ke kamarnya.
"Arthur yang membawaku kembali ke sini?" Alice mengernyit tak percaya.
"Iya, Al. Aku pun tak tahu apa yang telah dilakukan pangeran padamu. Apa tak ada yang kau ingat?" tanya Ella.
Alice mencoba menggali ingatannya lebih dalam. Sayup-sayup ia meraih sebotol wine dan membawa pisau lipat menuju kamar Arthur. Alice jadi paham kalau dia ingin menghabisi Arthur. Namun, dia tak ingat setelahnya. Hanya saja, ia sempat mengingat Arthur mencumbu leher jenjang nan mulus miliknya.
"Ya Tuhan, Pangeran brengsek itu memanfaatkan aku!" pekik Alice.
Gadis itu mencoba bangkit. Namun, tubuhnya masih terasa lemas. Alice lantas meminta Ella untuk pergi karena dia memeriksa sesuatu. Akan tetapi, Ella tak jua beranjak.
"Ada apa memangnya?" tanya Ella mulai panik.
"Kau pergi saja, El! Aku mau mandi dulu dan berganti pakaian," ucapnya.
"Baiklah kalau begitu." Ella lantas keluar dan menutup pintu kamar Alice.
Mark muncul dari balik dinding luar kamar Alice. Dia mendengar pembicaraan kedua perempuan itu.
__ADS_1
"Kenapa Arthur yang membawa Alice kembali ke kamar? Apa yang terjadi di antara mereka sebenarnya?" Mark bergumam dengan bermonolog.
Tadinya, ia hendak mengetuk pintu kamar Alice, tetapi tak jadi. Mark lantas memilih beranjak pergi.
Sementara itu, Alice masih meratapi kebodohan dirinya. Ia menemukan bercak darah di pakaian dalam yang ia kenakan. Mungkinkah ia sudah kehilangan mahkota berharga miliknya? Alice menangis sejadi-jadinya di bawah kucuran shower kamar mandi agi para asisten rumah tangga itu.
...***...
Arthur keluar dari kamarnya pagi itu. Ia ingin melihat keadaan Alice. Namun, ia melihat sosok perempuan yang tengah ia cari sedang berbicara dengan Mark di taman.
"Apa kau tahu kalau pangeran merupakan pria yang buruk. Dia kerap mempermainkan wanita. Apalagi latar belakang keluarganya selalu membuatnya mendapatkan wanita manapun di New Silk," tukas Mark.
Pria itu berusaha menghasut Alice dengan menjelek-jelekkan Arthur. Mark takut kalau Alice akan menyukai Arthur. Padahal, Mark sudah menyukai Alice sejak kecil. Dia tak mau jika Alice sampai jatuh hati pada Arthur dan kehilangan wanita yang ia cintai itu.
"Oh, jadi dia seperti itu. Dasar pria mesum hidung belang cap kotoran lembu!" Alice mencaci seraya menginjak ulat bulu yang sempat melintas dekat kakinya. Ia menganggap ulat itu seperti Arthur yang puas ia injak.
"Al, ada pameran kuliner baru dekat pantai. Apa kau mau ke sana bersamaku?" tanya Mark.
Sudah lama ia ingin mengajak Alice berkencan. Maka membawa perempuan itu mengunjungi festival kuliner di pasar Kerajaan New Silk tidak ada salahnya dicoba.
Saat menuju ke dapur, Alice bertemu Arthur yang sebenarnya menunggu dia melintas.
"Apa kau tak ingat yang semalam?" ucap Arthur dengan nada pelan tetapi sangat menohok.
Alice terperanjat dan langsung menarik Arthur ke sebuah sudut ruangan. Mengajaknya bersembunyi di balik tirai merah kerajaan sepanjang dua meter itu.
"Kau pikir setelah kau menodaiku, kau bisa ambil kendali atas aku? Aku bisa melaporkanmu pada baginda ratu tentang pemerekosaan!" Alice menatap Arthur tajam penuh ancaman.
"Hahaha, kita melakukannya atas suka sama suka, Al. Kau bahkan menuntunku. Lalu–"
Alice membekap mulut Arthur seketika.
"Apa ini caramu untuk membuatku pergi? Ini caramu untuk menghentikanku membuktikan kalau ayahku tak bersalah?"
Arthur hanya terdiam. Aroma tubuh Alice sangat memikatnya. Kedua taring itu mendadak muncul dan membuat Arthur menepis tangan Alice. Arthur langsung berbalik badan agar Alice tak melihat perubahannya.
"Kau pikir aku ingin kau pergi?" tanya Arthur tanpa menoleh, lalu dia bergegas kembali menuju ke kamarnya.
__ADS_1
"Cih, apa-apaan dia itu. Lihat saja nanti jika aku bisa membuktikan ayahku tak bersalah, maka kau dan keluarga kerajaan ini harus meminta maaf di muka umum," lirih Alice menatap punggung Arthur yang menjauh.
***
Malam harinya, Alice dan Mark pergi berkencan. Arthur tampak gelisah dan akhirnya ia keluar secara sembunyi-sembunyi seperti biasa saat dia hendak berburu. Namun kali ini, dia tidak sedang ingin berburu. Arthur ingin membuntuti Alice dengan menyamar memakai baju rakyat biasa. Mengenakan celana jeans butut, jaket ber-hoodie warna hitam, sepatu kets putih, topi baseball dan juga kaca mata hitam.
Alice dan Mark akhirnya sampai. Setelah memarkirkan mobil sedan silver milik Mark, keduanya turun dan melangkah bersama. Mereka menuju ke sebuah taman hiburan yang sedang memiliki event wisata kuliner aneka makanan khan Kerajaan New Silk.
Alice tampak senang. Dia tertawa dengan ceria seraya menyantap beberapa cemilan. Ia juga ikut bermain aneka permainan bersama Mark dan bahkan bersama anak-anak yang ia temui di taman bermain tersebut. Sampai Alice menangkap sosok yang ia kenali postur tubuhnya.
"Mark, apa kau lihat pria berjaket hitam yang menutupi kepalanya dengan hoodie itu?" bisik Alice.
"Yang ma–"
"Jangan ditengok! Kau pura-pura tidak melihatnya. Dia ada di arah jam sembilan," bisik Alice.
"Aku boleh meliriknya, kan?"
"Ya, asal jangan langsung dilihat," pinta Alice.
"Loh, bukankah itu Pangeran Arthur? Ada apa gerangan dia mengikuti kita?" bisik Mark.
"Mungkin tak ada kerjaan dan tak ada teman untuk dia temui, makanya dia mengikuti kita karena penasaran," ucap Alice menjawab dengan berbisik juga.
"Benar juga. Semenjak kecelakaan itu dia tak punya teman," lirih Mark.
"Loh, dia ke mana?" Alice terperanjat.
Alice dan Mark tak lagi mendapati sosok Arthur. Mereka menoleh ke sekeliling sampai Arthur tiba-tiba muncul mengejutkan keduanya.
"Apa kalian mencariku? Oh iya, aku dengar apa yang kalian bicarakan soal aku yang tak punya teman," ucap Arthur yang tiba-tiba muncul di belakang Mark dan Alice seraya merangkul kedua orang tersebut.
Alice dan Mark langsung tampak risih itu. Tiba-tiba, seseorang memanggil nama Alice dan membuat gadis itu menoleh.
...*****...
...To be continued ...
__ADS_1